Saturday, 10 May 2014

Mengapa Butuh Seribu Tahun?

Kupu-kupu kecil cantik...
sungguh, kau tak perlu tahu apa yang barusan terjadi di rumah ini. Semua yang kamu lihat hari ini dan kemarin, adalah nyata. Mungkin kepak sayapmu yang sanggup beratus kali dalam sepersekian detik itu isyarat ketidaksetujuanmu. Kamu tetap menuntut untuk tahu. 

Kupu-kupu kecil yang selalu ingin tahu...
terkadang ada hal yang tak kau harus tahu. Ada hal yang hanya boleh kau lihat bahagianya saja.  Seperti dua insan yang akhirnya menyatukan dua gelombang mekaniknya yang selama ini terombang-ambing di udara luas. 

Seperti pagi ini yang kau dapati dengan kemesraan dua insan yang telah seribu tahun beku dalam keegoisannya masing-masing. Bercumbu mesra sebelum akhirnya sang wanita melepas prianya untuk sekedar melepas penat di akhir pekan. 

Penantian seribu tahun itu terbayar sudah, seiring sentuhan lembut sang pria pagi itu. Sang wanita kaget, tapi detik itulah ia tahu bahwa mereka masih baik-baik saja. Untuk itulah ia sekarang berada dalam peluknya. Menikmati aroma tubuh prianya yang telah lama ia nantikan. Ah, betapa ia sangat merindukan bau itu. Betapa ia merindukan menikmati segala keindahannya dari jarak sepersekian milisenti. 

Kupu-kupu kecil yang selalu ingin terbang tinggi..
Kau mungkin terlalu sesak untuk terus berada di tempat ini, makanya kau selalu berusaha mengatur-atur rencana untuk segera terbang tinggi dan menjulurkan lidahmu dari ketinggian sana untuk tempat ini, seolah berkata, hey, aku bisa lepas jua dari sini.

Tapi kupu-kupu kecil...
percayalah kebahagiaan itu ada karena kita yang cipta. Kita tidak bisa menabung bahagia bukan, karena kita hidup di masa sekarang. Bahagialah untuk sekarang, karena kau tak akan tahu apa yang terjadi di luar sana. Jangan seperti dua insan tadi yang harus menunggu seribu tahun lamanya. 

Mungkin sang pria terlalu takut mencoba, ia tak ingin wanitanya semakin tersakiti jika ia terus mengganggunya. Itulah mengapa ia menghilang. 
Begitu juga sang wanita, yang percaya bahwa sang pria sudah tak ingin mempertahankannya, dan kemudian memutuskan untuk tak mengenal sang pria. 

Akhirnya, membeku lah mereka, terlarut dalam keegoisan masing-masing. Mereka lupa caranya bahagia. Mereka sibuk mengatur cara bagaimana tak bertatap satu sama lain. 

Tapi, ada satu yang tak bisa mereka atur walau sudah sekuat tenaga mereka usahakan. Hati.
Dan pagi ini adalah buktinya, bukti bahwa Hati lah satu-satunya bagian dari mereka yang tidak ikut beku, yang pada akhirnya mencairkan seluruh kebekuan dan meluruhkan segala keegoisan, seiring pelukan rindu sang pria, yang mendamba tugasnya sebagai sang pelindung, selembut tatapan sang wanita yang seolah berkata, aku masih milikmu. Semanja sang pria kepada sang wanita, yang menjadi bukti bahwa mereka masih sangat saling membutuhkan. Mereka akan saling terus ketergantungan. Tak peduli berapa ratus helai ganja yang terus merusak kinerja akal sehat mereka, mereka akan terus seperti itu. Saling mengasihi dan terus mengasihi.

Mengapa butuh seribu tahun hanya untuk bahagia?

No comments :

Post a Comment