Saturday, 20 December 2014

Cinta Nomer Tiga


       Ku dengar deru mobilnya yang perlahan memecah keheningan malam memasuki garasi kami. Meluruhkan segala perasaan khawatir yang sedari tadi menghinggapiku. Tak apa, yang terpenting sekarang, tersayangku sudah pulang ke rumah. 
       Entah sejak kapan aku sadar bahwa ada yang hilang dari kami berdua. Peluknya setiap pagi masih hangat seperti pertama kali dulu, tapi selalu ada hawa kosong yang merasuk. Kecupannya masih terlihat mesra di hadapan ayah ibu kami, namun bagiku itu semua tak akan berarti jika hatinya tak jua mengecup hatiku, lagi.
      Aku juga masih menyiapkan baju kerja nya, lengkap, serta membuatkan sarapan dan bekal untuknya, dengan menu yang sudah sangat aku hapal setiap harinya. Ya, ia selalu minta pepes tahu di hari Senin, nasi goreng seafood untuk hari selasa, sayur asem yang menurutnya paling manis sedunia hanya karena aku yang memasaknya, di hari Rabu, Kamis biasanya ia minta dibuatkan sambel goreng tempe bersama telur balado kesukaannya. Karena Jumat ia memiliki waktu istirahat yang cukup panjang, biasanya ia membeli makan di luar. Lalu Sabtu dan Minggu ia akan memanjakanku seharian, giliran ia yang menuruti kemauanku di dua hari itu, dengan dalih apresiasinya untukku selama seminggu karena telah menjadi koki terhebat di dunia-nya. Indah? Iya, memang indah.
        Semua bermula ketika aku memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerjaku untuk satu tahun ke depan. Ku akui memang ini salah ku tak mendiskusikannya terlebih dahulu dengannya. Ku pikir dia akan menyetujuinya karena dia tahu sekali bahwa jika ada istilah cinta ke 4, maka pekerjaanku lah yang akan menduduki peringkat 4, setelah Tuhan, orangtua, dan dia tentunya.
      Ternyata aku salah, aku ingat beberapa minggu lalu saat hari ulangtahunku tiba, seperti kebiasaan kami dari pacaran dulu, kami merayakannya dengan makan malam. Yang spesial malam itu adalah ketika tiba-tiba waiter muncul dengan nampan di tangan. Ketika nampan itu sampai di meja, ku buka penutupnya dan kudapati amplop berisikan tiket liburan. Bosnia and Herzegovina. Ia tahu bahwa aku dari dulu memimpikan untuk bisa ke negara yang menurutku namanya indah tersebut. Aku senang bukan kepalang saat itu, karena aku sungguh tak menyangka, dengan waktu kerjanya yang gila itu, ia masih sempat memikirkan ini semua.
    Kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa hari ternyata, setelah ia tahu bahwa aku telah menandatangani kontrak kerja terbaruku. Ia lupa bahwa kontrakku habis bulan ini, ia pikir masih bulan depan sehingga ia memang belum sempat membahasnya. Begitu katanya. Beberapa hari setelah tiket di tangan ku jualah aku mendapat tugas dari kantor untuk mengecek proyek kami yang ada di luar kota. Sialnya, hari keberangkatanku ke dua acara sakral itu, sama.
      Aku berusaha keras membujuk bos ku untuk menggantikanku dengan orang lain saja. Berbagai alasan mulai dari yang masuk akal, sampai yang tak amsuk akal sekalipun aku gelontorkan. Tetap tak mengubah keputusan bos ku yang memang terkenal strict itu. Ia sungguh tak mau tau apa yang akan aku lakukan pada tanggal tersebut. Yang ia tahu hanyalah aku berada di bandara dan berangkat ke kota tujuanku pada hari tersebut.
     Gosh! Akhirnya aku berada di kota tersebut selama beberapa hari. Selama beberapa hari itu pulalah kutinggalkan separuh jiwaku di Jakarta. Aku tahu aku sudah sangat mengecewakannya. Aku tahu bahwa dari dulu ia sudah memintaku untuk mengurangi pekerjaan-pekerjaanku. Sungguh aku juga tak ingin ini terjadi.
     Mungkin ini terdengar konyol karena kami saling hirau hanya karena masalah ini. Tidak, ini bukan masalah tiket, atau negara yang namanya indah itu, bukan. Kau tahu rasanya mengecewakan orang yang kau tahu sangat menyayangimu? Yang sangat ingin sekali mewujudkan impianmu? Yang dengan tulus membahagiakanmu? Aku merasa orang paling egois di dunia ini karena aku lebih mementingkan cintaku yang nomer 4 dibanding cinta nomer tigaku. Tapi satu yang harus kamu tahu, sayangku, aku sungguh sangat menyesal, aku tahu cinta itu masih ada bukan? kubiarkan diriku larut dalam hukummu, karena aku tahu keegoisan seperti yang aku lakukan ini hanya akan luruh dengan tamparan keras, bernama cinta. Sekalipun dalam hiraumu, aku tau terselip cinta di sana. Aku... cinta kamu, sayang.