Saturday, 20 December 2014

Cinta Nomer Tiga


       Ku dengar deru mobilnya yang perlahan memecah keheningan malam memasuki garasi kami. Meluruhkan segala perasaan khawatir yang sedari tadi menghinggapiku. Tak apa, yang terpenting sekarang, tersayangku sudah pulang ke rumah. 
       Entah sejak kapan aku sadar bahwa ada yang hilang dari kami berdua. Peluknya setiap pagi masih hangat seperti pertama kali dulu, tapi selalu ada hawa kosong yang merasuk. Kecupannya masih terlihat mesra di hadapan ayah ibu kami, namun bagiku itu semua tak akan berarti jika hatinya tak jua mengecup hatiku, lagi.
      Aku juga masih menyiapkan baju kerja nya, lengkap, serta membuatkan sarapan dan bekal untuknya, dengan menu yang sudah sangat aku hapal setiap harinya. Ya, ia selalu minta pepes tahu di hari Senin, nasi goreng seafood untuk hari selasa, sayur asem yang menurutnya paling manis sedunia hanya karena aku yang memasaknya, di hari Rabu, Kamis biasanya ia minta dibuatkan sambel goreng tempe bersama telur balado kesukaannya. Karena Jumat ia memiliki waktu istirahat yang cukup panjang, biasanya ia membeli makan di luar. Lalu Sabtu dan Minggu ia akan memanjakanku seharian, giliran ia yang menuruti kemauanku di dua hari itu, dengan dalih apresiasinya untukku selama seminggu karena telah menjadi koki terhebat di dunia-nya. Indah? Iya, memang indah.
        Semua bermula ketika aku memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerjaku untuk satu tahun ke depan. Ku akui memang ini salah ku tak mendiskusikannya terlebih dahulu dengannya. Ku pikir dia akan menyetujuinya karena dia tahu sekali bahwa jika ada istilah cinta ke 4, maka pekerjaanku lah yang akan menduduki peringkat 4, setelah Tuhan, orangtua, dan dia tentunya.
      Ternyata aku salah, aku ingat beberapa minggu lalu saat hari ulangtahunku tiba, seperti kebiasaan kami dari pacaran dulu, kami merayakannya dengan makan malam. Yang spesial malam itu adalah ketika tiba-tiba waiter muncul dengan nampan di tangan. Ketika nampan itu sampai di meja, ku buka penutupnya dan kudapati amplop berisikan tiket liburan. Bosnia and Herzegovina. Ia tahu bahwa aku dari dulu memimpikan untuk bisa ke negara yang menurutku namanya indah tersebut. Aku senang bukan kepalang saat itu, karena aku sungguh tak menyangka, dengan waktu kerjanya yang gila itu, ia masih sempat memikirkan ini semua.
    Kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa hari ternyata, setelah ia tahu bahwa aku telah menandatangani kontrak kerja terbaruku. Ia lupa bahwa kontrakku habis bulan ini, ia pikir masih bulan depan sehingga ia memang belum sempat membahasnya. Begitu katanya. Beberapa hari setelah tiket di tangan ku jualah aku mendapat tugas dari kantor untuk mengecek proyek kami yang ada di luar kota. Sialnya, hari keberangkatanku ke dua acara sakral itu, sama.
      Aku berusaha keras membujuk bos ku untuk menggantikanku dengan orang lain saja. Berbagai alasan mulai dari yang masuk akal, sampai yang tak amsuk akal sekalipun aku gelontorkan. Tetap tak mengubah keputusan bos ku yang memang terkenal strict itu. Ia sungguh tak mau tau apa yang akan aku lakukan pada tanggal tersebut. Yang ia tahu hanyalah aku berada di bandara dan berangkat ke kota tujuanku pada hari tersebut.
     Gosh! Akhirnya aku berada di kota tersebut selama beberapa hari. Selama beberapa hari itu pulalah kutinggalkan separuh jiwaku di Jakarta. Aku tahu aku sudah sangat mengecewakannya. Aku tahu bahwa dari dulu ia sudah memintaku untuk mengurangi pekerjaan-pekerjaanku. Sungguh aku juga tak ingin ini terjadi.
     Mungkin ini terdengar konyol karena kami saling hirau hanya karena masalah ini. Tidak, ini bukan masalah tiket, atau negara yang namanya indah itu, bukan. Kau tahu rasanya mengecewakan orang yang kau tahu sangat menyayangimu? Yang sangat ingin sekali mewujudkan impianmu? Yang dengan tulus membahagiakanmu? Aku merasa orang paling egois di dunia ini karena aku lebih mementingkan cintaku yang nomer 4 dibanding cinta nomer tigaku. Tapi satu yang harus kamu tahu, sayangku, aku sungguh sangat menyesal, aku tahu cinta itu masih ada bukan? kubiarkan diriku larut dalam hukummu, karena aku tahu keegoisan seperti yang aku lakukan ini hanya akan luruh dengan tamparan keras, bernama cinta. Sekalipun dalam hiraumu, aku tau terselip cinta di sana. Aku... cinta kamu, sayang.  

Wednesday, 22 October 2014

Berteman Bintang


        Sudah beberapa hari ruangan di sudut sana kosong. Yang punya sedang menikmati hari. ah ya, kau tau? Hari-harinya begitu indah beberapa hari terakhir. Ia baru saja menyadari bahwa ternyata masih ada bintang di atas sana. Sang empunya baru menyadari bahwa balon-balon tipis nan rapuh yang terbuat dari bulir sabun itu terlalu sayang untuk dilewatkan. 
        Ya, seminggu belakangan ini, setiap sepulang kuliah, ia selalu ke tempat itu. Hanya untuk sekedar meniup balon sabun dan menikmati senja bersama terbenamnya matahari kemerahan. ah, rasanya seperti kuning telur yang menggemaskan. Lalu, beberapa saat kemudian tibalah waktunya ia menatap langit dan menghitung bintang-bintang di atas sana. Ternyata bintang masih ada, ia masih terlihat biru dan menyenangkan, serta kerlipnya yang menenangkan. Ke mana saja ia? Terlalu sibuk dengan kepedihan hati. 
        Kembali ke balon sabun, kalau saja dari dulu ia tahu bahwa hanya dengan meniup-niup sedotan ini bisa menghasilkan kebahagiaan tiada tara dan meluruhkan kepedihaan, ia tentu tak perlu semenyedihkan ini.

         Sekarang ia tersadar, tak semua kebahagiaan lahir dari hal yang besar. Dan baginya kini, bahagianya cukup dengan balon sabun dan berteman bintang. 

Tuesday, 21 October 2014

Sudah Bukan Kau

Sudah bukan kau,
Pagiku riuh sekarang
Riuh oleh sepi yang kutanam sendiri

Dulu tak ada hal seindah pagiku
Dulu.
Saat jarak rindu masih terlalu dekat untuk terasa
Walau mungkin hanya satu perindu

Menerbangkan rindu sampai ke langit tak terhingga,
Itu yang si perindu lakukan sekarang

Rindunya akan melayang-layang di atas sana
Dibiarkan sesiapa yang akan menyimpannya
Karena rindunya tak bertuan

Dan karena Tuan sudah terlalu sibuk sekarang.

Wednesday, 8 October 2014

Gonna Burn

This is not about with whom u finally end up. I was just too blind to see that that was a fake. All the words u were tryin to say, or the way you did to convince me that it was nothing. I know I hv no right to blame or doin sth bad to u but I was just... cant fake being okay. Maybe this is the time where I put all my hatred, even I know I shudnt do this but I, just wanna set my self free. Bc it is hard to heal all these things with you around me. I Dont wanna fall into ur another gravity, I gotta admit this: hate the people u love is kinda hardest thing to do. I might let the love in the air or let it burns with sunshine if we are 26374849495 kilometers apart. But we have 0 kilometer darling, thats the fckest thing I ever had. That is why I collect all the hatred, however the way it is. All I wanna do is get a lil hatred on you. And set my self free...

Friday, 3 October 2014

I Got a War in My Mind

You cant please everyone right? when everything becomes so clear in the end, and you start realize that something too much is not good at all. sometimes, when you gonna make  some move, wanna put it down, wanna throw them, all you can do is... cant. You cant because the other side of ur heart always screaming why u r so weak? U have to try more! Dont u remember how much adam sandler tryin to made lucy realize that there is sth between them. And after all, u start it again and again. And also, hurt, again.
Mind. That hurts u. Someone said that brain keeping us from broken heart, but it just... seems doesnt work at me. Bc the more i use my brain the more i hurt myself myheart even mymind. Only if I can let this easily. I mean, dont take this shit seriously, do not overthinking about it, do not care all the senseless guy hs done, only if I can. Oh God. Now I start to believe that everything is better when u act dont care. But how??? Am I sound like a pathetic girl who beg him back to the old? Yes I am. How I cud be so shit like this. I supposed to be do not write this and act like im okay and saying hi or calling him or smile at him everytime we bump, but I just cant fake being okay.

Yeah it is right that the worst battle is between what u r feeling inside and what u realize/know. It has been happen to me zillion time. Im battling with dream and realita. I got a war in my mind. Always.

well, you take the game, douche, let s play.  If u r thinking that u r the most evil you r wrong, bc nobody knows what happen next right? Who knows that this pathetic girl is the most evil in the world?  Who knows. So lets play our game.

Sunday, 28 September 2014

Never be

Even if the time stops ticking
Even if the blue turns yellow
Till the cole burns into red
Flowers bloom then die
People come and go, but
There is a thing that everlasting frozen
You, me, and feelings.

Sugar Honey Pumpkin Pie

Sugar honey pumpkin pie
Would you be my sweetener as sugar and honey do?
Then sweeten our life in every single things

I will bake you our pumpkin pie
Let's have a sit and enjoy our sweet morning

You will always be my baby,
Sugar honey pumpkin pie.

Tuesday, 23 September 2014

Mungkin Masih

Bukankah kita sudah sepakat?
Ini bukan apa-apa.

Sudah sampai aku mendengar
Tanpa terlukai

Sudah sampai kau mendengar
Tanpa terbebani, mungkin.

Tapi tetap saja kau yang setiap pagi ku nanti

Derap langkah lembutmu yang membangunkanku

Beberapa kata singkat yang melayangkanku

Damainya hatiku di pelukmu, serta

Tatap dalam matamu yang jerumuskanku

Kembali ke rasa.

Tuesday, 2 September 2014

Mon Chèri

Karena kau terlalu manis.
Entah harus bagaimana lagi aku lukiskan

Rasanya berjuta kata pun tak akan mampu

Yang ku mampu hanyalah bersandar padamu, seraya mendengar detak jantung kita yang bersahutan, semoga bertautan.

Yang ku mampu hanyalah menelusup lorong mata indahmu, dan berlirih apa yang kurasa.

Yang ku mampu hanyalah menyimpan aroma tubuhmu, untuk kemudian ku ciumi kala ku merindu.

Karenanya kau kutunggu, setiap pagiku lewat, dan aku menangkap bayangmu, semoga kau tetap di sana.

Pagiku, Selamanya

Kau selalu pagi
Yang mempagikan keindahan

Karena aku terlalu cinta pagiku
Bahkan pada setiap derap langkahmu di balik pintu

Semakin hari semakin kau ruahkan
Keindahan yang tak orang lain punya

Pagiku indah senyumku rekah
Mendengar percik air dari ruangmu

Jantung ini melompat tak karuan, melihat kau dan bidangmu yang berlalu dengan terlalu anggun

Aku ingin pagiku seperti ini
Indah, selamanya.

Saturday, 23 August 2014

Kalau Saja

Rasanya aku tidak ingin pernah mengenal dengan yang namanya cinta.
Rasanya walau aku sering bersama, tetap tak akan aku ketahui akan lari ke mana cinta.

Akankah lari bersamaku, lari duluankah, atau tertinggal di belakang sana, jauh.

Kalau bisa sedikit saja aku mengenyahkan segala gundah dan kegamangan karnanya, kalau saja aku bisa sedikit rasional di hadapannya.

Kalau saja hatiku percaya bahwa ini semua hanya hal konyol yang tidak penting untuk dipikirkan sedemikian rupa...kalau saja.

Monday, 18 August 2014

Apa-apa

Kadang aku bingung,
untuk apa butuh "apa-apa" ketika
dengan bukan apa-apa pun kita bahagia

kadang aku bingung, 
kenapa harus ada apa-apa

kenapa hanya karena apa-apa semua runyam
kenapa dengan apa-apa hati terbolak-balik

Thursday, 7 August 2014

Mencari Izin

Sempatkan aku menari-nari dipikirmu
Sempatkan aku berlari di ruang mimpimu
Sempatkan aku menggelitik hatimu
Sempatkan hatimu tergelisahiku

izinkan aku mengganggu pikirmu
Izinkan langkah ini perlahan menepi di sudut hati
Yang kemudian terjajari langkahmu mengitari isi hati

Tempatkan aku di dasar hati. Aku tak apa.
Tempatkan aku di ujung mata indahmu biar kau ku perlihatkan indah dunia
Tempatkan aku di mimpi dan pikirmu, aku ingin mengganggumu seperti kau menggangguku

Sempatkan dirimu, menulis ijin, di mana hati ini kan di tempatkan.

Saturday, 19 July 2014

Mencari Rindu,

Hei rasa rindu, rindukah menghinggapiku? Iya, sepertinya aku kangen rindu. Aku lupa bentukmu, sekarang tambah gemuk atau kurus?

Hei rindu, apa kamu masih suka tidak sabaran? Masih sering panik? Was-was? Susah makan dan tidur? Sudah pergi ke dokter belum?

Hei rindu, banyak yang merindu, kamu, sebal yang mencandu. Datanglah terburu-buru

Tapi rindu biasanya datang sepaket dengan sang Adam, apa kalian sudah bertemu? Jika sudah, cepatlah kalian menujuku, nanti kita main bertiga

Rindu, kata temanku kamu sekarang tergeletak, tak bergerak

Kamu ada di mana? Aku mau jenguk! Aku mau merawatmu

Rindu itu nampak ketika ada jarak. Rindu itu candu kala tak bertemu. Rindu itu semu kala terbatas ruang waktu

Rindu itu kamu.
Rindu juga bernafas, apa kau tahu?

-Sadgenic-

Thursday, 17 July 2014

A Tree is You

A portion of your soul has been entwined with mine. A gentle kind of togetherness, while separately we stand.

Menjauh, dan menjauh. Semakin kau tumbuh semakin kau jauh. Dekat, namun tak bersatu, beriringan di kesunyian. Terbelai angin, yang membuatmu kadang mendekat, namun tak jarang jua menjauh. Apakah kita akan tetap seperti ini? Jangan seperti pohon-pohon ini. Jangan.

Tuesday, 8 July 2014

Delusi Sempurna

Pagiku sempurna
Karena kau lah Pagiku.
Malamku ikut.
Sudah tentu kau
Seperti matahari yang akhirnya bertemu bulan
Seperti musang kecil yang berhasil
Mendapat buruan pertamanya
Seperti ombak yang mengabarkan pasir pantai tentang bahagia
Seperti dua ekor merpati yang bercumbu di pucuk tertinggi akasia
Seperti itulah aku mendengar suaramu.
Karena sempurna adalah kau,
Yang mengisi setiap sepi yang menyergap.
Kemudian aku terbangun terbelai angin
Suara itu hilang.
Ia masih di sana.
Mungkin lupa tuk kembali
Pagiku masih sepi
Malamku tetap sunyi
Ia hanya delusi.

Monday, 7 July 2014

Di Sore yang Merindu

Tiba-tiba aku merindumu
Sore yang mempertemukan hari dengan gelap,
Ke mana sore ku?

Tiba-tiba aku merindumu
dengan segala jenis senyum  merekah
yang memperlihatkan deretan putihmu yang terjerat
seperti harapanku,
tentang sore.

setiap aku menjerang fajar
aku ingin cepat menyorekannya
demi kamu

Tak biasa nya aku merindu sore
karena ada siang yang mengelabuiku

Tapi siangku pun pergi
Hingga ternyata aku lupa cara menerik

Aku nyaris layu, lama tak bersinar
Dahan-Dahan rapuh pun sanggup menopangku
yang kering akan asa

Lalu sore itu datang.
ya, kau, soreku. 
yang mempertemukan langit hari dan maLam.

mengobati hati Yang sudah lama tak bersinar. 


Di senja yang merindukanmu

Wednesday, 25 June 2014

Sudah Sampai Aku

Sudah sampai aku tak sanggup membenci

Sudah sampai aku ingin lepas
Sudah sampai aku melupa

Sudah sampai aku tak ingat
Bagaimana rasanya menyecap indah bersamamu

Sampai aku tak peduli
Sampai hati ini membatu tak terkikis

Sudah sampai pada kesadaranku,
Tentang takdir yang berkata

Kita sekedar bersama, bukan bersatu.

Friday, 20 June 2014

Biar Aku, Jangan Sampai

Biar aku saja yang sendiri
Menatap tegapmu
biar aku saja yang tergerus
tanpa kau yang harus merasa
biar aku saja yang menangis
biar aku saja.

jangan sampai aku jengah
jangan sampai. 
bukan aku yang menyesal, kau
bukan aku yang merasa, lagi-lagi kau.

sudah kuperingatkan bukan. 

Aku Ingin

Aku masih belum bisa.
Sepertinya tidak akan bisa. 
Jangan sampai aku mengutuk perasaanku sendiri,
 karena perasaan ini Tuhan yang cipta.
Aku tak mau melawan Tuhan.
 Tapi aku tak tahan.

Aku ingin melawan arus, 
namun ombak selalu menempatku di tempat semula
Terhempas pada titik yang telah menjelma menjadi sebuah kegetiran.

Tidak seharusnya aku ingin. 

Friday, 13 June 2014

I Almost Do

Terkadang hidup memaksa kita untuk memilih hal terberat sekalipun: menghindari cinta yang tidak cinta. Tapi percayalah semakin kau menghindarkan dirimu dari belenggunya, semakin jua ia mengikatmu dalam belenggu kepedihan. Rumit bukan? 

Ketika kau memutuskan untuk berhenti berputar pada dunianya, sesungguhnya itulah titik terberat di mana kejujuran dan keteguhan hatimu diuji. Mau terus, atau cukup sampai di sini? Akan selalu ada pergulatan antara sisi hatimu yang berkata kau harus menyudahi ini semua, dan sisi lain yang mengejekmu seolah berkata "selemah itukah kalian sehingga harus sampai di sini?" 

Ketika jurus menghilang menjadi satu-satunya cara yang kau anggap paling manjur. Ya, paling manjur untuk menempatkan dirimu pada titik kehancuran. Terkadang kau bangga dapat menghilang dari pandangnya walau sekejap, sembari membayangkan apakah bayangmu sempat mampir di pikirannya. Terkadang kau juga sedih mengapa kau tega membiarkan hatimu tergerus. Membiarkan lamunan-lamunan tentang kau dan dia melayang bebas di pikiranmu. 

Percayalah, ini tidak mudah. Tapi aku akan tetap menghilang, sampai entah kapan. oh, setidaknya sampai Tuhan benar-benar meniupkan keikhlasan pada hatiku untuk melepas ini semua. Namun bolehkah jika aku masih berharap Tuhan akan meniupkan setitik keajaibannya untuk hatimu, dan hatiku? Tidak apa-apa bukan?

Thursday, 5 June 2014

I dont.

There is only your laugh, from your kingdom.

And there is only your warmest smile, behind the curtain.

There are no steps outside my window.
Or Im just pretending do not hear. Idk.

There is no smell. Your smell, even  I am in the nearest place.

There are no playful conversations.
It has run dry.
Since that moment.

I almost do.
But I dont.
I win
And hurt.

All I know is I do not know
How to be sth u miss.

Monday, 2 June 2014

Done

Hatiku bergetar mendengar diriku sendiri yang mencoba mengucap janji. Janji untuk tidak lagi. Berhenti. Keluar. Dan segalah kata yang mengisyaratkan pergi. Jikalau setiap orang yang melanggar janji akan berakhir di balik jeruji, aku pasti akan jadi salah satu dari sekian banyak orang itu. 

Kau mungkin telah mencap ku sebagai orang paling tak tau diri di dunia ini. Tapi sungguh, andai aku bisa. Aku tak akan membiarkan diriku begitu saja hanyut dalam kebengisanmu. 

Entah siapa yang aku lihat setiap hari di rumah, dengan siapa yang aku lihat di luar sana.Berbeda.  Aku seperti tak mengenalmu. Yang mana yang benar dirimu. Atau aku berhalusinasi tapi aku rasa tidak.

Dulu aku masih percaya ini semua pertanda dari Tuhan, bahwa aku harus bertahan. Namun sekarang Tuhan membalik pertanda itu, dan seolah berkata aku harus pergi. Dan aku memang harus pergi.

Aku sudah biasa melihatmu dalam gelap malam, namun tidak malam itu, seakan ia adalah petunjuk terakhir bagiku. Aku tak mampu menemukanmu dalam gelap. Padahal kau di depanku. Bahkan sekedar melihat siluetmu saja aku tak mampu. Semakin aku menajamkan mata, semakin aku yakin Tuhan tak mengijinkan ku, kita.  

Sekarang, seakan semua hal yang aku lakukan salah. Tak ada artinya. Bagaimana hal-hal yang sama itu bisa berbeda, dulu mereka bisa sangat begitu manis, namun sekarang tidak. Sama halnya seperti mu.

Say something, I am giving up on you...

Thursday, 29 May 2014

ENNOVE: Rindu

ENNOVE: Rindu:      Aku mengganti film yang aku tonton, dan karena ada satu orang lagi yang ikut menonton, maka aku menggeser diriku pada kursi sebelahnya...

Poem Stories

Tuesday, 27 May 2014

Rindu

     Aku mengganti film yang aku tonton, dan karena ada satu orang lagi yang ikut menonton, maka aku menggeser diriku pada kursi sebelahnya. Sial!  Tetiba aku tersadar. Bahwa aku ada di tempat yang salah. Bau mu yang tiba-tiba menelusup merusak fokusku pada film yang daritadi sedang aku tonton. Kau tau, ini film susah, dan sedari tadi aku sudah berusaha memusatkan pikiranku untuk sekedar mengerti jalan ceritanya, dan kau malah dengan mudah membuyarkannya. Tanpa ampun.
      Tanpa ampun, seperti itu pulalah ketika kau; kita, menorehkan beberapa kenangan yang mungkin sekedar angin lalu bagimu tapi cukup terlalu manis bagiku. Kau ingat bahwa waktu itu kita duduk melingkari meja marmer itu. Kau dan aku saling berhadapan, dua lainnya pun saling berhadapan. Dan kita terhanyut oleh dunia yang kita buat saat itu. Tak ada yang tau maksud kerlingan mata antara kau dan aku, tak ada yang bisa menebak arti tawa sarkas kita. Yang mereka tau kita hanya duduk saling berhadapan empat sama lain, merangkai kata guna mempertahankan percakapan yang ada. 
      Sebelum menonton film tadi, aku duduk di kursi yang sama denganmu dulu. Seakan aku bisa melihat diriku di seberangnya, yang menatap manja padamu. Aku teringat lelucon lelucon yang kita buat saat itu, tanpa mereka tau, dan aku hampir tertawa pula mengingat caramu memutar kedua bola mata karena aku tau kau tak mengerti apa yang dua orang ini bicarakan.  Seketika aku kembali pada hari itu. Di mana kita banyak menyembunyikan hal dari dua yang berhadapan lainnya. Semua percakapan yang telah terjadi seakan berebut ingin masuk otakku kata-perkata. Tidak sadarkah mereka bahwa itu akan semakin menyakitiku? 
      Dulu, dari seberang meja sana, aku menikmatimu menikmati makan siang mu. Entah lah tapi, sesederhana menu yang ku buat untukmu, sesederhana itu pulalah membuatmu cukup lahap menyantapnya, dan sesederhana itu pulalah meletakkan diriku dalam kebahagiaan. Tak ada yang lebih indah dari menyaksikan ekspresi pertamamu ketika makanan-makanan itu mulai memasuki kerongkonganmu. Tak ada kata yang lebih indah daripada "kau membuatnya sendiri? aku tak menyangka" . dan semudah itulah diriku hanyut dalam ke-alay-an itu.
     Dan sekarang kau tau? bahkan tanpa sadar pun aku duduk di kursimu dulu, di kursi yang sama saat kita menonton film dari bintang yang sangat aku gilai. Sekarang pun aku menonton film itu lagi, tapi bukan denganmu. If i could say, you are my worst distraction. Sudah aku bilang bukan, bahwa aku susah payah meletakkan fokusku pada film ini dan baumu yang tiba-tiba menelusup membuyarkan konsentrasiku seketika. 
     Aku kembali merasa dapat melihat diriku di samping kursi yang aku tempati. aku ingat betapa saat itu adalah saat-saat paling indah dalam hidupku.My sleepyhead man was just starting his day after the long hard week, and when he opened his eyes there were foods on the table. What a perfect day. Dan sekali lagi Tuhan mengijinkanku menikmatimu menikmati makananku. 
    Oke, ini sedikit berlebihan. Tapi, apa yang lebih aman, di saat hujan deras, angin kencang, mati lampu, dan tak ada orang saat itu, selain berada di samping orang yang kau sayangi, dan menemaninya menghabiskan makan siangnya yang sebenarnya sudah sangat telat itu. Bisa saja setelah itu kau kembali ke kamar dan menghabiskan tumpukan-tumpukan dvd mu seperti biasa. But you didnt. Kau tetap duduk di sampingku, dan menghabiskan sisa sore yang mengerikan itu dengan menonton film yang kau-bilang-tak-akan-pernah-menontonnya- karena kau tak suka pemain utamanya-yang-sungguh-sangat-aku-gilai. 
     Semudah itulah kau menarik duniaku. Semudah aku yang tiba-tiba kehilangan seluruh energiku ketika di sampingmu. Yang bisa aku lakukan hanyalah bersandar pada dada bidangmu, sambil berpura-pura menikmati filmku, namun sebenarnya aku menikmati setiap detak jantungmu yang begitu dekat denganku saat itu. Meresapi aroma tubuhmu yang seakan lalu tertumpuk dalam diriku, dan keluar perlahan  saat aku merindumu, seperti saat ini. 
        Aku tak mengerti maksud Tuhan membawa ku kembali pada hal-hal kecil tentangmu. Yang aku tau, aku hampir gila karena bermaksud mengulangnya kembali. Terlalu banyak skenario yang ingin aku wujudkan, dan kau, yah, sedikit banyak membantunya. Harusnya tidak! 
      

Thursday, 22 May 2014

Create Your Life!

      Have you ever felt that you are the luckiest person in the world? or do you ever feel that you are the saddest person in this whole world? Have you ever imagined something and it came true? That is all because of what you think, what you feel, and what you imagine. But, how come?
      How is life going for you at the moment? Are you getting the results that you really want? No? Did you failed? But do you know why? It is because you only attract what you think you deserve. We do not know what we really think we worth. Many people doubt in their capability. They think that they can not do this and that as well as other people do. They doubt that they cannot go through things well. They often think about failure and never think; what if I can? Sometimes, we do the things if we simply have to look at what we have in live and know that it is a reflection of what we consider to be enough. All you have to do is think that you really can. Believe in your self, think that you deserve the best results you really want. We may seek a better something, and yes, you have to seek. Because what you think is what you attract.
      "Do you ever feel like breaking down, do you ever feel like out of place, like somehow you just do not belong, and no one understand you" some lyric from Simple Plan that often really happened in our life. Or, many people feel that way. They feel that they are the saddest person, the most unlucky person in this whole world. When you feel those are, you are, going to be just like that. You create your own paths. 
      You often feel that you are the worst people, yes you are. If you think that you are the happiest person, yes, you are. You create your own story. So, why do not you create a happy ending? All you have to do is just think positive. One thing that you have to realize is that every problem in this world always and always has two sides, black and white, positive and negative. So why do not you be happy? Because happiness only comes if you pick them, choose them, and stand for them. At least, it will not make your heart feels restless. Your life is too precious to only be filled with sad stories, hard feelings, pain, and other bad things. You only live once, make a lot of beautiful, wonderful, miracle, unbelievable, and unforgettable stories instead of just being invisible. Instead of just being lonely and sad. Instead of just locking your self in your room. Because what you feel, is what you create. 
       Have you ever heard that before marrying Brad Pitt, Jennifer Anniston was a huge fans of him. She had a very big poster of him on her backdoor and every time she woke up in the morning, she said " I'll marry this guy someday" and now, you all know, that Jenn's dream has come true. She married with her dream guy. No, it is not about who the guy you will marry in the future, but this is about a dream. Jennifer imagined that she lives with him, and it come true. It is easier said than done in fact, but, if you believe the power of dream, you will get what you want. All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them.
      Like when you join a pageant competition, and you really really want to take the first place, you have to make a big effort, you have to do the hard work. Make yourself good on the catwalk, enrich your knowledge, and upgrade your public speaking ability. God is watching you, then when He thinks you deserve it, and.. voila! You take the first place. As you really want. Imagine here does not mean just sit and watch God works, no, a dream does not become reality through ma gic, it takes sweat, determination, and hard work. That is why to imagine something is important, but, remember that you also have to do something to make your imagination comes true. Because what you imagine, is what you become. 
    Well, that is why it is important to manage yourself well. All is well, depending on how you face the. Depends on what you think, what you feel, and what you imagine. Because they will affect what you attract, what you create, and what you become. Because life is based on whether you choose to be happy or not. You own your path :) 
      

pict source: google


Monday, 19 May 2014

Kemesraan yang Bermesraan

Bau bau yang bermesraan, kian mendekat, kian merasuk dalam jiwa yang hampir kosong.
Bau bau kemesraan, terus mendekat, menempel di setiap sudut-sudut hidup sang empunya.
Terus mendekat, ia terus mendekat, ia berada di dalam sini. Di hati terdalam.
Tak cukup hanya dengan menghirup nya dengan satu helaan nafas saja. 
Tak akan pernah cukup.
Semakin di hela, semakin susah ia tersentuh.

Bau bau yang bermesraan, sudikah kau berhenti, menelusup sanubari yang tak pasti.
Kau memang indah, namun kau tak ayal jualah yang merusak. 

Aku sedih
Bau bau yang bermesraan, tak kunjung sirna
Bau bau kemesraan, terus mendekat. Tak akan berhenti.

Dan aku semakin benci, bau bau kemesraan yang bermesraan. 



Saturday, 10 May 2014

Mengapa Butuh Seribu Tahun?

Kupu-kupu kecil cantik...
sungguh, kau tak perlu tahu apa yang barusan terjadi di rumah ini. Semua yang kamu lihat hari ini dan kemarin, adalah nyata. Mungkin kepak sayapmu yang sanggup beratus kali dalam sepersekian detik itu isyarat ketidaksetujuanmu. Kamu tetap menuntut untuk tahu. 

Kupu-kupu kecil yang selalu ingin tahu...
terkadang ada hal yang tak kau harus tahu. Ada hal yang hanya boleh kau lihat bahagianya saja.  Seperti dua insan yang akhirnya menyatukan dua gelombang mekaniknya yang selama ini terombang-ambing di udara luas. 

Seperti pagi ini yang kau dapati dengan kemesraan dua insan yang telah seribu tahun beku dalam keegoisannya masing-masing. Bercumbu mesra sebelum akhirnya sang wanita melepas prianya untuk sekedar melepas penat di akhir pekan. 

Penantian seribu tahun itu terbayar sudah, seiring sentuhan lembut sang pria pagi itu. Sang wanita kaget, tapi detik itulah ia tahu bahwa mereka masih baik-baik saja. Untuk itulah ia sekarang berada dalam peluknya. Menikmati aroma tubuh prianya yang telah lama ia nantikan. Ah, betapa ia sangat merindukan bau itu. Betapa ia merindukan menikmati segala keindahannya dari jarak sepersekian milisenti. 

Kupu-kupu kecil yang selalu ingin terbang tinggi..
Kau mungkin terlalu sesak untuk terus berada di tempat ini, makanya kau selalu berusaha mengatur-atur rencana untuk segera terbang tinggi dan menjulurkan lidahmu dari ketinggian sana untuk tempat ini, seolah berkata, hey, aku bisa lepas jua dari sini.

Tapi kupu-kupu kecil...
percayalah kebahagiaan itu ada karena kita yang cipta. Kita tidak bisa menabung bahagia bukan, karena kita hidup di masa sekarang. Bahagialah untuk sekarang, karena kau tak akan tahu apa yang terjadi di luar sana. Jangan seperti dua insan tadi yang harus menunggu seribu tahun lamanya. 

Mungkin sang pria terlalu takut mencoba, ia tak ingin wanitanya semakin tersakiti jika ia terus mengganggunya. Itulah mengapa ia menghilang. 
Begitu juga sang wanita, yang percaya bahwa sang pria sudah tak ingin mempertahankannya, dan kemudian memutuskan untuk tak mengenal sang pria. 

Akhirnya, membeku lah mereka, terlarut dalam keegoisan masing-masing. Mereka lupa caranya bahagia. Mereka sibuk mengatur cara bagaimana tak bertatap satu sama lain. 

Tapi, ada satu yang tak bisa mereka atur walau sudah sekuat tenaga mereka usahakan. Hati.
Dan pagi ini adalah buktinya, bukti bahwa Hati lah satu-satunya bagian dari mereka yang tidak ikut beku, yang pada akhirnya mencairkan seluruh kebekuan dan meluruhkan segala keegoisan, seiring pelukan rindu sang pria, yang mendamba tugasnya sebagai sang pelindung, selembut tatapan sang wanita yang seolah berkata, aku masih milikmu. Semanja sang pria kepada sang wanita, yang menjadi bukti bahwa mereka masih sangat saling membutuhkan. Mereka akan saling terus ketergantungan. Tak peduli berapa ratus helai ganja yang terus merusak kinerja akal sehat mereka, mereka akan terus seperti itu. Saling mengasihi dan terus mengasihi.

Mengapa butuh seribu tahun hanya untuk bahagia?

Bahagiaku, Kamu.

Sampai hari ini, sampai detik ini berlalu, aku masih mengira bahwa aku akan dapat menjalani hidupku dengan bahagia, tanpa kamu. Ku kira aku akan dengan mudah berjalan menghirup udara pagi itu sendiri, nyatanya, kau bahkan dengan mudahnya menyelipkan jari-jarimu di sela-selaku dan kita kembali bersama-sama menikmati pagi. Nyatanya, aku masih tak bisa melepaskan pandanganku yang sejurus seiring menghilangnya bayangmu. Sebelumnya aku menganggap bahwa aku sudah cukup kuat untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar tembokku, tanpa adanya pengawasan dari sang ego. Tapi aku benar-benar salah. Tak ada gunanya aku berusaha menepis semua tentangmu, jika Tuhan tak menginginkannya. Jika ia setuju, sudah sejak pertama aku mengikrarkan diriku bahwa aku tak akan berurusan lagi denganmu, ia akan mengikat ikrar itu. Tapi nyatanya, bahagiaku kamu. 

Aku sempat terjebak dalam permainan bodohku sendiri, yang berusaha sok kuat dan sok tegar tapi jantungku tetap saja mencelos melihatmu. Sekarang aku tersadar bahwa jalan menuju kebahagiaan itu tak serumit aku yang selalu berusaha hidup tanpa bayangmu. Ku kira hidupku akan lebih indah ketika tak ada lagi bayangmu yang membekas. Tapi aku salah. Karena bahagiaku kamu. Sesimpel apapun itu. Semudah aku memutuskan untuk meruntuhkan tembok itu dalam sepersekian detik Ya. Semudah itu. 

Bahagiaku kamu, ketika melihatmu tersenyum padaku. Aku tak peduli, tapi kau memang menetas senyummu untukku bukan? Bahagiaku, kamu, mendengar keluh kesahmu tentang berat badaanmu yang terus menaik. Seperti telah kehilangan suaramu untuk seribu tahun lamanya. Seperti mendapat cara baru untuk bernafas, yang lalu mengesampingkan udara. Kaulah nafasku. Melihatmu menyentuh setiap titik imajiku, melihatmu menatapku setelah sejuta tahun lamanya, aku hidup. Jadi begini rasanya terlahir kembali? Seakan kemarin aku entah berada di bagian dunia mana. Kehilangan arah, namun sekarang, semudah itukah mengembalikan semua kesakitan itu? 

Kalau kau berkata kau bingung, aku lebih bingung. Aku tak tau mengapa aku masih terus bertahan bersama kesakitan ini sementara sebelah hatiku bersorak gembira. Aku tak kenal diriku sendiri. Karena aku terlalu bahagia, dan itu lagi lagi karenamu.

Bagaimana bisa kemarin aku bagaikan puing puing sampah dan bangkai yang tak berarti. Teronggok begitu saja, layu walau terairi, hitam walau terwarnai, berdiri walau goyah, dan tersenyum walau payah. Sedihku bagai tak berujung.  Aku bagai mati. Seringkali ketika angin bertiup menghempaskan kuning dedaunan, seseringkali itupula aku ingin menghempaskan diriku bersamanya dan tak pernah kembali, seringkali aku mengunci senyum hanya karena aku takut tak dapat jatah bahagia lagi, aku bisa gila, menabung senyum untuk kemudian hari, yang tak kutau kapan datangnya. Bagaimana aku bisa hidup semenyedihkan itu? 

Ternyata yang terhempas bukan diriku, angin tentu tak akan kuat bukan, mneghempas tubuh beratku ini. Angin menghempas seluruh egoku. Membiarkannya luruh, dan lahir kembali dengan nama kebahagiaan. Mungkin ia tak tega melihatku terlalu menyedihkan. ah, aku cinta kau! hari ini aku bahagia, sebahagia kau yang akhirnya mendapat apa yang kau inginkan, sebahagia kau mendengar nyanyian itu lagi, sebahagia kau mendapati rambutmu tumbuh panjang kembali entah berapa milisenti, sebahagia kau menatap ku, entah walau itu hanya perasaanku, tapi aku bahagia, karenamu. Aku terlalu menyayang egoku. Sekali lagi aku salah, aku pikir ego akan membahagiakanku, tapi ternyata, bahagia ku, kamu.  

Tuesday, 6 May 2014

Ruang Luka

           Aku hanya sedih karena aku tak dapat memberikan senyum itu. Senyum yang hanya memiliki satu arti, dan pasti. Bagaimana bisa seseorang tetap tersenyum bersamaan dengan perihnya. Teriris di saat kau menatapnya, namun senyuman tetap tersungging, melukis indah baik di wajahmu dan wajahnya. Jikalau aku bisa memilih, aku tak akan membiarkan diriku terhanyut dan hancur bersamaan dengan hancurnya senyuman, namun aku bisa apa jika Tuhan. 
          Sungguh, baru kali ini aku tersenyum sambil sebelah hatiku mengaduh perih. Ku kira aku baru saja merasakan apa yang orang-orang sering bilang dengan sok tegar. Kalau kau bertanya apa ada yang salah dengan hatiku, ya, jelas ada. Karena baru kali ini aku benar-benar merasa perih. Mungkin aku berlebihan, tapi bisa kau bayangkan bagaimana lukamu yang masih segar itu harus dikucuri perasan air jeruk nipis. 
         Kau adalah orang yang dapat membuatku menangis dan tersenyum dalam satu waktu. Bagaimana bisa kau menjadi sumber kebahagiaan sekaligus sumber kahancuran bagi jiwa yang rapuh ini. Bahkan ketika aku menebar senyum, sebenarnya aku menebar kehancuran jua bagi diriku sendiri. Mengapa aku terlalu bodoh untuk terus terjebak dalam permainan yang aku ciptakan sendiri.
         Mungkin dulu tak seharusnya aku mengajakmu bermain-main di padang ilalang ini. Terlalu riskan. Apalagi bagi seorang wanita rapuh seperti aku ini. Menyadari kebodohanku yang mengajakmu menjelajah setiap sudut padang ilalang, yang telah berubah menjadi lautan darah. 
         Hidup kita terlalu dekat. Bahkan sangat. Kau ingat tembok itu? Aku bahkan sekarang tak yakin apakah tembok itu akan tetap berdiri kokoh, aku tak yakin tembok itu mampu melindungi pemiliknya dari serangan-serangan kekacauan yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Aku tak yakin tembok itu mampu menahanku untuk tidak berlari menghampiri kehancuranku sendiri. Mungkin ia yang kokoh itu akan roboh begitu saja, luluh lantah menelusup ke dalam tanah bersamaan dengan hancurnya ego, dan datangnya kehancuran-kehancuran yang baru. Kehancuran kali ini pasti maha dahsyat. Dan mungkin tak akan ada tembok yang sanggup menahannya. 

Monday, 5 May 2014

Berhenti


Sudah separah itukah? Sampai pada akhirnya aku harus berhenti membenci. Aku tak sanggup lagi membenci. Lalu aku berhenti. Mungkin kau bertanya-tanya apa yang salah padamu , sehingga seakan akan kita hidup di dua benua yang berbeda, berpisah entah berapa ratus mil jaraknya. oh, atau malah tak pernah terbersit sedikitpun, olehmu, tentang dinginnya siang yang hampir menyamai dingin malam di kutub sekalipun. kau tentu tak pernah berepot-repot membuat pikiran-pikiran tersebut melintas, melenggang indah melewati setiap sel-sel saraf otakmu yang terlalu brilian itu. 

Bahkan ego ku pun tak mampu mengalahkan tembok yang susah payah telah aku buat selama dua hari ini. Bagaimana bisa hatiku tetap mencelos, ketika melihat bayangmu yang melintasi padang ilalang itu, sendirian. Bagaimana aku bisa tetap menjaga jantungku untuk tetap pada tempatnya, sementara aku sendiri tak bisa mendekap dan mengikat pikiranku untuk membuatnya berhenti berlari-lari pada cerita semu yang kau tuliskan.
  Belum. Tembok itu belum sepenuhnya runtuh. Ia hanya sedikit retak. Rupanya ego masih lebih menyayangku daripada kamu, karena begitu bayangmu sirna bersamaan dengan redupnya lampu hias taman, ego segera berlari dan mendekapku, membisikkan dengan lembut bahwa aku masih punya dia, dan tak ada yang lebih baik daripada berada dalam dekapannya saat ini. Tembokku tak jadi roboh. Ia hanya retak.
 Kau tau, saat ini aku sedang memainkan peran. Peran terpenting dalam setiap jengkal hidupku. Namanya berperan pura-pura. Mungkin terdengar aneh, dan ya memang aneh. Kaulah yang membantuku mendapatkan peran itu. Wah! Betapa baik sekali kamu. Dalam peran itu, aku diharuskan berpura-pura, membohongi dunia bahwa aku adalah gadis yang paling baik baik saja di dunia ini. mengelabui setiap insan yang kutemui dengan senyum paling manis yang telah aku latih semalaman di depan kaca. Kau mau tau rahasia? Tak mudah melakukan ini pada awalnya, namun, sekarang aku sudah mahir melakukannya. Dan orang yang paling berjasa? Tentu saja kamu! Terimakasih sekali lagi karena kamu.

Aku tak pernah mencoba berlari, karena aku sangat payah dalam pelajaran berlari dulu semasa sekolah, dan aku yakin tak ada yang berubah dengan hal itu. Yang aku lakukan adalah berhenti. Menyerahkan diriku pada pihak berwajib, karena aku sadar aku telah terlalu banyak mengkonsumsi ganja. Menikmati setiap sensasi yang diberikannya. Kaulah ganja itu. Terkadang aku berpikir, kenapa Tuhan menciptakan ganja untuk kemudian dilarang peredarannya. Sama dengan halnya ketika Tuhan mengijinkan makhluknya, yaitu kamu, untuk menelusup ke dalam hati rapuhku, lalu kemudian blaah! Tak ada cahaya terang lagi setelahnya. Lalu untuk apa Tuhan mencipta rasa?

Lalu , kenapa kau masih saja berjalan sendiri, menepis banyak ilalang-ilalang pengganggu itu sendiri. Andai kau mau, akulah satu-satunya orang yang akan menemanimu melewati padang itu, kita akan menggelepar bersama di sana, menikmati indahnya musim panas, melewati musim semi, menatap langit luas sambil bercumbu dengan rumput hijau. Menikmati pijaran-pijaran bintang, yang aku kira sudah punah, beralaskan jerami hangat di temaram sinar bulan yang anggun. Seanggun cara kau menatapku, semanis kau bicara padaku. Seindah cara kau menyentuh setiap jengkal titik imajiku. Sehangat keindahan yang merusak kerja smeua saraf-saraf ku, membuatnya berlari-lari tak pada tempatnya. Semudah aku menjatuhkan diri pada  Nah! egoku mulai mendekap kembali bukan. Aku tak seharusnya membiarkan otak ku merangkai imaji imaji indah di tengah padang. Mengapa kau terlalu indah? Kau hanya terlalu indah untuk terus ku jadikan objek-objek yang terus menerus berlari lari. Kau tak lelah?
 Terkadang aku lelah, untuk selalu berlari sendiri. Sementara kau dengan anggunnya, berjalan dengan gagahnya. Kita melewati padang itu bersama. Bedanya kau perlahan, dan aku berlari. Sudah ku bilang bukan, bahwa aku sangat payah dalam hal berlari. Itu sebabnya aku berhenti. Tenaga ku tak tersisa. Hilang dan menguap, terbang bersama kapas-kapas ilalang yang rapuh itu. 

Sunday, 4 May 2014

Tuhan, Maafkan.

Ada kalanya manusia lupa, bahwa hidup tak selalu diciptakan indah. Sama seperti setiap masalah yang selalu punya dua sisi. 

ada kalanya manusia lupa, cara menghadapi masalah sepele sekalipun, karena ia stelah terbiasa hidup tenang dalam separuh hidupnya. bukan kah roda selalu berputar?

saat manusia lupa bahwa ia harus punya masalah yang akan membawanya ke kehidupan yang lebih nyata.

saat manusia tak ingat bagaimana ia harus bersikap, sekalipun untuk dirinya sendiri. 

saat ia sudah sangat terbiasa menjadi bukan apa-apa
dan blaaaah! seketika ia dituntut menjadi si-dia-yang-sedikit-sibuk

ia lupa bahwa bukan hanya dia seorang yang memiliki nasib sama.
yang memiliki cerita sama. bahkan yang mengalami banyak kegagalan-kegagalan cinta yang sama pula. ia lupa. 

yang ia tau adalah bahwa hanya dia seorang yang semenyedihkan itu. hahaha! poor you then.

kau tau, semakin banyak manusia mengeluh, semakin menderita lah ia. 
semakin ia mengutuk dirinya dengan berbagai perasaan sedih, menyayat hati, dan terkoyak sampai hancur, semakin mendekati seperti itulah ia. 

kau mungkin mencoba lari dari semua kenyataan ini, tapi untuk apa Tuhan mencipta mu jika bukan untuk dijadikan makhluknya yang tangguh. Masihkah kau tega berleha-leha atas nikmat yang Tuhan berikan, sementara kau tak membalas apapun yang telah ia berikan. 

Makhluk Tuhan macam apa kamu?





Monday, 28 April 2014

Evil, Sometimes.

I need people indeed. We will always need right? But sometimes, all you need is a space for you ,and yourself.

When everything becomes suck, when everything goes wrong. All you need is just space a looooot of time for me time. For you, to get away from the crowd.  To put your self sitting alone and listening your favourite music, without any problems. 

This might sounds selfish, but we have to be brave, to show what we are feeling, say no if it is no and say yes if it is yes. Dont mind it much. Sometimes, you have to be an evil. A scary dumpy evil that life for your own live. Why dont you put your self in a black once.lol

Sunday, 27 April 2014

Hujan Rasa

Aku ingin
Menulis lebih banyak lagi puisi
Untukmu

Aku tak peduli malam
Tak peduli kelam

Kau tetap dingin.
Dan aku hujan.

Seperti siang, yang hujan
Seakan menyayangku dan berkata
Aku turun untukmu wahai puteri.

Kau ingat bagaimana puteri mencari pangerannya?
Ia hujan karena pangeran, dan berlindung dari hujan kepada pangeran.

Dunia sungguh tak adil bagi puteri.
Ia dihujani rasa.
Yang tak jelas bentuknya.

Sang pangeran sudah terlelap
Mungkin ia lelah menjaga puteri seharian
Melindunginya dari hujan.

Ah. Hanya perasaan puteri saja mungkin.

The Jump Time

you were lost
Just yesterday.

And you are here
With me right now.

How the times jump
It jumps my heart to you

Someone said
Dont say cant
If you couldnt cant.

I am not believe that time
But now, I believe

And see how the times jump.
It s kinda disgusting
Distract by the jump time.

Thursday, 24 April 2014

Counting

It s been a day
Without ur shadows

It s been two days
I lost that smell

The words have dry
It s been three days.

It s been four days
I lost that eyes

It s been five days
For the hidden-cant-be-un-hidden

Its been six days
Since I was bring my steps above

It s been seven days
When I caught you

It s been eight hours
Im rolling my eyes above
It was dark. And quiet

It s been nine hours
I didnt meet you but him

It s been ten hours
Why you are not tired ruin ma head

It s been eleven hours
Wondering you.

It s been twelve minutes
For hearing you in the night steps

It s been thirteen minutes
You close your window and the night

It s been fourteen minutes
Since I decided to chain the words

In fifteen minutes.
And I still cant counting
How much I miss you then.

Spaces

Time .
You need.

Spaces.
Ive give.

But me,
Nothing.

Did Venus
Blow ur mind?

This land still alone
Would never be crowded

Until the spaces
Are gone.

Sunday, 20 April 2014

From the Kingdom

Hey prince!
What are you doing!

This is our kingdom!
Mmmm supposed to be.

Hey prince!
Look at to your window

Is it still dark?
As a dark chocolate.

Your highness
Im watching you

Watching you as always.
From a corner of the kingdom.

A Great Wall

It is still in the dark
When you back home.

When you back to where you belong

You are here.
With the princess.

But no!
You are not with the princess!

She is alone.
In the back of the wall.

A very great wall.
A very huge wall.
She is standing right there.
Always.

Do you know why?
Because she is tired.

She tried to break the wall.
Alone.

No one help.
Alone.

Thats why shes tired.

Abu-Abu

Kau tau rasanya terombang ambing
Di atas sebuah kapal bernama kepastian?

Pernahkah kau mencoba, menerobos semak beronak, demi sebuah harga diri?

Sudikah kau menggelepar, di padang ilalang, untuk menunggu yang tak kunjung datang?

Mampukah kau, berjalan di atas tebing curam yang kau pun tak tau akhirnya ke mana

Taukah kau bahwa warna tak hanya abu abu?

Lorong Mata

Mata itu
Tak pernah memandang lekat

Mata itu
Memandang lekat belakang.

Mata itu
Tak bersorot.

Kosong.

Sang puteri mencoba masuk
Menembus lorong lorong nya
Mencari cari sorot yang hilang.

Friday, 18 April 2014

Koyak-kan Saja

PUTERI SUNGGUH INGIN SUDAH!!!

IA SUDAH BERATUS KALI TERTOHOK KENYATAAN

IA SUDAH MENGERTI SEMUANYA

TAPI KENAPA TAK SUDAH!
PUTERI JUGA BINGUNG.

BINTANG MEMANG BELUM PUNAH

TAPI IA TERSEMBUNYI BULAN.

KALAU PUTERI SUDAH, LALU AKAN BAGAIMANA?

PANGERAN SUDAH LEBIH DULU SUDAH

LEBIH DULU MUAK.

SEKARANG,
PUTERI YANG MUAK

MUAK PADA DIRINYA YANG TAK SANGGUP SUDAH
MESKI KOYAKAN KENYATAAN SEMAKJN TERAMBANG

PADAHAL,
APA ENAKNYA TERKOYAK

TERKOYAK.
SEDIH. LELAH.
HANCUR.

LAUT.
TAK MAMPU SATUKAN KOYAKAN
YANG AMAT SANGAT KOYAK.

Tuesday, 15 April 2014

Bintang Belum Punah

Ada banyak cara
Menuju kebahagiaan

Bintang yang ku kira punah
Perlahan muncul
Mengarungi malam di langit luas

Ah.
Perasaan kemarin tak ada bintang.
Tak ada bintang. Yang biasanya paling terang sekalipun.

Tapi hari ini aku sadar
Bintang belum punah
Ia masih di sana
Masih tak dapat ku raih

Mmm
Mungkin karena ia di jaga Bulan?
Bulan tampak menakutkan malam ini
Ia posesif!
Bintangku! Dia belum punah.

Bulan menjaga
Bintang yang bersinar
Dan bertahan
Dengan caranya sendiri

Bintang Belum Punah

Ada banyak cara
Menuju kebahagiaan

Bintang yang ku kira punah
Perlahan muncul
Mengarungi malam di langit luas

Ah.
Perasaan kemarin tak ada bintang.
Tak ada bintang. Yang biasanya paling terang sekalipun.

Tapi hari ini aku sadar
Bintang belum punah
Ia masih di sana
Masih tak dapat ku raih

Mmm
Mungkin karena ia di jaga Bulan?
Bulan tampak menakutkan malam ini
Ia posesif!
Bintangku! Dia belum punah.

Bulan menjaga
Bintang yang bersinar
Dan bertahan
Dengan caranya sendiri

Puteri Serakah

Sang puteri punya dua pangeran
Yang satu dekat
Yang satu jauh

Puteri tak rela yang dekat pergi
Tapi puteri rela yang jauh bahagia
Kenapa egois?

Puteri serakah.
Padahal ia tau ini permainan susah
Padang ilalang masih melambai

Perlahan puteri sadar
Mengapa ia rela dan tidak.

Tapi susah.
Susah.
Membelot kenyataan.

Monday, 14 April 2014

Ingin Sudah

Sedetik lalu kekuatan itu datang
Dan bilang pada sang puteri.
Sudahi saja.
Akan ada aku di sini. Sudah.

Sang puteri sedih.
Tak tau harus bagaimana.
Haruskah ia tak menjaganya lagi
Ia kuatir.

Ah.
Bukannya Tuhan membuatnya menjadi pangeran yg kuat?
Tidak. Bukan dia, tapi sang puteri.

Sang puteri lah yang bermain
Sang puteri lah yang menjaga
Sang puteri lah yang melepas

Ia gagal.
Ia tetap puteri yang cengeng.
Tuhan menguatkannya tapi tidak dengan si puteri.
Ia tetap lemah .

Apakah memang seperti itu? Tapi untuk apa?
Selain menyakiti.

Puteri tak Lelah

Kadang sang puteri lelah.
Lelah menatap pangeran
Yang asyik bermain main di padang ilalangnya

Ia bermain sendiri
Padahal sang puteri di sana
Selalu menjaganya
Meniti tiap detik yang hanya berakhir sunyi

Mungkin ia bodoh.
Atau mereka yang bodoh?
bermain main sendiri
Bukankah padang seluas itu akan indah
Jika di arungi bersama?

Sudah.
Puteri sudah lelah 
Ah.

Mungkin sekarang dia lelah 
Tapi besok, sang pangeran kembali

Kembali mengisinya dengan harapan harapan semu
Dan si puteri yang menjaganya .

Sudah.

Di padang itu
Tersimpan rasa

Puteri dan pangerannya
Setiap hari bermain main
Di padang yang indah
Padang yang sepi..

Sang pangeran mungkin tak tau
Betapa sang puteri takut kehilangannya

Sang puteri mungkin tak tau
Betapa sang pangeran merindukan kebebasannya
Bermain di padang.

Padang ilalang.
Tempat bersua. Tempat di mana semua rasa tercurah

Kebencian pangeran
Ketakutan sang puteri
Kemuakan pangeran
Ketegaran sang puteri

Lalu untuk apa mereka bermain main di padang?
Entah.
Mungkin Tuhan ingin melatih mereka
Menjadikannya pangeran yang bijaksana
Menjadikannya puteri yang tak cengeng

Tapi.
Untuk apa Tuhan menciptakan rasa?

Dingin, Hujan.

Hujan.
Hujan malam.
Dingin.
Dinginnya kamu
Hujan bagiku

Di balik dinding kau bercerita
Di balik dinding aku mendengar

Setiap langkah yang terhitung
Seiring detak jantung yang siap meledak

Setiap tetes air yang kau derai
Setiap itupulalah tangis berderai

Kau itu apa.
Dingin.
Hujan.

Bahkan hujan tak mampu mengoyak
kaulah satusatunya

Lalu apa hujan?
Hujan dapat sembunyikan rasa.
Yang tak seorangpun tau.

Dingin
Hujan.

Saturday, 12 April 2014

Jubah Merah si Sandal Buaya

Jauh. Jauh. Lebih jauh. Tetap jauh.
Aku bahkan lupa. Rasanya bersua.
Jauh. Walau setiap saat dekat. Tetap jauh.
Di atas sana lah ia. Dengan gagahnya, jauh.
Di seberang jalan sana, ia menjauh. Menepi di antara setapak setapak kecil.
Tempat ia menghabiskan separuh waktu
Dengan jubah merah dan sandal buaya.

Monday, 13 January 2014

The One at the Backdoor

Im leaving you
Dont know whether it is best or not
Still guilty with decision
But what can I do
To bring you back

Being invisible
Thats me. As always.
Is it hard to say hello?
But the easier is goodbye.

No. Im leaving you but
Still guilty with decision

Then, what really am feeling inside?

Bolehkah?

Bolehkah aku kau sebut sahabat?
Sahabat yang selalu mengingatmu
Walau kau tidak.

Keping rindu ini
Terlalu sulit disatukan

Angin tak mampu hembuskan rindunya
Rumput tak lagi tempat pijakkan rindunya
Bau udara tak dapat gantikan,

Sejuta kenangan
Yang meluruh
Luluh lantah
Lewat sapuan rindu.

T to K

K, Dari Sang Perindu

Kadang, seseorang akan selalu berada di sana
Di sudut hati terjauh. Tak akan lari ke mana
Ia sungguh tahu tempat yang paling tepat untuknya
Dia tak akan pergi. Akan selalu di sana
Akan selalu memiliki cerita
Dengan caranya sendiri.

Ini adalah rindu yang tak terucqp
Tak akan pernah sekalipun terucap
Tidak ada yang mampu memahami
Bahkan sang perindu pun.

Di sudut hatinya telah bersemayam
Yang tak akan pernah beranjak
Yang akan terus membangun kenangan
Lalu meruntuhkannya
Lewat keping-keping rindu.

Yogyakarta, 12 September 2013