Seperti biasa, malam itu aku sedang sibuk dengan segelas lemon tea panas yang baru saja aku seduh. Saat itu pula lah kau datang, membawa kabar yang entah aku harus senang atau sedih mendengarnya. Suara mu yang selalu lembut dan tatapan hangat dari lorong mata itu mengacaukan saraf-saraf kesadaranku seketika, namun ternyata kabar yang kau bawa tak sanggup mengacaukannya lebih lama dari biasanya.
Mungkin bagi sebagian orang kabar ini terdengar baik, tapi entah mengapa aku khawatir. Memang, ku akui mengkhawatirkanmu adalah satu kelemahanku. Semakin aku mencoba tak peduli, semakin aku khawatir. Aku takut hanya akan semakin kehilanganmu. Sudah cukup dengan semua yang terjadi. Bahkan walau kita setiap malam menghabiskan waktu bersama, kau dengan latte mu dan aku dengan lemon ku. Walau begitu, aku masih semakin tidak mengenalmu.
Dua hari sebelum hari itu tiba. Pukul delapan seperti biasa. Kita bertemu di sudut yang sama. Kali ini dengan perasaan tak biasa. Entahlah. Aku bingung harus sedih atau senang karena dalam hitungan jam akan terlepas dari semua belenggu ini. Rasa dingin menjalar seketika saat tangan itu perlahan menyentuh punggung tanganku yg sedang mengaduk segelas lemon tea seperti biasanya.
“Aku tahu kita banyak berubah. Banyak yang terjadi di antara kita dan mungkin gak kita sadari” ujarnya tiba-tiba.
Aku masih diam. Mataku menatap jauh dan nanar menembus melewati jendela yang ada di belakangnya.
“Aku tahu kamu juga kaget dengan keputusanku yang tiba-tiba seperti ini” lanjutnya. Well, tak terlalu kaget sih sebenarnya. Ucapku dalam hati.
“Hal ini berat buat aku. Tapi kamu ta...”
“Iya aku tahu ini semua mimpimu sejak lama dan aku harus selalu mengerti dan mengalah oleh mimpimu” potongku tak sabar dengan nada sedikit tinggi.
“Bukan begitu maksudku, Lana.” Jawabnya.
“Lalu apa? Maksudmu adalah, memintaku mengerti dan menerima semua keputusanmu yang hampir selalu sepihak itu bukan? Yang tidak pernah melibatkan aku di dalamnya tapi tetap harus kusetujui. Itu bukan, maksudmu?” Repetku tak henti.
“Kita, kita jadi seperti ini karena kamu. Aku tak lagi kenal kamu. Dan kamu? Entah bahkan mungkin kau lupa dengan wajah dan namaku kalau tak kuhubungi duluan. Selalu! Wanita macam apa aku ini. Hah!” Ku luapkan semua emosi ku yang kutahan selama ini. Tangannya melepas tanganku dan ia jatuhkan tubuhnya di sandaran kursi dan ganti ia yang menatap nanar.
“Kau tau bukan Lana sayang, ini sudah menjadi mimpiku bahkan sejak sebelum kita bertemu. Bukan aku tak mau melibatkanmu tapi kau tahu, aku bahkan sudah merancang ini jauh-jauh hari. Sekarang daripada kau marah-marah terus, lebih baik nih, makan dessert ini dulu. Enak lho. “ ucapnya dengan sabar seraya menyuapkan sesendok dessert yang telah kami pesan tadi.
Ya, dessert ini dessert kesukaanku sepanjang masa dan ia sangat tahu itu. Aku meraih sendoknya, berniat memakan dessert itu tanpa suapannya ketika tiba-tiba ujung sendok kecil itu beradu dengan sesuatu yang keras di dalam dessert cantik itu. Aku mengernyitkan dahi. “Bagaimana bisa sih sekelas cafe ini mengabaikan quality control. Bisa-bisanya mereka kecolongan ada batu gini di dessert aku” pikirku.
Aku berusaha menyingkirkan benda keras itu dan terhenti ketika kulihat sesuatu berkilauan dari dalam sana. Mataku terbelalak.
“Will you marry me, Alexandra Lanarie?” Ucapnya lembut seraya meraih tanganku sambil membersihkan cincin itu dari cream dessert yang menempel. “Well, maaf cincinnya jadi kotor sedikit. Tapi romantis kan? Hehehe” lanjutnya garing.
“.....” aku masih tak percaya.
“Lana, kau tahu, aku tak mungkin pergi tanpa kamu. Aku sudah siapkan segalanya untuk kita di sana nanti. Aku hanya akan pergi sebentar. Bulan depan aku akan kembali dan kita bisa mengurus semuanya”
“Itu artinya...” ucapku terbata
“Itu artinya kau harus menemaniku ke mana pun aku pergi walau ke ujung dunia sekalipun”
Aku masih terkejut. Tak percaya. Tak menduga bahwa ia telah mempersiapkan semuanya.
Perlahan aku mengangguk tanda setuju dan saat itu juga aku tersadar, a complicated mind will scared you no matter what.
No comments :
Post a Comment