Monday, 28 December 2015

Rindu Musim Ketiga

Rindu mengetuk malam
Membisik resah hati yang gelisah

Aku harus bertemu!
Sudah 2 musim aku melewatkannya
Ujar sang euphorbia

Kala itu ia sedang terpikat senja
Mendongak congkak,
Karena senja menjadikannya indah
Ketika sang anggrek lirih berbisik
Kau yakin akan bertemu?

Senja menanjak menurunkan sang surya
Seraya menggelap ia amati si euphorbia
Melihatnya ia sedih

Karena ia tau, musim ketiga akan tetap menumpuk rindu baginya.

Saturday, 5 December 2015

Terbuai Angin

Kelopaknya berjatuhan
Daunya menggugur
Entah kelopak entah daun, atau malah keduanya
Tersapu angin yang melintas bersama asa

Aku kan mewujud kembali! Ujarnya
Sang angin pintar. Ia lalu berhenti di pekat lumpur
Menidurkan asa, serta membujuk kelopak dan daun tuk tetap tinggal
Ia berhasil!

Kini, tinggallah kelopak dan daun bersama asa, yang tak akan tau kapan waktu tuk mewujud, di antara pekatnya sang lumpur.

Sunday, 15 November 2015

Aku Benar

Entah bagaimana aku akan menuliskannya
Yang jelas yang aku tau, aku salah.

Aku salah karena aku pikir jingga tak pernah datang

Aku salah karena aku tak pernah menyangka bahwa ternyata bunga yang layu, bisa kembali mewangi

Aku salah karena ternyata bintang tak pernah hilang, ia hanya sembunyi

Aku salah, karena pada awalnya aku yakin, sang kupu bisa terbang, walau hanya dg sayap yg nyaris robek

Aku salah, karena aku pikir malam selalu datang dengan puing rindu

Aku salah, karena ternyata pagi pun tak sanggup melepas sang rindu

Sekali lagi aku salah, saat ternyata puing rindu tersapu begitu saja, oleh sang senja

Baru setelah itu aku tau, bahwa aku benar akan satu hal.

Benar, bahwa aku mencintaimu.

Monday, 14 September 2015

Sepertinya Senja ku Salah

Kadang ku ingin lupa bahwa senja tak kan berhenti menjingga

Sama seperti ku ingin lupa pada luka.

Kadang walau sore menyapa, yang ku ingat adalah dingin malam

Terhempas dingin malam yang sudah ribuan kali rupanya hanya mitos                                

Karena aku masih juga percaya bahwa  detik rindu akan kembali pulang

Kadang aku ingin percaya pada pujangga

Tapi lantas sang ilalang lirih padaku bilang, bahwa mereka hanya bohong

Pelipur hati yang kosong.

Kadang ku juga percaya bahwa ini semua akan cepat berakhir

Sampai akhirnya jangkrik malam mengerik kecil, sang kunang meredup, dan si mawar layu, atau bahkan bangku taman yang mulai reyot

Yang aku percaya belum juga berakhir. Lucu.

Monday, 20 July 2015

Truly Sadly

I always hate the last night. Always
I never sleep in the last night. Would never.
Because you know?
When i close my eyes in the last night. It would never be the same.
It would change.
Just as fast the night changes.

I always hate the tears i cant hold
I always hate the flight even it is the very very last flight

Sitting here tryin so hard
Holding the tears i cant hold
Leave all the things i love
Leave all the things that hv started just yesterday.

If only i cud scream

I really dont want this,

happen.

Wednesday, 17 June 2015

Malam

Malam tak pernah serunyam ini.
Terhantui ku oleh rasa. Entah namanya apa.

Malam tak pernah sedingin ini.
Entah dingin malam nyata, atau dinginnya perasaan yang perlahan terkuak.

Malam tak pernah sesunyi ini. Hingga detak rasa saling bersautan. Merunyamkan segala buah pikir, yang tersusun rapi dalam imaji.

Malam ini seperti malam-malam yang lalu. Yang tak kunjung usai, mengulum rasa tak berujung.

Entah dingin, entah acuh, entah lelah.
Rasa sudah bertekad tuk terus menelusup.
Sampai pembuluh darah tergambar jelas oleh gelap malam.

Monday, 27 April 2015

Heart You

I know nothing
But you.

The way you stare
The way you spell the words of mine
The way you walk while i am watching you from the back

I am afraid of those eyes
I am afraid that i am gonna lose
Dont know where my words go
I am afraid they are not coming back

Even before i am saying,
I heart you

Tuesday, 24 March 2015

Selalu

Mendebu lah ia
Yang setiap tertiup angin, hilang, dan lalu muncullah koloni koloni barunya

Mencair lah ia
Setiap ia bersikeras untuk membeku karena tiba tiba ditiupinya ia dengan kata-kata itu

Seperti ilalang yang selalu tumbuh walau terpangkas
Selalu menari indah walau ujungnya rapuh

Rapuh, seperti perasaannya yang selalu tumbuh.

Sunday, 15 March 2015

Love, Rose

'Aku tidak bisa begini terus Rose'

Kata-kata itu masih terngiang sampai detik ini. Aku menyeruput sedikit machiatto ku sementara tanganku yang lain memegang handphone, berusaha menghubunginya.

Langit sore tadi begitu indah, semburatnya berwarna ungu, namun ada juga yang berwarna jingga. Perpaduan warna langit yang maha indah itulah yang berhasil membuatku memaksanya keluar dari kafe dan mengajaknya untuk mengambil beberapa foto aku dengan si langit.

Tiba-tiba kulihat dari seberang jalan ada seorang wanita melambai lambai mencoba memanggilku, oh shit, ternyata wanita di dalam mobil itu adalah Lauren. Pantas sedari tadi aku merasa familiar dengan sedan itu.

Aku refleks mendorong Alan menjauh dariku dan mencoba menutupi Alan dari Lauren, seraya berbisik padanya 'go inside, ada Lauren honey'. Aku tau Alan sudah gerah dengan semua ini. Aku bisa merasakan langkahnya yang enggan masuk kembali ke kafe.

Aku lalu membalas lambaian tangan Lauren seraya menghampirinya ke seberang sana. Bagiku lebih baik aku yang ke sana daripada ia harus melihat Alan.

"Rose how s life darling!' Suara Lauren yang ceria membuat aku semakin merasa bersalah.

" Im good Lauren, been a month right? Kamu sibuk banget sekarang hehe" aku tau suara dan kalimatku amat sangat terdengar dinas sekali.

Berikutnya yang terjadi adalah Lauren yang sedikit memaksa untuk melanjutkan pertemuan ini di kafe itu, yang dengan halus aku tolak " aku sedang mendiskusikan project Lauren, apa kau tidak keberatan kalau.... "

"Ah, ya! Pasti dengan lelaki tadi ya? Wah, aku pikir itu tadi pacar kamu"

"Errr iya, tadi aku dan dia hanya sedang mencoba mencari spot foto untuk project kok" well, secara tidak langsung aku mengatakan bahwa lelaki itu adalah pacarku. Untung Lauren tidak jeli-jeli banget dengan soal beginian.

Lauren akhirnya pergi setelah percakapan 10 menit kami yang literally di pinggir jalan itu. Aku berlari kecil kembali ke kafe, sesampainya di sana, tak ku dapati Alan. Aku kembali ke kursi dengan perasaan yang tak karuan. Alan pergi begitu saja? Ada apa?

Tiba-tiba ada seseorang menepuk lembut pundakku, Alan.
'Sorry tadi ke toilet, honey i have to go, maaf kamu pulang sendiri dulu ya. Take care'

Alan tiba tiba muncul di belakangku, aku tau ada yang salah dengannya, maka aku menarik tangannya, ikut berdiri dan berkata 'aku ikut ya hon'

Ia menuntunku kembali ke kursi dan berkata 'Gausah. Kamu di sini aja, nanti kalau di jalan ketemu Lauren gimana'. Kata-katanya tenang namun menusuk.

"Honey tapi..."

Belum sempat aku melanjutkan kata kata ku, ia memotongnya dan berbisik
"Aku tidak bisa begini terus Rose"

Lalu ia pergi. Dan aku masih duduk di sini. Menyesap macchiato gelas kedua ku.




Saturday, 7 March 2015

Entah Kapan


Sudah lama aku merindukan saat-saat seperti ini. Menikmati waktu santai setelah seharian penat oleh urusan kantor yang setiap saat menggunung. Hujan masih menari di luar sana, dari dalam aku mengaguminya, sama seperti aku mengagumi Norah Jones yang lagu-lagunya sudah entah berapa ratus kali aku putar sejak di mobil tadi, hingga sekarang, ketika aku duduk di meja kerjaku dengan greentea panas di samping laptop. Meja ini sengaja aku letakkan menghadap jendela, supaya aku bisa dengan mudah menikmati malam dari atas sini. ya, aku selalu cinta malam dengan kerlip lampunya yang menggoda. Mereka indah tanpa mereka sadari. atau mereka sudah sejak dulu sadar, makanya mereka semakin menggodaku. Entahlah. 

Aku meraih handphone ku yang berbunyi. Satu pesan masuk, dari dia. 

Kalau kau pernah dengar bahwa akan ada seseorang yang jauh lebih baik setelah kau kehilangan yang sebelumnya, percayalah bahwa hal itu memang benar adanya. Aku sudah lupa rasanya bahagia ketika itu, ya, karena apalagi kalau bukan, patah hati. hatiku benar-benar kosong bahkan sempat aku mengumpat dan menyalahkan cinta. Namun apa? aku semakin hancur, dan mungkin Tuhan kasihan padaku hingga pada akhirnya ia mengirimkanku dia. 

Saat itu kami berdua ditugaskan boss untuk menghandle satu proyek while si boss sendiri sedang honeymoon ke dua katanya. Aku ingat bagaimana wajahnya yang konyol ketika mengumpat setelah mendengar alasan si boss, sambil ia berkata " well, the perk of being single." 

Dua minggu menghabiskan waktu bersama, walaupun lebih banyak kami habiskan untuk masalah proyek, namun, ada yang berubah dari kami. Sudahlah, tak usah aku jabarkan karena kau pasti tau. awalnya aku tak percaya bahwa hatiku bisa secepat ini pulih. dan yang lebih tak kupercaya adalah, hey, itu dia! seseorang yang tak pernah aku sangka. Bahkan sebelum bekerja sama dalam proyek, bisa dihitung berapa kali kami bertegur sapa di kantor.  

Aku menikmati semua ini, perhatiannya, keluh kesahnya, cerita konyolnya, dan semuanya. Jujur terkadang aku tak tahu apa dia hanya pelarianku atau aku memang ya, kau tau, aku bahkan takut mengatakannya, karena,

temanku juga mencintainya. Lebih dulu.

Aku sungguh tau bagaimana rasanya, ketika kau mencintai orang  yang dicintai karibmu juga. Bahkan aku sempat mengutuk orang-orang yang tega membiarkan sahabatnya terluka melihat yang tercinta nya bahagia dengannya. Di mataku mereka benar-benar, yah, kalau ada kata-kata lebih dari tega, mereka lah itu. Aku tak mau jadi orang seperti itu. Namun itu dulu, nyatanya? sekarang aku selangkah menjadi seperti mereka. 

Aku tidak mau mengecewakan dia karena aku tau bagaimana ia mengagumi pria ini. Namun aku juga tidak mau munafik bahwa aku nyaman bersamanya. Mungkin kau bisa bilang, hanya nyaman! belum cinta kan? hey, hati orang siapa yang tahu.

Aku sudah bilang padanya bahwa ada wanita lain yang mencintainya dan wanita itu adalah temanku sendiri. Namun kau tau apa tanggapannya? 

"Itu hak dia untuk suka aku, tapi aku juga punya kan? kita juga punya hak untuk bahagia, dan as long as kita sama-sama single, why not? "

aku memainkan sedotan yang ada di gelasku sambil berkaata "tapi dia temenku, dan you know lah gimana kalau dia tau"

"listen, aku cuma gebetannya bukan? she doesnt have to be jealous, unless i am her man"

"but try to put urself in her shoes deh, sakit pasti. aku gak mau nyakitin temen aku sendiri"

" i know it. i know it well because i was another her hahaha"

"what do you mean by.." 

tiba-tiba dia meraih tanganku yang sedang memainkan sedotan itu. 

"hey, look at me, lemme tell you. i know this is hard. for me, because i know im gonna bring you to a problem honestly i dont want this happen. and for you, karena kamu harus jaga dua hati orang yang sama-sama tidak mau kamu sakiti. dan dia, karena dia akan kecewa, benar-benar kecewa sama kita berdua. "

tangannya masih menggenggam erat tanganku, dan matanya masih menatapku dalam, teduh, dan mengunci mataku. " dan itu yang tidak aku inginkan"

"you know, time will heal everything. waktu yang akan buat dia sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa berjalan sebagaimana mestinya, dan aku juga sedang menyiapkan hati kalau saja hal itu terjadi, well, you know what i mean kan.  percayalah, waktu juga yang akan buat dia sadar bahwa she desevres better than me, she will. kita gak tau waktu itu kapan but she will." 

"tapi.."

"dan aku juga akan biarin kamu sampai menemukan waktu yang tepat untuk beri aku jawaban atas semua ini, coba di pikirin lagi ya."

begitulah dia yang kekeuh bahwa waktu will heal everything. dan sampai detik ini, sampai ponselku bergetar karena pesannya, aku masih belum memberinya jawaban. aku sudah tau jawaban itu namun entahlah, tapi aku merasa hati ini belum akan siap sampai.. entah kapan. 


aku membalas pesannya, dan semenit kemudian, dia menelpon ku. sama seperti malam-malam sebelumnya, seolah tak pernah ada masalah ruwet ini muncul di antara kami. Aku melupakan suara hujan yang berganti oleh suaranya, mematikan playlist Norah Jones ku, naik ke tempat tidur dan menghabiskan beberapa menit bercengkrama dengannya, sampai akhirnya aku mengantuk. dan dia mengakhiri pembicaraan. 

"good night hon"

Sunday, 8 February 2015

The Perks of Broken Heart

Someone said that all you hv to do when you r broken heart is just let the feeling through ur heart. Feel it. Feel the broken. Feel the pain. Feel the phase and you will be okay.
You might say, oh no! Thats only a crap. No one will be better with only feel the broken heart itself. U must be joking.
All i wanna say is yeah, it is right. But it was me, before i realize there is nothing i can do but feel it. What can u expect when ur enemy and you only have 0 kilometer apart? Nothing.
So then i start to feel it. Feel the broken heart. It sounds silly but it really works for me.
I let myself cry out loud, cry on everything weve been through, regret all the things happened, it was all about tears. Until i hit the point that 'omfg im tired of tears"
It was need about a week or more (i forget) for myself to get through this "tears phase". After that, im coming up into the what usually ppl call as "galau" phase. I listening all the ballad songs in my playlist. Still dealing with tears. can you imagine what a great combination among fragile heart, ballad songs, and tears. I really screwed my self up. But i dont know i just enjoy it. Enjoy the pain that killing me. Am i sound creepy? Yes. Bc it is the only way.
The next phase is what i call with "another me " phase. Here, my heart is not fragile as before. I started to hate him. I dunno what s the different between pretending dont care and hating. But from what i remember that he was really annoying in front of me. At the moment i just feel like he s the biggest holy shit crap in the world. Even silly Alan is way much better than him. Even Kurt, is also way much much better than him. Nothings regret bout him. I put all of my hatred on him. Oh no, poor him. Beside, i also changed my hair color. Recolored it once or two a week. Cut my hair about 3 times in a month. And i didnt fcking care with the hell diet things. I ate everything. And also still, sarcas everthng. See? Im a way into crazy. I think i shud go to the Kutcher's beach condo and start to living a new live with him and silly Alan.
I feel the phases... I through them... Now im in the phase that probably in 'being-ok" phase. I dont know but i read somewhere when u can tell ppl ur past while u laugh at it, u r ok. U r fine. And voila! Just catch myself laugh at the crap when i tell it to my friend. No more tears.
And now here i am. In the "stable" phase lol. Bc what? Now i can smile in front of him, not pretending to be strong because im purely strong. Not pretending to be ok because i am okay (in some cases, not). Im trying to see the crap from different point of view. What if a what if b what if c. But i dont wanna lie that sometimes little things can bring him.back to you. Just feel it. U will accept that yah, you were got the chance.
Im not gonna say that u r totally ok bc u will never be totally ok. Note that. Unless u date Kutcher, u will suddenly forget even ur sweet first kiss with ur enemy. Nothings wrong with broken heart. We dont hv to avoid it. Pretending to busy all the time hope that it will carry ur pain away. No, you wudnt. Feel it.. It s just the phase that everyone is going through.
You know, i was like 4times planned and outlined what im going to write here, about this heart things. But it was always stuck in the middle. Until tonight, it was just like suddenly ur heart is saying " u greatly passed this exam honey, " and now i know why. Now i know that i am ok to write all the things down.
You-will-be-fine. In time.

Thursday, 1 January 2015

Crap

It is never easy, will never be.
Nothing's right in their eyes.
oh no, maybe just my imagination.
oh no. my heart is screaming out loud. 
dunno whether it is right or not
dunno what im supposed to do next
dunno what am going to write
dunno exactly what im feeling inside
when home is the only place you belong
when suddenly it is change into something you dont know
then you have no idea bout where u should go after all,
where is the shoulder to cry on