Tuesday, 25 December 2012

Look! We are in Fire!





Saya hampir lupa post moment paling cetar di bulan Desember, tepatnya tahun lalu. Jadi di pertengahan bulan tsb, kawasan rumah bude saya, which mean where i lived, tertimpa musibah, yaitu kebakaran. Kebakaran ini merupakan kebakaran terbesar yang pernah ada di Balikpapan. Can you imagin how scary it was?
Jadi ceritanya, sekitar pukull 00.00 saya dan mba Lin bersiap untuk tidur, setelah mengucapkan selamat tidur, kami masuk ke kamar masing-masing. Saya sedang menggelar bedcover ketika terdengar bunyi kretek kretek, seperti tumpahan air. Firstly saya pikir itu adalah air tandon yang penuh, namun kenapa pakde tidak kunjung mematikan krannya. Lalu saya beralih pikiran ke hujan, mungkin saja itu hujan. Tapi kenapa hanya terdengar di satu tempat, dan atap di atas saya pun tidak bunyi kretek-kretek. Ketika sedang memikirkan itu mba lin mengetuk kamar dan bilang "denger ngga ada kretek-kretek?" Akhirnya saya dan mba lin ngintip lewat jendela. Jalanan sepi, dan terdengar sayup-sayup orang berteriak "kebakaran-kebakaran!!" Saya dan mba lin masih berpikir, ah mungkin jauh dari tempat kami, sampai akhirnya terdengar ketukan bude lewat dapur sambil berteriak "lina tita bangun! Kebakaran! Cepetan!" Kami yang kebingungan segera buka pintu dapur dan mendapati api sudah melambai-lambai dari jarak yang tidak lumayan jauh. Mba lin segera membangunkan anak-anaknya sementara saya malah bingung dan sempat-sempatnya tanya "terus tita harus bawa apa?" Honestly ini pertama kali saya berada di keadaan super genting seperti ini. Akhirnya tak ada yang saya bawa kecuali ijazah dan dompet, serta charger handphone hehe. Saya gak kepikiran apa-apa saat itu, bukan karena saya kalut atau apa tapi entah mengapa saya yakin bahwa api tak akan sampai tempat kami. Mba lin dengan sigap mengeluarkan mobil dan membawanya ke tempat yang agak jauh sebelum keramaian membekap mobil dan akhirnya tidak bisa keluar nantinya. Anak-anak mba lin segera masukkan mobil, saya pun turut di suruh ikut, padahal saya pengen lihat kebakarannya. Sementara keadaan sudah mulai ramai dengan orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri dan barang-barang mereka, pakde, bude dan mas rio tetap berada di situ karena menjaga rumah. Sedangkan mba lina keep in touch dengan mas nank by phone utk memastikan kami baik-baik saja. Saya ingin menyaksikan kebakaran dari dekat namun mba lin melarang supaya saya tetap bersamanya. Api semakin membesar dan telah melahap sebagian pemukiman, lebih dari 3 pemadam di kerahkan namun tak kunjung memadamkan api. Rumah pakde ternyata di bongkar secara paksa oleh orang-orang dengan dalih menyelamatkan barang. Padahal pakde dan bude tidak memintanya. Bahkan ada kejadian saat ada orang tak dikenal memboyong televisi dan berpapasan dengan mas rio, lantas orang itu bilang bahwa ia disuruh yang punya untuk membwanya , mas rio jawab "lah saya yang punya kok mas" langsung mas rio rebut tv itu dan membopongnya ke mobil mba lin. saya ingat putri dan fya berdoa bersama sama agar rumah tidak kena api. I just realize that their pray is come by their heart, so God help us so much. Sekitar pukull 5 atau 6 akhirnya api berhasil padam, saya nekat mendatangi lokasi karena saya harus mengikuti try out kala itu. Syukurlah rumah tidak terkena apa. Bahkan menjadi rumah terakhir yang selamat. Kalau saja api tidak menyambar tandon air mba lin, mungkin rumah sudah hangus. Untungnya api menyambar tandon berisi air yang lantas malah memadamkannya. Saya jadi orang pertama yang masuk ke dalam rumah pagi itu, keadaan rumah seperti rumah hantu. Asap di mana-mana , bahkan saya bisa melihat pemadam kebakaran dari balkon kamar. Sementara pakde dan bude serta mas rio memnguti barang-barang yang tersebar di saentero kawasan rumah hehe. Keadaan saat itu benar-benar horor. Saya keluar rumah dengan perasaan aneh karena di saat semua orang meratapi nasibnya, saya malah pakai baju sekolah sendiri.
Setelah itu banyak didirikan posko-posko untuk korban kebakaran. Dan wilayah bekas kebakaran swegera saja jadi ladang emas bagi para pemulung. Tempat ini bahkan sudah seperti tempat wisata, banyak orang yang menyaksikan dan berdecak kagum ketika melihat rumah kami sebagai satu-satunya rumah yang berhasil lolos. Menurut info, sebanyak 182 rumah menjadi korban keganasan api malam itu. Sejak saat itu, saya suka takutt sendiri kalau mendengar bunyi-bunyi aneh. Bahkan pernah saya tidak pernah tidur hanya gara-gara udara mendadak panas, dan saya pikir setelah itu akan ada orang berteriak2 kebakaran, namun ternyata tidak :p.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

No comments :

Post a Comment