Sunday, 27 April 2014

Hujan Rasa

Aku ingin
Menulis lebih banyak lagi puisi
Untukmu

Aku tak peduli malam
Tak peduli kelam

Kau tetap dingin.
Dan aku hujan.

Seperti siang, yang hujan
Seakan menyayangku dan berkata
Aku turun untukmu wahai puteri.

Kau ingat bagaimana puteri mencari pangerannya?
Ia hujan karena pangeran, dan berlindung dari hujan kepada pangeran.

Dunia sungguh tak adil bagi puteri.
Ia dihujani rasa.
Yang tak jelas bentuknya.

Sang pangeran sudah terlelap
Mungkin ia lelah menjaga puteri seharian
Melindunginya dari hujan.

Ah. Hanya perasaan puteri saja mungkin.

No comments :

Post a Comment