Saturday, 2 May 2020

Lemon and Latte

        Seperti biasa, malam itu aku sedang sibuk dengan segelas lemon tea panas yang baru saja aku seduh. Saat itu pula lah kau datang, membawa kabar yang entah aku harus senang atau sedih mendengarnya. Suara mu yang selalu lembut dan tatapan hangat dari lorong mata itu mengacaukan saraf-saraf kesadaranku seketika, namun ternyata kabar yang kau bawa tak sanggup mengacaukannya lebih lama dari biasanya.
        Mungkin bagi sebagian orang kabar ini terdengar baik, tapi entah mengapa aku khawatir. Memang, ku akui mengkhawatirkanmu adalah satu kelemahanku. Semakin aku mencoba tak peduli, semakin aku khawatir. Aku takut hanya akan semakin kehilanganmu. Sudah cukup dengan semua yang terjadi. Bahkan walau kita setiap malam menghabiskan waktu bersama, kau dengan latte mu dan aku dengan lemon ku. Walau begitu, aku masih semakin tidak mengenalmu. 
        Dua hari sebelum hari itu tiba. Pukul delapan seperti biasa. Kita bertemu di sudut yang sama. Kali ini dengan perasaan tak biasa. Entahlah. Aku bingung harus sedih atau senang karena dalam hitungan jam akan terlepas dari semua belenggu ini. Rasa dingin menjalar seketika saat tangan itu perlahan menyentuh punggung tanganku yg sedang mengaduk segelas lemon tea seperti biasanya. 
      “Aku tahu kita banyak berubah. Banyak yang terjadi di antara kita dan mungkin gak kita sadari”  ujarnya tiba-tiba. 
      Aku masih diam. Mataku menatap jauh dan nanar menembus melewati jendela yang ada di belakangnya. 
     “Aku tahu kamu juga kaget dengan keputusanku yang tiba-tiba seperti ini” lanjutnya. Well, tak terlalu kaget sih sebenarnya. Ucapku dalam hati. 
     “Hal ini berat buat aku. Tapi kamu ta...”
     “Iya aku tahu ini semua mimpimu sejak lama dan aku harus selalu mengerti dan mengalah oleh mimpimu” potongku tak sabar dengan nada sedikit tinggi. 
      “Bukan begitu maksudku, Lana.” Jawabnya.
      “Lalu apa? Maksudmu adalah, memintaku mengerti dan menerima semua keputusanmu yang hampir selalu sepihak itu bukan? Yang tidak pernah melibatkan aku di dalamnya tapi tetap harus kusetujui. Itu bukan, maksudmu?”  Repetku tak henti. 
      “Kita, kita jadi seperti ini karena kamu. Aku tak lagi kenal kamu. Dan kamu? Entah bahkan mungkin kau lupa dengan wajah dan namaku kalau tak kuhubungi duluan. Selalu! Wanita macam apa aku ini. Hah!” Ku luapkan semua emosi ku yang kutahan selama ini. Tangannya melepas tanganku dan ia jatuhkan tubuhnya di sandaran kursi dan ganti ia yang menatap nanar. 
      “Kau tau bukan Lana sayang, ini sudah menjadi mimpiku bahkan sejak sebelum kita bertemu. Bukan aku tak mau melibatkanmu tapi kau tahu, aku bahkan sudah merancang ini jauh-jauh hari. Sekarang daripada kau marah-marah terus, lebih baik nih, makan dessert ini dulu. Enak lho. “ ucapnya dengan sabar seraya menyuapkan sesendok dessert yang telah kami pesan tadi. 
      Ya, dessert ini dessert kesukaanku sepanjang masa dan ia sangat tahu itu. Aku meraih sendoknya, berniat memakan dessert itu tanpa suapannya ketika tiba-tiba ujung sendok kecil itu beradu dengan sesuatu yang keras di dalam dessert cantik itu. Aku mengernyitkan dahi. “Bagaimana bisa sih sekelas cafe ini mengabaikan quality control. Bisa-bisanya mereka kecolongan ada batu gini di dessert aku” pikirku. 
     Aku berusaha menyingkirkan benda keras itu dan terhenti ketika kulihat sesuatu berkilauan dari dalam sana. Mataku terbelalak. 
     “Will you marry me, Alexandra Lanarie?” Ucapnya lembut seraya meraih tanganku sambil membersihkan cincin itu dari cream dessert yang menempel. “Well, maaf cincinnya jadi kotor sedikit. Tapi romantis kan? Hehehe” lanjutnya garing. 
       “.....” aku masih tak percaya. 
       “Lana, kau tahu, aku tak mungkin pergi tanpa kamu. Aku sudah siapkan segalanya untuk kita di sana nanti. Aku hanya akan pergi sebentar. Bulan depan aku akan kembali dan kita bisa mengurus semuanya” 
        “Itu artinya...” ucapku terbata
        “Itu artinya kau harus menemaniku ke mana pun aku pergi walau ke ujung dunia sekalipun” 
       Aku masih terkejut. Tak percaya. Tak menduga bahwa ia telah mempersiapkan semuanya. 
      Perlahan aku mengangguk tanda setuju dan saat itu juga aku tersadar, a complicated mind will scared you no matter what. 
    

Five Beautiful Weeks

Hai! Long time no see. Long time no write. Been so busy dealing with my current life. It s just like i hit that writer block kinda thingy. Lost all words. Cant spite them out even they danced and popped wildly in my mind. 

But these 1.5 months are different. Well, Im not gonna say it but we all know weve got to deal with this pandemic. 

Live changes in a minute. 

Let s recall the memories. 
It s in the middle of March when we still got chance to do our annual trip. Got 2 free days after our busy semester was such a blessing for us. 

But then 4 days later, after we back from the trip, the local government decided to ask us for a self isolation due the pandemic. Well, the school were off. Till now. Learning from home is the solution. 

And suddenly our live changed
Everything changed

I remember how I lost myself in the very first 2 weeks. 

It was less than a month from my big day.  

I prayed a lot in the first week. Prayed for all of us. For the earth. For all the patients. I prayed for those little thingy so they can go away from this earth. 

I prayed a lot and I did socmed detox. Not even once open or read the news. Not even said or write the name of those little destroyer. But who am i? The more i tried the more i failed. 

For the very first time in my life i outta breath. Everytime i open the timeline and glimpsed the news, i outta breath. Everytime i read the name of those little thing, i outta breath. Called me overreacted but that s actually happened to me. It was such a terrible week for me. While i kept praying for the best. 

It was the third week and none is better. Even worse. No longer did the socmed detox kinda thingy. But still outta breath whenever I heard something related to “it”. It was hard. People might say i looked okay but i was not. I am not, till today. It was the third week when i finally realized nothing s better and nothing we could do except delayed it. 

All were ready. All were set up. 
But all were delayed. All were cancelled. Just because that little thing. 

Fourth week and i didnt know what im felling inside anymore. Am I happy for its being delayed? Am I sad for its being delayed? I dont know what Im feeling inside. 

I did everything i cud. Gardening? Checked. Cooking? Checked. Gaming? Checked. Petting the cats? Checked. Pampering my self? Checked. Trying to sell stuffs? Checked. Read my unfinished books? Watching movies? Checked. Eating alot? Of course checked.  I did almost all what people called it as me time activities. Whatever it is to make me feeling better. I also meditated. Just to make me feeling better. Thru these all. 

I know it s just a phase. I tried to let the feeling. Feel the feeling. 

This is our fifth week. After all the struggles. After all the mixed feeling, I can say that my feeling now is getting better. Not bitter anymore. Well, still a lil. 

Still distancing with the news, besides distancing with ppl too lol. Still feeling sad, a bit. But then I realized that God however is the best planner.  I tried to accept this slowly but sure. I reminisce all my bad my flaws. Nothings better than God’s plan. 

Everything happens for a reason. 

Still on my way to deal with the reasons. But in a better feeling. Now I am praying for earth to get better without scared. Because all I know is doing the best I can and living my life its way. (tita)