Saturday, 19 July 2014

Mencari Rindu,

Hei rasa rindu, rindukah menghinggapiku? Iya, sepertinya aku kangen rindu. Aku lupa bentukmu, sekarang tambah gemuk atau kurus?

Hei rindu, apa kamu masih suka tidak sabaran? Masih sering panik? Was-was? Susah makan dan tidur? Sudah pergi ke dokter belum?

Hei rindu, banyak yang merindu, kamu, sebal yang mencandu. Datanglah terburu-buru

Tapi rindu biasanya datang sepaket dengan sang Adam, apa kalian sudah bertemu? Jika sudah, cepatlah kalian menujuku, nanti kita main bertiga

Rindu, kata temanku kamu sekarang tergeletak, tak bergerak

Kamu ada di mana? Aku mau jenguk! Aku mau merawatmu

Rindu itu nampak ketika ada jarak. Rindu itu candu kala tak bertemu. Rindu itu semu kala terbatas ruang waktu

Rindu itu kamu.
Rindu juga bernafas, apa kau tahu?

-Sadgenic-

Thursday, 17 July 2014

A Tree is You

A portion of your soul has been entwined with mine. A gentle kind of togetherness, while separately we stand.

Menjauh, dan menjauh. Semakin kau tumbuh semakin kau jauh. Dekat, namun tak bersatu, beriringan di kesunyian. Terbelai angin, yang membuatmu kadang mendekat, namun tak jarang jua menjauh. Apakah kita akan tetap seperti ini? Jangan seperti pohon-pohon ini. Jangan.

Tuesday, 8 July 2014

Delusi Sempurna

Pagiku sempurna
Karena kau lah Pagiku.
Malamku ikut.
Sudah tentu kau
Seperti matahari yang akhirnya bertemu bulan
Seperti musang kecil yang berhasil
Mendapat buruan pertamanya
Seperti ombak yang mengabarkan pasir pantai tentang bahagia
Seperti dua ekor merpati yang bercumbu di pucuk tertinggi akasia
Seperti itulah aku mendengar suaramu.
Karena sempurna adalah kau,
Yang mengisi setiap sepi yang menyergap.
Kemudian aku terbangun terbelai angin
Suara itu hilang.
Ia masih di sana.
Mungkin lupa tuk kembali
Pagiku masih sepi
Malamku tetap sunyi
Ia hanya delusi.

Monday, 7 July 2014

Di Sore yang Merindu

Tiba-tiba aku merindumu
Sore yang mempertemukan hari dengan gelap,
Ke mana sore ku?

Tiba-tiba aku merindumu
dengan segala jenis senyum  merekah
yang memperlihatkan deretan putihmu yang terjerat
seperti harapanku,
tentang sore.

setiap aku menjerang fajar
aku ingin cepat menyorekannya
demi kamu

Tak biasa nya aku merindu sore
karena ada siang yang mengelabuiku

Tapi siangku pun pergi
Hingga ternyata aku lupa cara menerik

Aku nyaris layu, lama tak bersinar
Dahan-Dahan rapuh pun sanggup menopangku
yang kering akan asa

Lalu sore itu datang.
ya, kau, soreku. 
yang mempertemukan langit hari dan maLam.

mengobati hati Yang sudah lama tak bersinar. 


Di senja yang merindukanmu