Sedetik lalu kekuatan itu datang
Dan bilang pada sang puteri.
Sudahi saja.
Akan ada aku di sini. Sudah.
Sang puteri sedih.
Tak tau harus bagaimana.
Haruskah ia tak menjaganya lagi
Ia kuatir.
Ah.
Bukannya Tuhan membuatnya menjadi pangeran yg kuat?
Tidak. Bukan dia, tapi sang puteri.
Sang puteri lah yang bermain
Sang puteri lah yang menjaga
Sang puteri lah yang melepas
Ia gagal.
Ia tetap puteri yang cengeng.
Tuhan menguatkannya tapi tidak dengan si puteri.
Ia tetap lemah .
Apakah memang seperti itu? Tapi untuk apa?
Selain menyakiti.
No comments :
Post a Comment