Aku mengganti film yang aku tonton, dan karena ada satu orang lagi yang ikut menonton, maka aku menggeser diriku pada kursi sebelahnya. Sial! Tetiba aku tersadar. Bahwa aku ada di tempat yang salah. Bau mu yang tiba-tiba menelusup merusak fokusku pada film yang daritadi sedang aku tonton. Kau tau, ini film susah, dan sedari tadi aku sudah berusaha memusatkan pikiranku untuk sekedar mengerti jalan ceritanya, dan kau malah dengan mudah membuyarkannya. Tanpa ampun.
Tanpa ampun, seperti itu pulalah ketika kau; kita, menorehkan beberapa kenangan yang mungkin sekedar angin lalu bagimu tapi cukup terlalu manis bagiku. Kau ingat bahwa waktu itu kita duduk melingkari meja marmer itu. Kau dan aku saling berhadapan, dua lainnya pun saling berhadapan. Dan kita terhanyut oleh dunia yang kita buat saat itu. Tak ada yang tau maksud kerlingan mata antara kau dan aku, tak ada yang bisa menebak arti tawa sarkas kita. Yang mereka tau kita hanya duduk saling berhadapan empat sama lain, merangkai kata guna mempertahankan percakapan yang ada.
Sebelum menonton film tadi, aku duduk di kursi yang sama denganmu dulu. Seakan aku bisa melihat diriku di seberangnya, yang menatap manja padamu. Aku teringat lelucon lelucon yang kita buat saat itu, tanpa mereka tau, dan aku hampir tertawa pula mengingat caramu memutar kedua bola mata karena aku tau kau tak mengerti apa yang dua orang ini bicarakan. Seketika aku kembali pada hari itu. Di mana kita banyak menyembunyikan hal dari dua yang berhadapan lainnya. Semua percakapan yang telah terjadi seakan berebut ingin masuk otakku kata-perkata. Tidak sadarkah mereka bahwa itu akan semakin menyakitiku?
Dulu, dari seberang meja sana, aku menikmatimu menikmati makan siang mu. Entah lah tapi, sesederhana menu yang ku buat untukmu, sesederhana itu pulalah membuatmu cukup lahap menyantapnya, dan sesederhana itu pulalah meletakkan diriku dalam kebahagiaan. Tak ada yang lebih indah dari menyaksikan ekspresi pertamamu ketika makanan-makanan itu mulai memasuki kerongkonganmu. Tak ada kata yang lebih indah daripada "kau membuatnya sendiri? aku tak menyangka" . dan semudah itulah diriku hanyut dalam ke-alay-an itu.
Dan sekarang kau tau? bahkan tanpa sadar pun aku duduk di kursimu dulu, di kursi yang sama saat kita menonton film dari bintang yang sangat aku gilai. Sekarang pun aku menonton film itu lagi, tapi bukan denganmu. If i could say, you are my worst distraction. Sudah aku bilang bukan, bahwa aku susah payah meletakkan fokusku pada film ini dan baumu yang tiba-tiba menelusup membuyarkan konsentrasiku seketika.
Aku kembali merasa dapat melihat diriku di samping kursi yang aku tempati. aku ingat betapa saat itu adalah saat-saat paling indah dalam hidupku.My sleepyhead man was just starting his day after the long hard week, and when he opened his eyes there were foods on the table. What a perfect day. Dan sekali lagi Tuhan mengijinkanku menikmatimu menikmati makananku.
Oke, ini sedikit berlebihan. Tapi, apa yang lebih aman, di saat hujan deras, angin kencang, mati lampu, dan tak ada orang saat itu, selain berada di samping orang yang kau sayangi, dan menemaninya menghabiskan makan siangnya yang sebenarnya sudah sangat telat itu. Bisa saja setelah itu kau kembali ke kamar dan menghabiskan tumpukan-tumpukan dvd mu seperti biasa. But you didnt. Kau tetap duduk di sampingku, dan menghabiskan sisa sore yang mengerikan itu dengan menonton film yang kau-bilang-tak-akan-pernah-menontonnya- karena kau tak suka pemain utamanya-yang-sungguh-sangat-aku-gilai.
Semudah itulah kau menarik duniaku. Semudah aku yang tiba-tiba kehilangan seluruh energiku ketika di sampingmu. Yang bisa aku lakukan hanyalah bersandar pada dada bidangmu, sambil berpura-pura menikmati filmku, namun sebenarnya aku menikmati setiap detak jantungmu yang begitu dekat denganku saat itu. Meresapi aroma tubuhmu yang seakan lalu tertumpuk dalam diriku, dan keluar perlahan saat aku merindumu, seperti saat ini.
Aku tak mengerti maksud Tuhan membawa ku kembali pada hal-hal kecil tentangmu. Yang aku tau, aku hampir gila karena bermaksud mengulangnya kembali. Terlalu banyak skenario yang ingin aku wujudkan, dan kau, yah, sedikit banyak membantunya. Harusnya tidak!
No comments :
Post a Comment