Sudah lama dan banyak ku berpikir. Sampai pada ujung ku yang terlalu jauh tuk menaruh harap
Sudah seharusnya pungguk tak merindukan bulan. Lalu mengapa masih kau lakukan? Dasar tak tahu diri
Kau ini apa. Hanya desir angin malam yang terlewat. Yang terasa ketika sunyi senyap dan sendiri
Bahkan kau ditertawakan oleh sang burung malam. Ah, dasar angin yang malang. Lebih baik kau enyah saja
Kalau saja kupunya remote kehidupan. Batin si angin. Tentu sudah kusiar acara yang ramai. Meramai hati yang sepi
Aku ini sudah enyah. Enyah dari mereka yang terpatri disibuk dunia. Atau menyibuk di dunia. Entahlah. Yang jelas ku tiada, kata si angin
Kosong. Seperti menggapai asa yang hampa. Seperti menunggu ramai di pekat hutan.
No comments :
Post a Comment