'Aku tidak bisa begini terus Rose'
Kata-kata itu masih terngiang sampai detik ini. Aku menyeruput sedikit machiatto ku sementara tanganku yang lain memegang handphone, berusaha menghubunginya.
Langit sore tadi begitu indah, semburatnya berwarna ungu, namun ada juga yang berwarna jingga. Perpaduan warna langit yang maha indah itulah yang berhasil membuatku memaksanya keluar dari kafe dan mengajaknya untuk mengambil beberapa foto aku dengan si langit.
Tiba-tiba kulihat dari seberang jalan ada seorang wanita melambai lambai mencoba memanggilku, oh shit, ternyata wanita di dalam mobil itu adalah Lauren. Pantas sedari tadi aku merasa familiar dengan sedan itu.
Aku refleks mendorong Alan menjauh dariku dan mencoba menutupi Alan dari Lauren, seraya berbisik padanya 'go inside, ada Lauren honey'. Aku tau Alan sudah gerah dengan semua ini. Aku bisa merasakan langkahnya yang enggan masuk kembali ke kafe.
Aku lalu membalas lambaian tangan Lauren seraya menghampirinya ke seberang sana. Bagiku lebih baik aku yang ke sana daripada ia harus melihat Alan.
"Rose how s life darling!' Suara Lauren yang ceria membuat aku semakin merasa bersalah.
" Im good Lauren, been a month right? Kamu sibuk banget sekarang hehe" aku tau suara dan kalimatku amat sangat terdengar dinas sekali.
Berikutnya yang terjadi adalah Lauren yang sedikit memaksa untuk melanjutkan pertemuan ini di kafe itu, yang dengan halus aku tolak " aku sedang mendiskusikan project Lauren, apa kau tidak keberatan kalau.... "
"Ah, ya! Pasti dengan lelaki tadi ya? Wah, aku pikir itu tadi pacar kamu"
"Errr iya, tadi aku dan dia hanya sedang mencoba mencari spot foto untuk project kok" well, secara tidak langsung aku mengatakan bahwa lelaki itu adalah pacarku. Untung Lauren tidak jeli-jeli banget dengan soal beginian.
Lauren akhirnya pergi setelah percakapan 10 menit kami yang literally di pinggir jalan itu. Aku berlari kecil kembali ke kafe, sesampainya di sana, tak ku dapati Alan. Aku kembali ke kursi dengan perasaan yang tak karuan. Alan pergi begitu saja? Ada apa?
Tiba-tiba ada seseorang menepuk lembut pundakku, Alan.
'Sorry tadi ke toilet, honey i have to go, maaf kamu pulang sendiri dulu ya. Take care'
Alan tiba tiba muncul di belakangku, aku tau ada yang salah dengannya, maka aku menarik tangannya, ikut berdiri dan berkata 'aku ikut ya hon'
Ia menuntunku kembali ke kursi dan berkata 'Gausah. Kamu di sini aja, nanti kalau di jalan ketemu Lauren gimana'. Kata-katanya tenang namun menusuk.
"Honey tapi..."
Belum sempat aku melanjutkan kata kata ku, ia memotongnya dan berbisik
"Aku tidak bisa begini terus Rose"
Lalu ia pergi. Dan aku masih duduk di sini. Menyesap macchiato gelas kedua ku.
No comments :
Post a Comment