Friday, 13 June 2014

I Almost Do

Terkadang hidup memaksa kita untuk memilih hal terberat sekalipun: menghindari cinta yang tidak cinta. Tapi percayalah semakin kau menghindarkan dirimu dari belenggunya, semakin jua ia mengikatmu dalam belenggu kepedihan. Rumit bukan? 

Ketika kau memutuskan untuk berhenti berputar pada dunianya, sesungguhnya itulah titik terberat di mana kejujuran dan keteguhan hatimu diuji. Mau terus, atau cukup sampai di sini? Akan selalu ada pergulatan antara sisi hatimu yang berkata kau harus menyudahi ini semua, dan sisi lain yang mengejekmu seolah berkata "selemah itukah kalian sehingga harus sampai di sini?" 

Ketika jurus menghilang menjadi satu-satunya cara yang kau anggap paling manjur. Ya, paling manjur untuk menempatkan dirimu pada titik kehancuran. Terkadang kau bangga dapat menghilang dari pandangnya walau sekejap, sembari membayangkan apakah bayangmu sempat mampir di pikirannya. Terkadang kau juga sedih mengapa kau tega membiarkan hatimu tergerus. Membiarkan lamunan-lamunan tentang kau dan dia melayang bebas di pikiranmu. 

Percayalah, ini tidak mudah. Tapi aku akan tetap menghilang, sampai entah kapan. oh, setidaknya sampai Tuhan benar-benar meniupkan keikhlasan pada hatiku untuk melepas ini semua. Namun bolehkah jika aku masih berharap Tuhan akan meniupkan setitik keajaibannya untuk hatimu, dan hatiku? Tidak apa-apa bukan?

No comments :

Post a Comment