Sudah beberapa hari ruangan di sudut sana kosong. Yang punya sedang menikmati hari. ah ya, kau tau? Hari-harinya begitu indah beberapa hari terakhir. Ia baru saja menyadari bahwa ternyata masih ada bintang di atas sana. Sang empunya baru menyadari bahwa balon-balon tipis nan rapuh yang terbuat dari bulir sabun itu terlalu sayang untuk dilewatkan.
Ya, seminggu belakangan ini, setiap sepulang kuliah, ia selalu ke tempat itu. Hanya untuk sekedar meniup balon sabun dan menikmati senja bersama terbenamnya matahari kemerahan. ah, rasanya seperti kuning telur yang menggemaskan. Lalu, beberapa saat kemudian tibalah waktunya ia menatap langit dan menghitung bintang-bintang di atas sana. Ternyata bintang masih ada, ia masih terlihat biru dan menyenangkan, serta kerlipnya yang menenangkan. Ke mana saja ia? Terlalu sibuk dengan kepedihan hati.
Kembali ke balon sabun, kalau saja dari dulu ia tahu bahwa hanya dengan meniup-niup sedotan ini bisa menghasilkan kebahagiaan tiada tara dan meluruhkan kepedihaan, ia tentu tak perlu semenyedihkan ini.
Sekarang ia tersadar, tak semua kebahagiaan lahir dari hal yang besar. Dan baginya kini, bahagianya cukup dengan balon sabun dan berteman bintang.
No comments :
Post a Comment