Monday, 5 May 2014

Berhenti


Sudah separah itukah? Sampai pada akhirnya aku harus berhenti membenci. Aku tak sanggup lagi membenci. Lalu aku berhenti. Mungkin kau bertanya-tanya apa yang salah padamu , sehingga seakan akan kita hidup di dua benua yang berbeda, berpisah entah berapa ratus mil jaraknya. oh, atau malah tak pernah terbersit sedikitpun, olehmu, tentang dinginnya siang yang hampir menyamai dingin malam di kutub sekalipun. kau tentu tak pernah berepot-repot membuat pikiran-pikiran tersebut melintas, melenggang indah melewati setiap sel-sel saraf otakmu yang terlalu brilian itu. 

Bahkan ego ku pun tak mampu mengalahkan tembok yang susah payah telah aku buat selama dua hari ini. Bagaimana bisa hatiku tetap mencelos, ketika melihat bayangmu yang melintasi padang ilalang itu, sendirian. Bagaimana aku bisa tetap menjaga jantungku untuk tetap pada tempatnya, sementara aku sendiri tak bisa mendekap dan mengikat pikiranku untuk membuatnya berhenti berlari-lari pada cerita semu yang kau tuliskan.
  Belum. Tembok itu belum sepenuhnya runtuh. Ia hanya sedikit retak. Rupanya ego masih lebih menyayangku daripada kamu, karena begitu bayangmu sirna bersamaan dengan redupnya lampu hias taman, ego segera berlari dan mendekapku, membisikkan dengan lembut bahwa aku masih punya dia, dan tak ada yang lebih baik daripada berada dalam dekapannya saat ini. Tembokku tak jadi roboh. Ia hanya retak.
 Kau tau, saat ini aku sedang memainkan peran. Peran terpenting dalam setiap jengkal hidupku. Namanya berperan pura-pura. Mungkin terdengar aneh, dan ya memang aneh. Kaulah yang membantuku mendapatkan peran itu. Wah! Betapa baik sekali kamu. Dalam peran itu, aku diharuskan berpura-pura, membohongi dunia bahwa aku adalah gadis yang paling baik baik saja di dunia ini. mengelabui setiap insan yang kutemui dengan senyum paling manis yang telah aku latih semalaman di depan kaca. Kau mau tau rahasia? Tak mudah melakukan ini pada awalnya, namun, sekarang aku sudah mahir melakukannya. Dan orang yang paling berjasa? Tentu saja kamu! Terimakasih sekali lagi karena kamu.

Aku tak pernah mencoba berlari, karena aku sangat payah dalam pelajaran berlari dulu semasa sekolah, dan aku yakin tak ada yang berubah dengan hal itu. Yang aku lakukan adalah berhenti. Menyerahkan diriku pada pihak berwajib, karena aku sadar aku telah terlalu banyak mengkonsumsi ganja. Menikmati setiap sensasi yang diberikannya. Kaulah ganja itu. Terkadang aku berpikir, kenapa Tuhan menciptakan ganja untuk kemudian dilarang peredarannya. Sama dengan halnya ketika Tuhan mengijinkan makhluknya, yaitu kamu, untuk menelusup ke dalam hati rapuhku, lalu kemudian blaah! Tak ada cahaya terang lagi setelahnya. Lalu untuk apa Tuhan mencipta rasa?

Lalu , kenapa kau masih saja berjalan sendiri, menepis banyak ilalang-ilalang pengganggu itu sendiri. Andai kau mau, akulah satu-satunya orang yang akan menemanimu melewati padang itu, kita akan menggelepar bersama di sana, menikmati indahnya musim panas, melewati musim semi, menatap langit luas sambil bercumbu dengan rumput hijau. Menikmati pijaran-pijaran bintang, yang aku kira sudah punah, beralaskan jerami hangat di temaram sinar bulan yang anggun. Seanggun cara kau menatapku, semanis kau bicara padaku. Seindah cara kau menyentuh setiap jengkal titik imajiku. Sehangat keindahan yang merusak kerja smeua saraf-saraf ku, membuatnya berlari-lari tak pada tempatnya. Semudah aku menjatuhkan diri pada  Nah! egoku mulai mendekap kembali bukan. Aku tak seharusnya membiarkan otak ku merangkai imaji imaji indah di tengah padang. Mengapa kau terlalu indah? Kau hanya terlalu indah untuk terus ku jadikan objek-objek yang terus menerus berlari lari. Kau tak lelah?
 Terkadang aku lelah, untuk selalu berlari sendiri. Sementara kau dengan anggunnya, berjalan dengan gagahnya. Kita melewati padang itu bersama. Bedanya kau perlahan, dan aku berlari. Sudah ku bilang bukan, bahwa aku sangat payah dalam hal berlari. Itu sebabnya aku berhenti. Tenaga ku tak tersisa. Hilang dan menguap, terbang bersama kapas-kapas ilalang yang rapuh itu. 

No comments :

Post a Comment