Tuesday, 24 March 2015

Selalu

Mendebu lah ia
Yang setiap tertiup angin, hilang, dan lalu muncullah koloni koloni barunya

Mencair lah ia
Setiap ia bersikeras untuk membeku karena tiba tiba ditiupinya ia dengan kata-kata itu

Seperti ilalang yang selalu tumbuh walau terpangkas
Selalu menari indah walau ujungnya rapuh

Rapuh, seperti perasaannya yang selalu tumbuh.

Sunday, 15 March 2015

Love, Rose

'Aku tidak bisa begini terus Rose'

Kata-kata itu masih terngiang sampai detik ini. Aku menyeruput sedikit machiatto ku sementara tanganku yang lain memegang handphone, berusaha menghubunginya.

Langit sore tadi begitu indah, semburatnya berwarna ungu, namun ada juga yang berwarna jingga. Perpaduan warna langit yang maha indah itulah yang berhasil membuatku memaksanya keluar dari kafe dan mengajaknya untuk mengambil beberapa foto aku dengan si langit.

Tiba-tiba kulihat dari seberang jalan ada seorang wanita melambai lambai mencoba memanggilku, oh shit, ternyata wanita di dalam mobil itu adalah Lauren. Pantas sedari tadi aku merasa familiar dengan sedan itu.

Aku refleks mendorong Alan menjauh dariku dan mencoba menutupi Alan dari Lauren, seraya berbisik padanya 'go inside, ada Lauren honey'. Aku tau Alan sudah gerah dengan semua ini. Aku bisa merasakan langkahnya yang enggan masuk kembali ke kafe.

Aku lalu membalas lambaian tangan Lauren seraya menghampirinya ke seberang sana. Bagiku lebih baik aku yang ke sana daripada ia harus melihat Alan.

"Rose how s life darling!' Suara Lauren yang ceria membuat aku semakin merasa bersalah.

" Im good Lauren, been a month right? Kamu sibuk banget sekarang hehe" aku tau suara dan kalimatku amat sangat terdengar dinas sekali.

Berikutnya yang terjadi adalah Lauren yang sedikit memaksa untuk melanjutkan pertemuan ini di kafe itu, yang dengan halus aku tolak " aku sedang mendiskusikan project Lauren, apa kau tidak keberatan kalau.... "

"Ah, ya! Pasti dengan lelaki tadi ya? Wah, aku pikir itu tadi pacar kamu"

"Errr iya, tadi aku dan dia hanya sedang mencoba mencari spot foto untuk project kok" well, secara tidak langsung aku mengatakan bahwa lelaki itu adalah pacarku. Untung Lauren tidak jeli-jeli banget dengan soal beginian.

Lauren akhirnya pergi setelah percakapan 10 menit kami yang literally di pinggir jalan itu. Aku berlari kecil kembali ke kafe, sesampainya di sana, tak ku dapati Alan. Aku kembali ke kursi dengan perasaan yang tak karuan. Alan pergi begitu saja? Ada apa?

Tiba-tiba ada seseorang menepuk lembut pundakku, Alan.
'Sorry tadi ke toilet, honey i have to go, maaf kamu pulang sendiri dulu ya. Take care'

Alan tiba tiba muncul di belakangku, aku tau ada yang salah dengannya, maka aku menarik tangannya, ikut berdiri dan berkata 'aku ikut ya hon'

Ia menuntunku kembali ke kursi dan berkata 'Gausah. Kamu di sini aja, nanti kalau di jalan ketemu Lauren gimana'. Kata-katanya tenang namun menusuk.

"Honey tapi..."

Belum sempat aku melanjutkan kata kata ku, ia memotongnya dan berbisik
"Aku tidak bisa begini terus Rose"

Lalu ia pergi. Dan aku masih duduk di sini. Menyesap macchiato gelas kedua ku.




Saturday, 7 March 2015

Entah Kapan


Sudah lama aku merindukan saat-saat seperti ini. Menikmati waktu santai setelah seharian penat oleh urusan kantor yang setiap saat menggunung. Hujan masih menari di luar sana, dari dalam aku mengaguminya, sama seperti aku mengagumi Norah Jones yang lagu-lagunya sudah entah berapa ratus kali aku putar sejak di mobil tadi, hingga sekarang, ketika aku duduk di meja kerjaku dengan greentea panas di samping laptop. Meja ini sengaja aku letakkan menghadap jendela, supaya aku bisa dengan mudah menikmati malam dari atas sini. ya, aku selalu cinta malam dengan kerlip lampunya yang menggoda. Mereka indah tanpa mereka sadari. atau mereka sudah sejak dulu sadar, makanya mereka semakin menggodaku. Entahlah. 

Aku meraih handphone ku yang berbunyi. Satu pesan masuk, dari dia. 

Kalau kau pernah dengar bahwa akan ada seseorang yang jauh lebih baik setelah kau kehilangan yang sebelumnya, percayalah bahwa hal itu memang benar adanya. Aku sudah lupa rasanya bahagia ketika itu, ya, karena apalagi kalau bukan, patah hati. hatiku benar-benar kosong bahkan sempat aku mengumpat dan menyalahkan cinta. Namun apa? aku semakin hancur, dan mungkin Tuhan kasihan padaku hingga pada akhirnya ia mengirimkanku dia. 

Saat itu kami berdua ditugaskan boss untuk menghandle satu proyek while si boss sendiri sedang honeymoon ke dua katanya. Aku ingat bagaimana wajahnya yang konyol ketika mengumpat setelah mendengar alasan si boss, sambil ia berkata " well, the perk of being single." 

Dua minggu menghabiskan waktu bersama, walaupun lebih banyak kami habiskan untuk masalah proyek, namun, ada yang berubah dari kami. Sudahlah, tak usah aku jabarkan karena kau pasti tau. awalnya aku tak percaya bahwa hatiku bisa secepat ini pulih. dan yang lebih tak kupercaya adalah, hey, itu dia! seseorang yang tak pernah aku sangka. Bahkan sebelum bekerja sama dalam proyek, bisa dihitung berapa kali kami bertegur sapa di kantor.  

Aku menikmati semua ini, perhatiannya, keluh kesahnya, cerita konyolnya, dan semuanya. Jujur terkadang aku tak tahu apa dia hanya pelarianku atau aku memang ya, kau tau, aku bahkan takut mengatakannya, karena,

temanku juga mencintainya. Lebih dulu.

Aku sungguh tau bagaimana rasanya, ketika kau mencintai orang  yang dicintai karibmu juga. Bahkan aku sempat mengutuk orang-orang yang tega membiarkan sahabatnya terluka melihat yang tercinta nya bahagia dengannya. Di mataku mereka benar-benar, yah, kalau ada kata-kata lebih dari tega, mereka lah itu. Aku tak mau jadi orang seperti itu. Namun itu dulu, nyatanya? sekarang aku selangkah menjadi seperti mereka. 

Aku tidak mau mengecewakan dia karena aku tau bagaimana ia mengagumi pria ini. Namun aku juga tidak mau munafik bahwa aku nyaman bersamanya. Mungkin kau bisa bilang, hanya nyaman! belum cinta kan? hey, hati orang siapa yang tahu.

Aku sudah bilang padanya bahwa ada wanita lain yang mencintainya dan wanita itu adalah temanku sendiri. Namun kau tau apa tanggapannya? 

"Itu hak dia untuk suka aku, tapi aku juga punya kan? kita juga punya hak untuk bahagia, dan as long as kita sama-sama single, why not? "

aku memainkan sedotan yang ada di gelasku sambil berkaata "tapi dia temenku, dan you know lah gimana kalau dia tau"

"listen, aku cuma gebetannya bukan? she doesnt have to be jealous, unless i am her man"

"but try to put urself in her shoes deh, sakit pasti. aku gak mau nyakitin temen aku sendiri"

" i know it. i know it well because i was another her hahaha"

"what do you mean by.." 

tiba-tiba dia meraih tanganku yang sedang memainkan sedotan itu. 

"hey, look at me, lemme tell you. i know this is hard. for me, because i know im gonna bring you to a problem honestly i dont want this happen. and for you, karena kamu harus jaga dua hati orang yang sama-sama tidak mau kamu sakiti. dan dia, karena dia akan kecewa, benar-benar kecewa sama kita berdua. "

tangannya masih menggenggam erat tanganku, dan matanya masih menatapku dalam, teduh, dan mengunci mataku. " dan itu yang tidak aku inginkan"

"you know, time will heal everything. waktu yang akan buat dia sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa berjalan sebagaimana mestinya, dan aku juga sedang menyiapkan hati kalau saja hal itu terjadi, well, you know what i mean kan.  percayalah, waktu juga yang akan buat dia sadar bahwa she desevres better than me, she will. kita gak tau waktu itu kapan but she will." 

"tapi.."

"dan aku juga akan biarin kamu sampai menemukan waktu yang tepat untuk beri aku jawaban atas semua ini, coba di pikirin lagi ya."

begitulah dia yang kekeuh bahwa waktu will heal everything. dan sampai detik ini, sampai ponselku bergetar karena pesannya, aku masih belum memberinya jawaban. aku sudah tau jawaban itu namun entahlah, tapi aku merasa hati ini belum akan siap sampai.. entah kapan. 


aku membalas pesannya, dan semenit kemudian, dia menelpon ku. sama seperti malam-malam sebelumnya, seolah tak pernah ada masalah ruwet ini muncul di antara kami. Aku melupakan suara hujan yang berganti oleh suaranya, mematikan playlist Norah Jones ku, naik ke tempat tidur dan menghabiskan beberapa menit bercengkrama dengannya, sampai akhirnya aku mengantuk. dan dia mengakhiri pembicaraan. 

"good night hon"