Monday, 29 June 2020

Living the Live

Well, there are so much things happened in my last two months. From KKN to PPL. I do learn a lot.
Never knew that it cud mean so much. Thought that wud never through those kkn thing easily. Been thinking bout the village in remote location, meeting new people and shud work in team with them in a month, a new lifestyle, meet a lot of perangkat desa, and so on. Maybe because of the different culture between Balikpapan and Yogyakarta ya, that makes me found a lot of new things. Like karang taruna yg i do know that it is ada but never know that it still exist till nowadays (bc i bet it is rarely to find kinda thing in Balikpapan or Sangata). Or the other social culture yang memang berbeda dg Balikpapan.
I also met a lot of new friends. From different major. One person for one major so it s all new. Can you imagine? But then i found that it was called destiny. Brings you to a lot of new experiences in life, and also love lol. We live together in a house, in a month. Shared everything together, cooked the meals, dinner, etc. Did the prokers, gossiping, singing, eveb baper-inh and so on.  We fight, argued, and then laugh together. I still remember how scary it was after the "Gebyar KKN" seriously i love to sleep in the mosque rather than in our basecamp that night.
I also still remember how we, the girls had our own quality time, run from all the kkn thing because we really mad at the boys leaving us for futsal while we had to attend the pengajian. We drove around the Wates city, found a coziest café we cud find in Wates (thank to Eskimo café ) and forget all the things we left in basecamp hahaha
Last night in Depok, Sukoreno, Sentolo will always be in my mind. Never thought that i was gonna cry. Thought that i can hold my tears but when Tejo cried beside me and squeeze my shoulder, i cudnt hold my tears anymore. Realize that this night wud never happen again, realise this will be over in the morning, realise that we will live separate again, living our live like before, realise that we wont meet lovely kiddos or even ibu ibu and bapak.bapak here, realise that we cant share our pillow, our food, our perfumes, our  story, and so on.  Never thought that it wud mean so much. Never.
Thankyou aena, april, bondan, intan, mail, monik, mel, tejo, ulan, and zes. You all may will never know that i write all this things but thankyou for being a part of my life journey guys! Love you!

Wednesday, 24 June 2020

Euonia Masa Pandemi

*tulisan ini adalah un-editing version dari tulisan saya dalam sebuah projek menulis yang diadakan beberapa orang di kantor saya. Tentu fix versionnya banyak berbeda dengan versi ini, jadi saya pikir tidak apa jika saya berbagi tulisan ini di blog. Selamat membaca. 


Eunoia Masa Pandemi
Oleh Widia Tita Palupi

Who said that I am fine?
Sekian minggu sudah kami berada dalam keadaan yang sama. Sekian minggu sudah kami bertahan pada keadaan yang sama. Sekian minggu pula-lah aku belajar banyak dari keadaan ini. Mungkin beberapa sudah pernah aku tuliskan di laman blog. Tapi tak apa, banyak hal baru yang belum aku tulis di sini. Jadi, mari kita sedikit flashback.
Minggu pertama kami melakukan isolasi mandiri dari rumah. Resah hati ini rasanya. Bayangkan saja, kau yang setiap hari ke sana kemari, ini dan itu, sekarang harus di rumah. Melakukan semuanya dari rumah. Bekerja dan belajar pun dari rumah. Berat rasanya melalui minggu pertama ini dengan segala perubahan yang ada. Terlebih, ku beri satu rahasia, it’s around two weeks before my big day. Tak perlu kuceritakan bagaimana sebelah perasaanku yakin badai ini akan segera berlalu dua minggu ke depan dan sebelah hatiku lainnya melayu membayangkan bagaimana jadinya jika badai ini tak kunjung reda.
Minggu kedua dan sebelah hatiku semakin melayu. Selain sudah rindu dengan aktifitas belajar-mengajar beserta anak-anak hebatnya, hatiku semakin melayu mengetahui bahwa isolasi mandiri terus diperpanjang. Belum, aku belum dapat memaknai semua yang terjadi belakangan ini. Saat ini sebelah hatiku sudah semakin sibuk memikirkan bagaimana jika badai ini terus datang dan meluluh lantakkan semua rencana kami. I was lost. Some people asked me about the day. Sebelah hatiku kembali berkata “you don’t know what I’m feeling inside!”, namun sebelahnya berkata “terimakasih sudah peduli”.
Minggu ketiga ku jalani dan sepertinya masih belum ada hal baik yang dapat aku petik dari semua ini. Ya, semenyedihkan itu hidupku menuruti segala kesedihan ini. Sembari mengajar dari rumah, sembari pula aku berusaha bangkit walau terseok. Kuhibur hati ini ”it’s just delayed, not cancelled dear”. Aku yang tak punya riwayat sesak nafas, mendadak sesak dadaku setiap aku membuka sosial media, terlebih ketika mata ini tak sengaja menangkap berita-berita terkini. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak peduli dan sebisa mungkin menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Bahkan sampai detik ini pun aku berusaha menghindari untuk menulis nama virus itu. Perhatikan tidak, bahkan judul tulisan ini pun kubuat sebisa mungkin tanpa menyebut namanya. Sehebat itu pengaruh makhluk kecil ini pada hidupku.
Minggu keempat, aku sudah mulai terbiasa dengan belajar daring ini. Hal yang pertama kali kulakukan pagi hari adalah absen via online. Setelah itu dilanjutkan dengan distribusi materi pelajaran hari itu sambil membersamai mereka belajar. Via orangtua tentunya. Ya, aku merasakan betapa terbantunya aku oleh peran orang tua di saat seperti ini. Sedikit ku mulai terlupa oleh kesedihan-kesedihan yang melanda. Selain itu aku juga disibukkan oleh beberapa pelatihan online yang diprakarsai oleh sekolahku. Aku mulai menikmati belajar dan mengajar dari rumah. Mulai bersemangat mempelajari hal-hal baru agar belajar dari rumah tak membosankan, tak menjenuhkan bagi kami, orangtua, dan siswa. Sedih? Masih. Hatiku masih berandai-andai ‘seharusnya kemarin begini, seharusnya aku kemarin begitu, dan andai andai lainnya yang kalau dituruti mungkin malah membuat aku semakin terpuruk.
Minggu kelima, aku sudah mulai bisa menata hati kembali. Aku melakukan banyak hal yang sering orang katakan sebagai me time.  Berkebun? Sudah. Berjualan online? Sudah. Menonton film? Tentu sudah. Memasak? Sudah. Makan banyak? Tentu sudah juga. Aku di minggu kelima juga sudah lebih focus dengan kegiatan pembelajaran saja. Hal-hal yang berkaitan dengan virus itu masih aku hindari, namun sekarang ada satu lagi yang aku hindari, yakni hal-hal yang berkaitan dengan those kinda big days. Ha-ha, ribet sekali ya hidupku menghindari ini dan itu. Tapi tak apa, Namanya juga berusaha. Aku berusaha hidup normal di tengah ketidaknormalan yang terjadi. Berusaha tak bersedih di tengah kesedihan yang melanda. Berat memang, tapi bukan berarti tak bisa terlalui, bukan?
Ada satu hobiku yang selama ini terlupakan. Bahkan sudah bertahun-tahun terlupakan. Di minggu keenam ini tak sengaja aku memulainya kembali. Dulu, malam hari sebelum tidur, sering sekali aku membuat refleksi tentang kejadian yang telah terjadi pada hari itu. Kalau tak sempat menuliskannya di blog, akan kusimpan saja dalam notes handphone. Kalau tak sempat juga menulisnya di notes, cukup aku simpan di kepala saja biarkan ia menari dengan sejuta kata lain yang tak sempat terucap. Ya, malam itu tak sengaja aku termenung, mengingat semua kejadian yang berminggu ke belakang telah terjadi, menarik ujung simpulnya lalu menuliskannya di blog. Hal ini tentu saja membuat hatiku sangat lega. Plong. Seakan semua gundah dan gulana tercurah habis di sana.
Aku melanjutkan refleksiku di minggu-minggu berikutnya. Sampai saat ini, kami sudah berada di sekitar minggu kesepuluh kalau tidak salah hitung. Banyak hal yang akhirnya aku sadari dan dapat aku petik hal baiknya. Ya, melakukan refleksi sangat-sangat membantuku melalui saat-saat seperti ini.
Pernah suatu hari aku kesal sekali karena ada beberapa siswa yang tak kunjung mengumpulkan tugas walau sudah berusaha kuingatkan. Lalu aku teringat perbincangan dengan seorang teman yang selalu berkata “selalu ada alasan di balik seseorang melakukan sesuatu, dan terkadang hal itu tak terpikirkan oleh kita”. Berbekal ingatan itu aku berusaha mencari tau alasan anak-anak ini yang masih juga tak mengumpulkan tugas. Ternyata, dua anak bersaudara tidak mengumpulkan karena orangtuanya sakit. Mereka saat ini hanya bersama ayahnya yang masih aktif bekerja di tengah pandemic ini.
 Anak yang lain, ternyata memiliki dua saudara lainnya. Mereka berurutan kelas, mulai dari kelas 3, 4, dan 5. Mereka selalu terlambat mengumpulkan tugas. Lalu aku tersadar betapa berat juga tugas orangtua mendampingi anak-anaknya. Bayangkan saja, dua anaknya yang di kelas 3 dan 4 adalah muridku. Praktis mereka mendapat tugas yang sama walau level nya berbeda (saat itu kami guru-guru English mengadakan semacam projek). Belum lagi kakak mereka yang di kelas 5, juga mendapat tugas project yang sama. Itu masih satu mata pelajaran ya. Bisa dibayangkan hal tersebut terjadi setiap hari dengan banyak mata pelajaran yang berbeda dan tugas yang berbeda pula.
Pernah juga aku merasa bahwa pandemi ini turut andil dalam memporak-porandakan kedisiplinan yang telah guru-guru terapkan di sekolah. Bagaimana tidak, beberapa orangtua terus mengirim tugas walau sudah lewat jam kerja, rekor termalam adalah pukul 00.30 WITA. Belum lagi beberapa yang ijin bahwa anaknya tak sempat mengerjakan tugas tepat waktu karena bangun tidur kesiangan. Ya… kesiangan. Tapi perlahan aku berusaha menyadari. Banyak hal yang melatar belakangi ini semua. Masih untung anak-anak itu mau mengerjakan tugas. Bisa kubayangkan jadi mereka. Pasti membosankan sekali bagi seusia mereka harus tetap di rumah dan belajar. Para orangtua tentu yang paling mengerti anaknya. Berusaha sabar sambil menunggu mood si anak untuk belajar. Tentu mereka sudah rindu berlarian bebas saat istirahat tiba. Bercanda dan jajan di kantin bersama teman. Belajar bersama di kelas. Tentu mereka rindu. Rindu dan jenuh. Aku mengerti itu. Karena akupun merasakannya. Kami semua tentu tidak mau berada di keadaan seperti saat ini. Berat memang, tapi harus disadari dan dijalani.
Sering juga aku dicurhati oleh para ibu yang semacam give up mengajari anaknya di rumah. Yang tersadar bahwa berat sekali jadi kami jika harus berhadapan dengan anaknya setiap hari (begitu katanya). Lain waktu ada juga yang curhat mengenai anaknya yang susah sekali diminta belajar.
Tak sedikit pula orangtua yang dengan antusias bercerita bagaimana anaknya dengan penuh semangat mengerjakan tugas yang ku beri. Bahkan ada yang bercerita bahwa anaknya tak membolehkan ia memeriksa tugasnya. Katanya, “miss Tita saja mah”. Ah, semakin rindu dengan mereka. Lain lagi dengan satu anak ganteng spesialku, suatu hari mamahnya menghubungiku tak lama setelah aku memberi tugas. Aku pikir mau mengumpul tugas, ternyata mamahnya bercerita bahwa buku paketnya hilang sehingga ia tak bisa mengerjakan tugas. Aku bilang padanya bahwa aku memakluminya. Tetapi tak lama kemudian si mamah kembali membalas “miss apakah boleh diberi tugas lain? R*** menangis karena ingin tugas dari miss Tita” Terenyuh hatiku. Anak ini memang semangat sekali jika pelajaranku. Semua tugas ia kerjakan dengan penuh niat. Video-video project pun ia kerjakan dengan penuh totalitas. Aku tak menyangka banyak hal yang dapat aku petik dari semua ini.  
Aku juga bersyukur saat itu tidak jadi menandatangani surat resign dari kantor. Rencana Tuhan memang paling baik. Bahkan sampai detik inipun aku masih terus bersyukur betapa aku sudah mengambil langkah benar saat itu. Walau dengan penuh gejolak. Kalau saja saat itu aku jadi resign, ditambah dengan diundurnya hari itu tentu bisa dibayangkan berkali-kali lipat sedihnya aku saat ini.
Teringat juga dengan perbincanganku dengan ibu Kepala Sekolah beberapa saat yang lalu. Beliau mengatakan yang intinya ”walau kita sudah berencana 99%, Tuhan punya 1% nya and that’s all” benar sekali. 1% itu lah yang dapat mengubah takdir. Tapi dari 1% itu pulalah aku belajar banyak.
Sebagai mantan anak rantau selama selama kurang lebih 8 tahun, 8 ramadhan pula tidak ku lewati dari awal di rumah. Aku biasanya baru bisa pulang h-seminggu lebaran dan hanya punya kesempatan sahur dan berbuka dengan ayah-ibu di hari-hari terakhir ini. Selepas rantau, aku kembali ke rumah. Tapi tetap saja ramadhanku tak bisa full di rumah. Sambil bekerja, sambil buka bersama, dan sambil-sambil lainnya. Setidaknya aku dapat berterimakasih karena lewat pandemic ini aku bisa merasakan full ramadan di rumah tahun ini. Tanpa acara di luar. Benar-benar focus. Tiada hal yang paling membahagiakan selain menjalankan Ramadhan bersama keluarga tercinta.
Kemarin adalah hari kemenangan bagi umat muslim di dunia. Walau tahun ini berbeda, walau kisah terjalin maya, setidaknya Idul Fitri tahun ini tetap memiliki sejuta makna. Jika selama ini kami melaksanakan sholat Idul Fitri di lapangan/masjid, kali ini kami cukup melaksanakannya di rumah dan hal ini merupakan sesuatu yang berharga bagi keluarga kami. Setidaknya aku masih bisa beridul fitri dengan keluargaku sebelum aku memiliki keluarga sendiri hihi. Kalau saja tidak ada pandemic ini, aku sudah tidak berlebaran di sini sesuai rencana sebelumnya. Lagi-lagi ada hal yang masih bisa ku syukuri lewat 1% milik Tuhan.
Oh ya, aku lupa. Jangan tanya kepadaku ya mengenai kasus-kasus yang disebabkan oleh virus itu, karena akupun sudah tak pernah tau lagi tentang beritanya terbarunya. Walau setiap hari TV di rumahku selalu menyiarkan beritanya namun aku tetap hiraukan. Sungguh, jauh dari hiruk pikuknya membuat hati ini makin damai dan aku tak lagi sesak nafas tentunya.
Mungkin tulisan ini tidak se-akademik tulisan lainnya. Namun lewat tulisan ini lah kegundahan hatiku akhirnya dapat terurai. Senang rasanya dapat menumpahkan kembali refleksi yang selama ini telah mengendap penuh. Semoga pandemi ini segera berlalu dan semoga kita semua selalu diberi kesehatan serta dalam lindunganNya. Aamiin.

Eunoia – Greek
[yoo’- noy - uh] – beautiful thinking, a well mind

Sangatta, 25 Mei 2020