Eunoia Masa
Pandemi
Oleh Widia Tita Palupi
Who said that I am fine?
Sekian minggu sudah kami berada dalam keadaan yang
sama. Sekian minggu sudah kami bertahan pada keadaan yang sama. Sekian minggu
pula-lah aku belajar banyak dari keadaan ini. Mungkin beberapa sudah pernah aku
tuliskan di laman blog. Tapi tak apa, banyak hal baru yang belum aku tulis di
sini. Jadi, mari kita sedikit flashback.
Minggu pertama kami melakukan isolasi mandiri dari
rumah. Resah hati ini rasanya. Bayangkan saja, kau yang setiap hari ke sana
kemari, ini dan itu, sekarang harus di rumah. Melakukan semuanya dari rumah.
Bekerja dan belajar pun dari rumah. Berat rasanya melalui minggu pertama ini
dengan segala perubahan yang ada. Terlebih, ku beri satu rahasia, it’s
around two weeks before my big day. Tak perlu kuceritakan bagaimana sebelah
perasaanku yakin badai ini akan segera berlalu dua minggu ke depan dan sebelah
hatiku lainnya melayu membayangkan bagaimana jadinya jika badai ini tak kunjung
reda.
Minggu kedua dan sebelah hatiku semakin melayu. Selain
sudah rindu dengan aktifitas belajar-mengajar beserta anak-anak hebatnya,
hatiku semakin melayu mengetahui bahwa isolasi mandiri terus diperpanjang.
Belum, aku belum dapat memaknai semua yang terjadi belakangan ini. Saat ini
sebelah hatiku sudah semakin sibuk memikirkan bagaimana jika badai ini terus
datang dan meluluh lantakkan semua rencana kami. I was lost. Some people
asked me about the day. Sebelah hatiku kembali berkata “you don’t know
what I’m feeling inside!”, namun sebelahnya berkata “terimakasih sudah
peduli”.
Minggu ketiga ku jalani dan sepertinya masih belum ada
hal baik yang dapat aku petik dari semua ini. Ya, semenyedihkan itu hidupku
menuruti segala kesedihan ini. Sembari mengajar dari rumah, sembari pula aku
berusaha bangkit walau terseok. Kuhibur hati ini ”it’s just delayed, not
cancelled dear”. Aku yang tak punya riwayat sesak nafas, mendadak sesak
dadaku setiap aku membuka sosial media, terlebih ketika mata ini tak sengaja
menangkap berita-berita terkini. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak peduli dan
sebisa mungkin menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Bahkan
sampai detik ini pun aku berusaha menghindari untuk menulis nama virus itu.
Perhatikan tidak, bahkan judul tulisan ini pun kubuat sebisa mungkin tanpa
menyebut namanya. Sehebat itu pengaruh makhluk kecil ini pada hidupku.
Minggu keempat, aku sudah mulai terbiasa dengan
belajar daring ini. Hal yang pertama kali kulakukan pagi hari adalah absen via
online. Setelah itu dilanjutkan dengan distribusi materi pelajaran hari itu
sambil membersamai mereka belajar. Via orangtua tentunya. Ya, aku merasakan
betapa terbantunya aku oleh peran orang tua di saat seperti ini. Sedikit ku
mulai terlupa oleh kesedihan-kesedihan yang melanda. Selain itu aku juga
disibukkan oleh beberapa pelatihan online yang diprakarsai oleh
sekolahku. Aku mulai menikmati belajar dan mengajar dari rumah. Mulai
bersemangat mempelajari hal-hal baru agar belajar dari rumah tak membosankan,
tak menjenuhkan bagi kami, orangtua, dan siswa. Sedih? Masih. Hatiku masih
berandai-andai ‘seharusnya kemarin begini, seharusnya aku kemarin begitu, dan
andai andai lainnya yang kalau dituruti mungkin malah membuat aku semakin
terpuruk.
Minggu kelima, aku sudah mulai bisa menata hati
kembali. Aku melakukan banyak hal yang sering orang katakan sebagai me time.
Berkebun? Sudah. Berjualan online?
Sudah. Menonton film? Tentu sudah. Memasak? Sudah. Makan banyak? Tentu sudah
juga. Aku di minggu kelima juga sudah lebih focus dengan kegiatan
pembelajaran saja. Hal-hal yang berkaitan dengan virus itu masih aku hindari,
namun sekarang ada satu lagi yang aku hindari, yakni hal-hal yang berkaitan
dengan those kinda big days. Ha-ha, ribet sekali ya hidupku menghindari
ini dan itu. Tapi tak apa, Namanya juga berusaha. Aku berusaha hidup normal di
tengah ketidaknormalan yang terjadi. Berusaha tak bersedih di tengah kesedihan
yang melanda. Berat memang, tapi bukan berarti tak bisa terlalui, bukan?
Ada satu hobiku yang selama ini terlupakan. Bahkan
sudah bertahun-tahun terlupakan. Di minggu keenam ini tak sengaja aku
memulainya kembali. Dulu, malam hari sebelum tidur, sering sekali aku membuat
refleksi tentang kejadian yang telah terjadi pada hari itu. Kalau tak sempat
menuliskannya di blog, akan kusimpan saja dalam notes handphone. Kalau
tak sempat juga menulisnya di notes, cukup aku simpan di kepala saja
biarkan ia menari dengan sejuta kata lain yang tak sempat terucap. Ya, malam
itu tak sengaja aku termenung, mengingat semua kejadian yang berminggu ke
belakang telah terjadi, menarik ujung simpulnya lalu menuliskannya di blog. Hal
ini tentu saja membuat hatiku sangat lega. Plong. Seakan semua gundah dan
gulana tercurah habis di sana.
Aku melanjutkan refleksiku di minggu-minggu berikutnya.
Sampai saat ini, kami sudah berada di sekitar minggu kesepuluh kalau tidak
salah hitung. Banyak hal yang akhirnya aku sadari dan dapat aku petik hal
baiknya. Ya, melakukan refleksi sangat-sangat membantuku melalui saat-saat
seperti ini.
Pernah suatu hari aku kesal sekali karena ada beberapa
siswa yang tak kunjung mengumpulkan tugas walau sudah berusaha kuingatkan. Lalu
aku teringat perbincangan dengan seorang teman yang selalu berkata “selalu ada
alasan di balik seseorang melakukan sesuatu, dan terkadang hal itu tak
terpikirkan oleh kita”. Berbekal ingatan itu aku berusaha mencari tau alasan
anak-anak ini yang masih juga tak mengumpulkan tugas. Ternyata, dua anak
bersaudara tidak mengumpulkan karena orangtuanya sakit. Mereka saat ini hanya bersama
ayahnya yang masih aktif bekerja di tengah pandemic ini.
Anak yang lain,
ternyata memiliki dua saudara lainnya. Mereka berurutan kelas, mulai dari kelas
3, 4, dan 5. Mereka selalu terlambat mengumpulkan tugas. Lalu aku tersadar
betapa berat juga tugas orangtua mendampingi anak-anaknya. Bayangkan saja, dua
anaknya yang di kelas 3 dan 4 adalah muridku. Praktis mereka mendapat tugas
yang sama walau level nya berbeda (saat itu kami guru-guru English mengadakan
semacam projek). Belum lagi kakak mereka yang di kelas 5, juga mendapat tugas project
yang sama. Itu masih satu mata pelajaran ya. Bisa dibayangkan hal tersebut
terjadi setiap hari dengan banyak mata pelajaran yang berbeda dan tugas yang
berbeda pula.
Pernah juga aku merasa bahwa pandemi ini turut andil
dalam memporak-porandakan kedisiplinan yang telah guru-guru terapkan di
sekolah. Bagaimana tidak, beberapa orangtua terus mengirim tugas walau sudah
lewat jam kerja, rekor termalam adalah pukul 00.30 WITA. Belum lagi beberapa
yang ijin bahwa anaknya tak sempat mengerjakan tugas tepat waktu karena bangun
tidur kesiangan. Ya… kesiangan. Tapi perlahan aku berusaha menyadari. Banyak
hal yang melatar belakangi ini semua. Masih untung anak-anak itu mau
mengerjakan tugas. Bisa kubayangkan jadi mereka. Pasti membosankan sekali bagi
seusia mereka harus tetap di rumah dan belajar. Para orangtua tentu yang paling
mengerti anaknya. Berusaha sabar sambil menunggu mood si anak untuk
belajar. Tentu mereka sudah rindu berlarian bebas saat istirahat tiba. Bercanda
dan jajan di kantin bersama teman. Belajar bersama di kelas. Tentu mereka
rindu. Rindu dan jenuh. Aku mengerti itu. Karena akupun merasakannya. Kami
semua tentu tidak mau berada di keadaan seperti saat ini. Berat memang, tapi
harus disadari dan dijalani.
Sering juga aku dicurhati oleh para ibu yang semacam give
up mengajari anaknya di rumah. Yang tersadar bahwa berat sekali jadi kami
jika harus berhadapan dengan anaknya setiap hari (begitu katanya). Lain waktu
ada juga yang curhat mengenai anaknya yang susah sekali diminta belajar.
Tak sedikit pula orangtua yang dengan antusias
bercerita bagaimana anaknya dengan penuh semangat mengerjakan tugas yang ku
beri. Bahkan ada yang bercerita bahwa anaknya tak membolehkan ia memeriksa
tugasnya. Katanya, “miss Tita saja mah”. Ah, semakin rindu dengan
mereka. Lain lagi dengan satu anak ganteng spesialku, suatu hari mamahnya
menghubungiku tak lama setelah aku memberi tugas. Aku pikir mau mengumpul
tugas, ternyata mamahnya bercerita bahwa buku paketnya hilang sehingga ia tak
bisa mengerjakan tugas. Aku bilang padanya bahwa aku memakluminya. Tetapi tak
lama kemudian si mamah kembali membalas “miss apakah boleh diberi tugas
lain? R*** menangis karena ingin tugas dari miss Tita” Terenyuh hatiku.
Anak ini memang semangat sekali jika pelajaranku. Semua tugas ia kerjakan
dengan penuh niat. Video-video project pun ia kerjakan dengan penuh
totalitas. Aku tak menyangka banyak hal yang dapat aku petik dari semua ini.
Aku juga bersyukur saat itu tidak jadi menandatangani surat
resign dari kantor. Rencana Tuhan memang paling baik. Bahkan sampai
detik inipun aku masih terus bersyukur betapa aku sudah mengambil langkah benar
saat itu. Walau dengan penuh gejolak. Kalau saja saat itu aku jadi resign, ditambah
dengan diundurnya hari itu tentu bisa dibayangkan berkali-kali lipat
sedihnya aku saat ini.
Teringat juga dengan perbincanganku dengan ibu Kepala
Sekolah beberapa saat yang lalu. Beliau mengatakan yang intinya ”walau kita
sudah berencana 99%, Tuhan punya 1% nya and that’s all” benar sekali. 1%
itu lah yang dapat mengubah takdir. Tapi dari 1% itu pulalah aku belajar
banyak.
Sebagai mantan anak rantau selama selama kurang lebih
8 tahun, 8 ramadhan pula tidak ku lewati dari awal di rumah. Aku biasanya baru
bisa pulang h-seminggu lebaran dan hanya punya kesempatan sahur dan berbuka
dengan ayah-ibu di hari-hari terakhir ini. Selepas rantau, aku kembali ke
rumah. Tapi tetap saja ramadhanku tak bisa full di rumah. Sambil bekerja,
sambil buka bersama, dan sambil-sambil lainnya. Setidaknya aku dapat
berterimakasih karena lewat pandemic ini aku bisa merasakan full ramadan di
rumah tahun ini. Tanpa acara di luar. Benar-benar focus. Tiada hal yang
paling membahagiakan selain menjalankan Ramadhan bersama keluarga tercinta.
Kemarin adalah hari kemenangan bagi umat muslim di
dunia. Walau tahun ini berbeda, walau kisah terjalin maya, setidaknya Idul
Fitri tahun ini tetap memiliki sejuta makna. Jika selama ini kami melaksanakan
sholat Idul Fitri di lapangan/masjid, kali ini kami cukup melaksanakannya di
rumah dan hal ini merupakan sesuatu yang berharga bagi keluarga kami.
Setidaknya aku masih bisa beridul fitri dengan keluargaku sebelum aku memiliki
keluarga sendiri hihi. Kalau saja tidak ada pandemic ini, aku sudah tidak berlebaran
di sini sesuai rencana sebelumnya. Lagi-lagi ada hal yang masih bisa ku syukuri
lewat 1% milik Tuhan.
Oh ya, aku lupa. Jangan tanya kepadaku ya mengenai
kasus-kasus yang disebabkan oleh virus itu, karena akupun sudah tak pernah tau
lagi tentang beritanya terbarunya. Walau setiap hari TV di rumahku selalu
menyiarkan beritanya namun aku tetap hiraukan. Sungguh, jauh dari hiruk
pikuknya membuat hati ini makin damai dan aku tak lagi sesak nafas tentunya.
Mungkin tulisan ini tidak se-akademik tulisan lainnya.
Namun lewat tulisan ini lah kegundahan hatiku akhirnya dapat terurai. Senang
rasanya dapat menumpahkan kembali refleksi yang selama ini telah mengendap
penuh. Semoga pandemi ini segera berlalu dan semoga kita semua selalu diberi kesehatan
serta dalam lindunganNya. Aamiin.
Eunoia
– Greek
[yoo’-
noy - uh] – beautiful thinking, a well mind
Sangatta, 25 Mei 2020
No comments :
Post a Comment