Ku
dengar deru mobilnya yang perlahan memecah keheningan malam memasuki
garasi kami. Meluruhkan segala perasaan khawatir yang sedari tadi
menghinggapiku. Tak apa, yang terpenting sekarang, tersayangku sudah
pulang ke rumah.
Entah
sejak kapan aku sadar bahwa ada yang hilang dari kami berdua.
Peluknya setiap pagi masih hangat seperti pertama kali dulu, tapi
selalu ada hawa kosong yang merasuk. Kecupannya masih terlihat mesra
di hadapan ayah ibu kami, namun bagiku itu semua tak akan berarti
jika hatinya tak jua mengecup hatiku, lagi.
Aku
juga masih menyiapkan baju kerja nya, lengkap, serta membuatkan
sarapan dan bekal untuknya, dengan menu yang sudah sangat aku hapal
setiap harinya. Ya, ia selalu minta pepes tahu di hari Senin, nasi
goreng seafood untuk hari selasa, sayur asem yang menurutnya paling
manis sedunia hanya karena aku yang memasaknya, di hari Rabu, Kamis
biasanya ia minta dibuatkan sambel goreng tempe bersama telur balado
kesukaannya. Karena Jumat ia memiliki waktu istirahat yang cukup
panjang, biasanya ia membeli makan di luar. Lalu Sabtu dan Minggu ia
akan memanjakanku seharian, giliran ia yang menuruti kemauanku di dua
hari itu, dengan dalih apresiasinya untukku selama seminggu karena
telah menjadi koki terhebat di dunia-nya. Indah? Iya, memang indah.
Semua
bermula ketika aku memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerjaku
untuk satu tahun ke depan. Ku akui memang ini salah ku tak
mendiskusikannya terlebih dahulu dengannya. Ku pikir dia akan
menyetujuinya karena dia tahu sekali bahwa jika ada istilah cinta ke
4, maka pekerjaanku lah yang akan menduduki peringkat 4, setelah
Tuhan, orangtua, dan dia tentunya.
Ternyata
aku salah, aku ingat beberapa minggu lalu saat hari ulangtahunku
tiba, seperti kebiasaan kami dari pacaran dulu, kami merayakannya
dengan makan malam. Yang spesial malam itu adalah ketika tiba-tiba
waiter muncul dengan nampan di tangan. Ketika nampan itu sampai di
meja, ku buka penutupnya dan kudapati amplop berisikan tiket liburan.
Bosnia and Herzegovina. Ia tahu bahwa aku dari dulu memimpikan untuk
bisa ke negara yang menurutku namanya indah tersebut. Aku senang
bukan kepalang saat itu, karena aku sungguh tak menyangka, dengan
waktu kerjanya yang gila itu, ia masih sempat memikirkan ini semua.
Kebahagiaan
itu hanya bertahan beberapa hari ternyata, setelah ia tahu bahwa aku
telah menandatangani kontrak kerja terbaruku. Ia lupa bahwa kontrakku
habis bulan ini, ia pikir masih bulan depan sehingga ia memang belum
sempat membahasnya. Begitu katanya. Beberapa hari setelah tiket di
tangan ku jualah aku mendapat tugas dari kantor untuk mengecek proyek
kami yang ada di luar kota. Sialnya, hari keberangkatanku ke dua
acara sakral itu, sama.
Aku
berusaha keras membujuk bos ku untuk menggantikanku dengan orang lain
saja. Berbagai alasan mulai dari yang masuk akal, sampai yang tak
amsuk akal sekalipun aku gelontorkan. Tetap tak mengubah keputusan
bos ku yang memang terkenal strict itu. Ia sungguh tak mau tau apa
yang akan aku lakukan pada tanggal tersebut. Yang ia tahu hanyalah
aku berada di bandara dan berangkat ke kota tujuanku pada hari
tersebut.
Gosh!
Akhirnya aku berada di kota tersebut selama beberapa hari. Selama
beberapa hari itu pulalah kutinggalkan separuh jiwaku di Jakarta. Aku
tahu aku sudah sangat mengecewakannya. Aku tahu bahwa dari dulu ia
sudah memintaku untuk mengurangi pekerjaan-pekerjaanku. Sungguh aku
juga tak ingin ini terjadi.
Mungkin
ini terdengar konyol karena kami saling hirau hanya karena masalah
ini. Tidak, ini bukan masalah tiket, atau negara yang namanya indah
itu, bukan. Kau tahu rasanya mengecewakan orang yang kau tahu sangat
menyayangimu? Yang sangat ingin sekali mewujudkan impianmu? Yang
dengan tulus membahagiakanmu? Aku merasa orang paling egois di dunia
ini karena aku lebih mementingkan cintaku yang nomer 4 dibanding
cinta nomer tigaku. Tapi satu yang harus kamu tahu, sayangku, aku
sungguh sangat menyesal, aku tahu cinta itu masih ada bukan?
kubiarkan diriku larut dalam hukummu, karena aku tahu keegoisan
seperti yang aku lakukan ini hanya akan luruh dengan tamparan
keras, bernama cinta. Sekalipun dalam hiraumu, aku tau terselip cinta
di sana. Aku... cinta kamu, sayang.
No comments :
Post a Comment