Hatiku bergetar mendengar diriku sendiri yang mencoba mengucap janji. Janji untuk tidak lagi. Berhenti. Keluar. Dan segalah kata yang mengisyaratkan pergi. Jikalau setiap orang yang melanggar janji akan berakhir di balik jeruji, aku pasti akan jadi salah satu dari sekian banyak orang itu.
Kau mungkin telah mencap ku sebagai orang paling tak tau diri di dunia ini. Tapi sungguh, andai aku bisa. Aku tak akan membiarkan diriku begitu saja hanyut dalam kebengisanmu.
Entah siapa yang aku lihat setiap hari di rumah, dengan siapa yang aku lihat di luar sana.Berbeda. Aku seperti tak mengenalmu. Yang mana yang benar dirimu. Atau aku berhalusinasi tapi aku rasa tidak.
Dulu aku masih percaya ini semua pertanda dari Tuhan, bahwa aku harus bertahan. Namun sekarang Tuhan membalik pertanda itu, dan seolah berkata aku harus pergi. Dan aku memang harus pergi.
Aku sudah biasa melihatmu dalam gelap malam, namun tidak malam itu, seakan ia adalah petunjuk terakhir bagiku. Aku tak mampu menemukanmu dalam gelap. Padahal kau di depanku. Bahkan sekedar melihat siluetmu saja aku tak mampu. Semakin aku menajamkan mata, semakin aku yakin Tuhan tak mengijinkan ku, kita.
Sekarang, seakan semua hal yang aku lakukan salah. Tak ada artinya. Bagaimana hal-hal yang sama itu bisa berbeda, dulu mereka bisa sangat begitu manis, namun sekarang tidak. Sama halnya seperti mu.
Say something, I am giving up on you...