ENNOVE: Rindu: Aku mengganti film yang aku tonton, dan karena ada satu orang lagi yang ikut menonton, maka aku menggeser diriku pada kursi sebelahnya...
Poem Stories
Thursday, 29 May 2014
Tuesday, 27 May 2014
Rindu
Aku mengganti film yang aku tonton, dan karena ada satu orang lagi yang ikut menonton, maka aku menggeser diriku pada kursi sebelahnya. Sial! Tetiba aku tersadar. Bahwa aku ada di tempat yang salah. Bau mu yang tiba-tiba menelusup merusak fokusku pada film yang daritadi sedang aku tonton. Kau tau, ini film susah, dan sedari tadi aku sudah berusaha memusatkan pikiranku untuk sekedar mengerti jalan ceritanya, dan kau malah dengan mudah membuyarkannya. Tanpa ampun.
Tanpa ampun, seperti itu pulalah ketika kau; kita, menorehkan beberapa kenangan yang mungkin sekedar angin lalu bagimu tapi cukup terlalu manis bagiku. Kau ingat bahwa waktu itu kita duduk melingkari meja marmer itu. Kau dan aku saling berhadapan, dua lainnya pun saling berhadapan. Dan kita terhanyut oleh dunia yang kita buat saat itu. Tak ada yang tau maksud kerlingan mata antara kau dan aku, tak ada yang bisa menebak arti tawa sarkas kita. Yang mereka tau kita hanya duduk saling berhadapan empat sama lain, merangkai kata guna mempertahankan percakapan yang ada.
Sebelum menonton film tadi, aku duduk di kursi yang sama denganmu dulu. Seakan aku bisa melihat diriku di seberangnya, yang menatap manja padamu. Aku teringat lelucon lelucon yang kita buat saat itu, tanpa mereka tau, dan aku hampir tertawa pula mengingat caramu memutar kedua bola mata karena aku tau kau tak mengerti apa yang dua orang ini bicarakan. Seketika aku kembali pada hari itu. Di mana kita banyak menyembunyikan hal dari dua yang berhadapan lainnya. Semua percakapan yang telah terjadi seakan berebut ingin masuk otakku kata-perkata. Tidak sadarkah mereka bahwa itu akan semakin menyakitiku?
Dulu, dari seberang meja sana, aku menikmatimu menikmati makan siang mu. Entah lah tapi, sesederhana menu yang ku buat untukmu, sesederhana itu pulalah membuatmu cukup lahap menyantapnya, dan sesederhana itu pulalah meletakkan diriku dalam kebahagiaan. Tak ada yang lebih indah dari menyaksikan ekspresi pertamamu ketika makanan-makanan itu mulai memasuki kerongkonganmu. Tak ada kata yang lebih indah daripada "kau membuatnya sendiri? aku tak menyangka" . dan semudah itulah diriku hanyut dalam ke-alay-an itu.
Dan sekarang kau tau? bahkan tanpa sadar pun aku duduk di kursimu dulu, di kursi yang sama saat kita menonton film dari bintang yang sangat aku gilai. Sekarang pun aku menonton film itu lagi, tapi bukan denganmu. If i could say, you are my worst distraction. Sudah aku bilang bukan, bahwa aku susah payah meletakkan fokusku pada film ini dan baumu yang tiba-tiba menelusup membuyarkan konsentrasiku seketika.
Aku kembali merasa dapat melihat diriku di samping kursi yang aku tempati. aku ingat betapa saat itu adalah saat-saat paling indah dalam hidupku.My sleepyhead man was just starting his day after the long hard week, and when he opened his eyes there were foods on the table. What a perfect day. Dan sekali lagi Tuhan mengijinkanku menikmatimu menikmati makananku.
Oke, ini sedikit berlebihan. Tapi, apa yang lebih aman, di saat hujan deras, angin kencang, mati lampu, dan tak ada orang saat itu, selain berada di samping orang yang kau sayangi, dan menemaninya menghabiskan makan siangnya yang sebenarnya sudah sangat telat itu. Bisa saja setelah itu kau kembali ke kamar dan menghabiskan tumpukan-tumpukan dvd mu seperti biasa. But you didnt. Kau tetap duduk di sampingku, dan menghabiskan sisa sore yang mengerikan itu dengan menonton film yang kau-bilang-tak-akan-pernah-menontonnya- karena kau tak suka pemain utamanya-yang-sungguh-sangat-aku-gilai.
Semudah itulah kau menarik duniaku. Semudah aku yang tiba-tiba kehilangan seluruh energiku ketika di sampingmu. Yang bisa aku lakukan hanyalah bersandar pada dada bidangmu, sambil berpura-pura menikmati filmku, namun sebenarnya aku menikmati setiap detak jantungmu yang begitu dekat denganku saat itu. Meresapi aroma tubuhmu yang seakan lalu tertumpuk dalam diriku, dan keluar perlahan saat aku merindumu, seperti saat ini.
Aku tak mengerti maksud Tuhan membawa ku kembali pada hal-hal kecil tentangmu. Yang aku tau, aku hampir gila karena bermaksud mengulangnya kembali. Terlalu banyak skenario yang ingin aku wujudkan, dan kau, yah, sedikit banyak membantunya. Harusnya tidak!
Labels:
cerita pendek
,
cerpen
,
feeling
,
feelings
,
galau
,
gamang
,
hidup
,
mars
,
novel
,
short story
,
stories
,
titapalupi
,
venus
Thursday, 22 May 2014
Create Your Life!
Have you ever felt that you are the luckiest person in the world? or do you ever feel that you are the saddest person in this whole world? Have you ever imagined something and it came true? That is all because of what you think, what you feel, and what you imagine. But, how come?
How is life going for you at the moment? Are you getting the results that you really want? No? Did you failed? But do you know why? It is because you only attract what you think you deserve. We do not know what we really think we worth. Many people doubt in their capability. They think that they can not do this and that as well as other people do. They doubt that they cannot go through things well. They often think about failure and never think; what if I can? Sometimes, we do the things if we simply have to look at what we have in live and know that it is a reflection of what we consider to be enough. All you have to do is think that you really can. Believe in your self, think that you deserve the best results you really want. We may seek a better something, and yes, you have to seek. Because what you think is what you attract.
"Do you ever feel like breaking down, do you ever feel like out of place, like somehow you just do not belong, and no one understand you" some lyric from Simple Plan that often really happened in our life. Or, many people feel that way. They feel that they are the saddest person, the most unlucky person in this whole world. When you feel those are, you are, going to be just like that. You create your own paths.
You often feel that you are the worst people, yes you are. If you think that you are the happiest person, yes, you are. You create your own story. So, why do not you create a happy ending? All you have to do is just think positive. One thing that you have to realize is that every problem in this world always and always has two sides, black and white, positive and negative. So why do not you be happy? Because happiness only comes if you pick them, choose them, and stand for them. At least, it will not make your heart feels restless. Your life is too precious to only be filled with sad stories, hard feelings, pain, and other bad things. You only live once, make a lot of beautiful, wonderful, miracle, unbelievable, and unforgettable stories instead of just being invisible. Instead of just being lonely and sad. Instead of just locking your self in your room. Because what you feel, is what you create.
Have you ever heard that before marrying Brad Pitt, Jennifer Anniston was a huge fans of him. She had a very big poster of him on her backdoor and every time she woke up in the morning, she said " I'll marry this guy someday" and now, you all know, that Jenn's dream has come true. She married with her dream guy. No, it is not about who the guy you will marry in the future, but this is about a dream. Jennifer imagined that she lives with him, and it come true. It is easier said than done in fact, but, if you believe the power of dream, you will get what you want. All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them.
Like when you join a pageant competition, and you really really want to take the first place, you have to make a big effort, you have to do the hard work. Make yourself good on the catwalk, enrich your knowledge, and upgrade your public speaking ability. God is watching you, then when He thinks you deserve it, and.. voila! You take the first place. As you really want. Imagine here does not mean just sit and watch God works, no, a dream does not become reality through ma gic, it takes sweat, determination, and hard work. That is why to imagine something is important, but, remember that you also have to do something to make your imagination comes true. Because what you imagine, is what you become.
Well, that is why it is important to manage yourself well. All is well, depending on how you face the. Depends on what you think, what you feel, and what you imagine. Because they will affect what you attract, what you create, and what you become. Because life is based on whether you choose to be happy or not. You own your path :)
pict source: google
Labels:
being happy
,
create your life
,
emotion
,
feeling
,
feelings
,
hidup
,
mind
,
motivasi
,
myself
,
pelajaran
,
quotes
,
quotes of the day
,
random feeling
,
self-noted
,
thought
,
what you feel
,
what you imagine
,
what you think
Monday, 19 May 2014
Kemesraan yang Bermesraan
Bau bau yang bermesraan, kian mendekat, kian merasuk dalam jiwa yang hampir kosong.
Bau bau kemesraan, terus mendekat, menempel di setiap sudut-sudut hidup sang empunya.
Terus mendekat, ia terus mendekat, ia berada di dalam sini. Di hati terdalam.
Tak cukup hanya dengan menghirup nya dengan satu helaan nafas saja.
Tak akan pernah cukup.
Semakin di hela, semakin susah ia tersentuh.
Bau bau yang bermesraan, sudikah kau berhenti, menelusup sanubari yang tak pasti.
Kau memang indah, namun kau tak ayal jualah yang merusak.
Aku sedih
Bau bau yang bermesraan, tak kunjung sirna
Bau bau kemesraan, terus mendekat. Tak akan berhenti.
Dan aku semakin benci, bau bau kemesraan yang bermesraan.
Saturday, 10 May 2014
Mengapa Butuh Seribu Tahun?
Kupu-kupu kecil cantik...
sungguh, kau tak perlu tahu apa yang barusan terjadi di rumah ini. Semua yang kamu lihat hari ini dan kemarin, adalah nyata. Mungkin kepak sayapmu yang sanggup beratus kali dalam sepersekian detik itu isyarat ketidaksetujuanmu. Kamu tetap menuntut untuk tahu.
Kupu-kupu kecil yang selalu ingin tahu...
terkadang ada hal yang tak kau harus tahu. Ada hal yang hanya boleh kau lihat bahagianya saja. Seperti dua insan yang akhirnya menyatukan dua gelombang mekaniknya yang selama ini terombang-ambing di udara luas.
Seperti pagi ini yang kau dapati dengan kemesraan dua insan yang telah seribu tahun beku dalam keegoisannya masing-masing. Bercumbu mesra sebelum akhirnya sang wanita melepas prianya untuk sekedar melepas penat di akhir pekan.
Penantian seribu tahun itu terbayar sudah, seiring sentuhan lembut sang pria pagi itu. Sang wanita kaget, tapi detik itulah ia tahu bahwa mereka masih baik-baik saja. Untuk itulah ia sekarang berada dalam peluknya. Menikmati aroma tubuh prianya yang telah lama ia nantikan. Ah, betapa ia sangat merindukan bau itu. Betapa ia merindukan menikmati segala keindahannya dari jarak sepersekian milisenti.
Kupu-kupu kecil yang selalu ingin terbang tinggi..
Kau mungkin terlalu sesak untuk terus berada di tempat ini, makanya kau selalu berusaha mengatur-atur rencana untuk segera terbang tinggi dan menjulurkan lidahmu dari ketinggian sana untuk tempat ini, seolah berkata, hey, aku bisa lepas jua dari sini.
Tapi kupu-kupu kecil...
percayalah kebahagiaan itu ada karena kita yang cipta. Kita tidak bisa menabung bahagia bukan, karena kita hidup di masa sekarang. Bahagialah untuk sekarang, karena kau tak akan tahu apa yang terjadi di luar sana. Jangan seperti dua insan tadi yang harus menunggu seribu tahun lamanya.
Mungkin sang pria terlalu takut mencoba, ia tak ingin wanitanya semakin tersakiti jika ia terus mengganggunya. Itulah mengapa ia menghilang.
Begitu juga sang wanita, yang percaya bahwa sang pria sudah tak ingin mempertahankannya, dan kemudian memutuskan untuk tak mengenal sang pria.
Akhirnya, membeku lah mereka, terlarut dalam keegoisan masing-masing. Mereka lupa caranya bahagia. Mereka sibuk mengatur cara bagaimana tak bertatap satu sama lain.
Tapi, ada satu yang tak bisa mereka atur walau sudah sekuat tenaga mereka usahakan. Hati.
Dan pagi ini adalah buktinya, bukti bahwa Hati lah satu-satunya bagian dari mereka yang tidak ikut beku, yang pada akhirnya mencairkan seluruh kebekuan dan meluruhkan segala keegoisan, seiring pelukan rindu sang pria, yang mendamba tugasnya sebagai sang pelindung, selembut tatapan sang wanita yang seolah berkata, aku masih milikmu. Semanja sang pria kepada sang wanita, yang menjadi bukti bahwa mereka masih sangat saling membutuhkan. Mereka akan saling terus ketergantungan. Tak peduli berapa ratus helai ganja yang terus merusak kinerja akal sehat mereka, mereka akan terus seperti itu. Saling mengasihi dan terus mengasihi.
Mengapa butuh seribu tahun hanya untuk bahagia?
Labels:
cerpen
,
short story
,
stories
,
tita
,
titapalupi
Bahagiaku, Kamu.
Sampai hari ini, sampai detik ini berlalu, aku masih mengira bahwa aku akan dapat menjalani hidupku dengan bahagia, tanpa kamu. Ku kira aku akan dengan mudah berjalan menghirup udara pagi itu sendiri, nyatanya, kau bahkan dengan mudahnya menyelipkan jari-jarimu di sela-selaku dan kita kembali bersama-sama menikmati pagi. Nyatanya, aku masih tak bisa melepaskan pandanganku yang sejurus seiring menghilangnya bayangmu. Sebelumnya aku menganggap bahwa aku sudah cukup kuat untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar tembokku, tanpa adanya pengawasan dari sang ego. Tapi aku benar-benar salah. Tak ada gunanya aku berusaha menepis semua tentangmu, jika Tuhan tak menginginkannya. Jika ia setuju, sudah sejak pertama aku mengikrarkan diriku bahwa aku tak akan berurusan lagi denganmu, ia akan mengikat ikrar itu. Tapi nyatanya, bahagiaku kamu.
Aku sempat terjebak dalam permainan bodohku sendiri, yang berusaha sok kuat dan sok tegar tapi jantungku tetap saja mencelos melihatmu. Sekarang aku tersadar bahwa jalan menuju kebahagiaan itu tak serumit aku yang selalu berusaha hidup tanpa bayangmu. Ku kira hidupku akan lebih indah ketika tak ada lagi bayangmu yang membekas. Tapi aku salah. Karena bahagiaku kamu. Sesimpel apapun itu. Semudah aku memutuskan untuk meruntuhkan tembok itu dalam sepersekian detik Ya. Semudah itu.
Bahagiaku kamu, ketika melihatmu tersenyum padaku. Aku tak peduli, tapi kau memang menetas senyummu untukku bukan? Bahagiaku, kamu, mendengar keluh kesahmu tentang berat badaanmu yang terus menaik. Seperti telah kehilangan suaramu untuk seribu tahun lamanya. Seperti mendapat cara baru untuk bernafas, yang lalu mengesampingkan udara. Kaulah nafasku. Melihatmu menyentuh setiap titik imajiku, melihatmu menatapku setelah sejuta tahun lamanya, aku hidup. Jadi begini rasanya terlahir kembali? Seakan kemarin aku entah berada di bagian dunia mana. Kehilangan arah, namun sekarang, semudah itukah mengembalikan semua kesakitan itu?
Kalau kau berkata kau bingung, aku lebih bingung. Aku tak tau mengapa aku masih terus bertahan bersama kesakitan ini sementara sebelah hatiku bersorak gembira. Aku tak kenal diriku sendiri. Karena aku terlalu bahagia, dan itu lagi lagi karenamu.
Bagaimana bisa kemarin aku bagaikan puing puing sampah dan bangkai yang tak berarti. Teronggok begitu saja, layu walau terairi, hitam walau terwarnai, berdiri walau goyah, dan tersenyum walau payah. Sedihku bagai tak berujung. Aku bagai mati. Seringkali ketika angin bertiup menghempaskan kuning dedaunan, seseringkali itupula aku ingin menghempaskan diriku bersamanya dan tak pernah kembali, seringkali aku mengunci senyum hanya karena aku takut tak dapat jatah bahagia lagi, aku bisa gila, menabung senyum untuk kemudian hari, yang tak kutau kapan datangnya. Bagaimana aku bisa hidup semenyedihkan itu?
Ternyata yang terhempas bukan diriku, angin tentu tak akan kuat bukan, mneghempas tubuh beratku ini. Angin menghempas seluruh egoku. Membiarkannya luruh, dan lahir kembali dengan nama kebahagiaan. Mungkin ia tak tega melihatku terlalu menyedihkan. ah, aku cinta kau! hari ini aku bahagia, sebahagia kau yang akhirnya mendapat apa yang kau inginkan, sebahagia kau mendengar nyanyian itu lagi, sebahagia kau mendapati rambutmu tumbuh panjang kembali entah berapa milisenti, sebahagia kau menatap ku, entah walau itu hanya perasaanku, tapi aku bahagia, karenamu. Aku terlalu menyayang egoku. Sekali lagi aku salah, aku pikir ego akan membahagiakanku, tapi ternyata, bahagia ku, kamu.
Labels:
cerpen
,
short story
,
stories
Tuesday, 6 May 2014
Ruang Luka
Aku hanya sedih karena aku tak dapat memberikan senyum itu. Senyum yang hanya memiliki satu arti, dan pasti. Bagaimana bisa seseorang tetap tersenyum bersamaan dengan perihnya. Teriris di saat kau menatapnya, namun senyuman tetap tersungging, melukis indah baik di wajahmu dan wajahnya. Jikalau aku bisa memilih, aku tak akan membiarkan diriku terhanyut dan hancur bersamaan dengan hancurnya senyuman, namun aku bisa apa jika Tuhan.
Sungguh, baru kali ini aku tersenyum sambil sebelah hatiku mengaduh perih. Ku kira aku baru saja merasakan apa yang orang-orang sering bilang dengan sok tegar. Kalau kau bertanya apa ada yang salah dengan hatiku, ya, jelas ada. Karena baru kali ini aku benar-benar merasa perih. Mungkin aku berlebihan, tapi bisa kau bayangkan bagaimana lukamu yang masih segar itu harus dikucuri perasan air jeruk nipis.
Kau adalah orang yang dapat membuatku menangis dan tersenyum dalam satu waktu. Bagaimana bisa kau menjadi sumber kebahagiaan sekaligus sumber kahancuran bagi jiwa yang rapuh ini. Bahkan ketika aku menebar senyum, sebenarnya aku menebar kehancuran jua bagi diriku sendiri. Mengapa aku terlalu bodoh untuk terus terjebak dalam permainan yang aku ciptakan sendiri.
Mungkin dulu tak seharusnya aku mengajakmu bermain-main di padang ilalang ini. Terlalu riskan. Apalagi bagi seorang wanita rapuh seperti aku ini. Menyadari kebodohanku yang mengajakmu menjelajah setiap sudut padang ilalang, yang telah berubah menjadi lautan darah.
Hidup kita terlalu dekat. Bahkan sangat. Kau ingat tembok itu? Aku bahkan sekarang tak yakin apakah tembok itu akan tetap berdiri kokoh, aku tak yakin tembok itu mampu melindungi pemiliknya dari serangan-serangan kekacauan yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Aku tak yakin tembok itu mampu menahanku untuk tidak berlari menghampiri kehancuranku sendiri. Mungkin ia yang kokoh itu akan roboh begitu saja, luluh lantah menelusup ke dalam tanah bersamaan dengan hancurnya ego, dan datangnya kehancuran-kehancuran yang baru. Kehancuran kali ini pasti maha dahsyat. Dan mungkin tak akan ada tembok yang sanggup menahannya.
Labels:
short story
,
stories
Monday, 5 May 2014
Berhenti
Sudah separah itukah? Sampai pada akhirnya aku harus berhenti membenci. Aku tak sanggup lagi membenci. Lalu aku berhenti. Mungkin kau bertanya-tanya apa yang salah padamu , sehingga seakan akan kita hidup di dua benua yang berbeda, berpisah entah berapa ratus mil jaraknya. oh, atau malah tak pernah terbersit sedikitpun, olehmu, tentang dinginnya siang yang hampir menyamai dingin malam di kutub sekalipun. kau tentu tak pernah berepot-repot membuat pikiran-pikiran tersebut melintas, melenggang indah melewati setiap sel-sel saraf otakmu yang terlalu brilian itu.
Bahkan ego ku pun tak mampu mengalahkan tembok yang susah payah telah aku buat selama dua hari ini. Bagaimana bisa hatiku tetap mencelos, ketika melihat bayangmu yang melintasi padang ilalang itu, sendirian. Bagaimana aku bisa tetap menjaga jantungku untuk tetap pada tempatnya, sementara aku sendiri tak bisa mendekap dan mengikat pikiranku untuk membuatnya berhenti berlari-lari pada cerita semu yang kau tuliskan.
Belum. Tembok itu belum sepenuhnya runtuh. Ia hanya sedikit retak. Rupanya ego masih lebih menyayangku daripada kamu, karena begitu bayangmu sirna bersamaan dengan redupnya lampu hias taman, ego segera berlari dan mendekapku, membisikkan dengan lembut bahwa aku masih punya dia, dan tak ada yang lebih baik daripada berada dalam dekapannya saat ini. Tembokku tak jadi roboh. Ia hanya retak.
Kau tau, saat ini aku sedang memainkan peran. Peran terpenting dalam setiap jengkal hidupku. Namanya berperan pura-pura. Mungkin terdengar aneh, dan ya memang aneh. Kaulah yang membantuku mendapatkan peran itu. Wah! Betapa baik sekali kamu. Dalam peran itu, aku diharuskan berpura-pura, membohongi dunia bahwa aku adalah gadis yang paling baik baik saja di dunia ini. mengelabui setiap insan yang kutemui dengan senyum paling manis yang telah aku latih semalaman di depan kaca. Kau mau tau rahasia? Tak mudah melakukan ini pada awalnya, namun, sekarang aku sudah mahir melakukannya. Dan orang yang paling berjasa? Tentu saja kamu! Terimakasih sekali lagi karena kamu.
Aku tak pernah mencoba berlari, karena aku sangat payah dalam pelajaran berlari dulu semasa sekolah, dan aku yakin tak ada yang berubah dengan hal itu. Yang aku lakukan adalah berhenti. Menyerahkan diriku pada pihak berwajib, karena aku sadar aku telah terlalu banyak mengkonsumsi ganja. Menikmati setiap sensasi yang diberikannya. Kaulah ganja itu. Terkadang aku berpikir, kenapa Tuhan menciptakan ganja untuk kemudian dilarang peredarannya. Sama dengan halnya ketika Tuhan mengijinkan makhluknya, yaitu kamu, untuk menelusup ke dalam hati rapuhku, lalu kemudian blaah! Tak ada cahaya terang lagi setelahnya. Lalu untuk apa Tuhan mencipta rasa?
Lalu , kenapa kau masih saja berjalan sendiri, menepis banyak ilalang-ilalang pengganggu itu sendiri. Andai kau mau, akulah satu-satunya orang yang akan menemanimu melewati padang itu, kita akan menggelepar bersama di sana, menikmati indahnya musim panas, melewati musim semi, menatap langit luas sambil bercumbu dengan rumput hijau. Menikmati pijaran-pijaran bintang, yang aku kira sudah punah, beralaskan jerami hangat di temaram sinar bulan yang anggun. Seanggun cara kau menatapku, semanis kau bicara padaku. Seindah cara kau menyentuh setiap jengkal titik imajiku. Sehangat keindahan yang merusak kerja smeua saraf-saraf ku, membuatnya berlari-lari tak pada tempatnya. Semudah aku menjatuhkan diri pada Nah! egoku mulai mendekap kembali bukan. Aku tak seharusnya membiarkan otak ku merangkai imaji imaji indah di tengah padang. Mengapa kau terlalu indah? Kau hanya terlalu indah untuk terus ku jadikan objek-objek yang terus menerus berlari lari. Kau tak lelah?
Terkadang aku lelah, untuk selalu berlari sendiri. Sementara kau dengan anggunnya, berjalan dengan gagahnya. Kita melewati padang itu bersama. Bedanya kau perlahan, dan aku berlari. Sudah ku bilang bukan, bahwa aku sangat payah dalam hal berlari. Itu sebabnya aku berhenti. Tenaga ku tak tersisa. Hilang dan menguap, terbang bersama kapas-kapas ilalang yang rapuh itu.
Labels:
short story
,
stories
Sunday, 4 May 2014
Tuhan, Maafkan.
Ada kalanya manusia lupa, bahwa hidup tak selalu diciptakan indah. Sama seperti setiap masalah yang selalu punya dua sisi.
ada kalanya manusia lupa, cara menghadapi masalah sepele sekalipun, karena ia stelah terbiasa hidup tenang dalam separuh hidupnya. bukan kah roda selalu berputar?
saat manusia lupa bahwa ia harus punya masalah yang akan membawanya ke kehidupan yang lebih nyata.
saat manusia tak ingat bagaimana ia harus bersikap, sekalipun untuk dirinya sendiri.
saat ia sudah sangat terbiasa menjadi bukan apa-apa
dan blaaaah! seketika ia dituntut menjadi si-dia-yang-sedikit-sibuk
ia lupa bahwa bukan hanya dia seorang yang memiliki nasib sama.
yang memiliki cerita sama. bahkan yang mengalami banyak kegagalan-kegagalan cinta yang sama pula. ia lupa.
yang ia tau adalah bahwa hanya dia seorang yang semenyedihkan itu. hahaha! poor you then.
kau tau, semakin banyak manusia mengeluh, semakin menderita lah ia.
semakin ia mengutuk dirinya dengan berbagai perasaan sedih, menyayat hati, dan terkoyak sampai hancur, semakin mendekati seperti itulah ia.
kau mungkin mencoba lari dari semua kenyataan ini, tapi untuk apa Tuhan mencipta mu jika bukan untuk dijadikan makhluknya yang tangguh. Masihkah kau tega berleha-leha atas nikmat yang Tuhan berikan, sementara kau tak membalas apapun yang telah ia berikan.
Makhluk Tuhan macam apa kamu?
Labels:
banyak tugas
,
capek
,
galau
,
hidup
,
motivasi
,
self-noted
,
tapi ya harus dikerjakan
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)

