Tuesday, 6 May 2014

Ruang Luka

           Aku hanya sedih karena aku tak dapat memberikan senyum itu. Senyum yang hanya memiliki satu arti, dan pasti. Bagaimana bisa seseorang tetap tersenyum bersamaan dengan perihnya. Teriris di saat kau menatapnya, namun senyuman tetap tersungging, melukis indah baik di wajahmu dan wajahnya. Jikalau aku bisa memilih, aku tak akan membiarkan diriku terhanyut dan hancur bersamaan dengan hancurnya senyuman, namun aku bisa apa jika Tuhan. 
          Sungguh, baru kali ini aku tersenyum sambil sebelah hatiku mengaduh perih. Ku kira aku baru saja merasakan apa yang orang-orang sering bilang dengan sok tegar. Kalau kau bertanya apa ada yang salah dengan hatiku, ya, jelas ada. Karena baru kali ini aku benar-benar merasa perih. Mungkin aku berlebihan, tapi bisa kau bayangkan bagaimana lukamu yang masih segar itu harus dikucuri perasan air jeruk nipis. 
         Kau adalah orang yang dapat membuatku menangis dan tersenyum dalam satu waktu. Bagaimana bisa kau menjadi sumber kebahagiaan sekaligus sumber kahancuran bagi jiwa yang rapuh ini. Bahkan ketika aku menebar senyum, sebenarnya aku menebar kehancuran jua bagi diriku sendiri. Mengapa aku terlalu bodoh untuk terus terjebak dalam permainan yang aku ciptakan sendiri.
         Mungkin dulu tak seharusnya aku mengajakmu bermain-main di padang ilalang ini. Terlalu riskan. Apalagi bagi seorang wanita rapuh seperti aku ini. Menyadari kebodohanku yang mengajakmu menjelajah setiap sudut padang ilalang, yang telah berubah menjadi lautan darah. 
         Hidup kita terlalu dekat. Bahkan sangat. Kau ingat tembok itu? Aku bahkan sekarang tak yakin apakah tembok itu akan tetap berdiri kokoh, aku tak yakin tembok itu mampu melindungi pemiliknya dari serangan-serangan kekacauan yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Aku tak yakin tembok itu mampu menahanku untuk tidak berlari menghampiri kehancuranku sendiri. Mungkin ia yang kokoh itu akan roboh begitu saja, luluh lantah menelusup ke dalam tanah bersamaan dengan hancurnya ego, dan datangnya kehancuran-kehancuran yang baru. Kehancuran kali ini pasti maha dahsyat. Dan mungkin tak akan ada tembok yang sanggup menahannya. 

No comments :

Post a Comment