Friday, 9 June 2017

Asa si Angin Malam

Sudah lama dan banyak ku berpikir. Sampai pada ujung ku yang terlalu jauh tuk menaruh harap

Sudah seharusnya pungguk tak merindukan bulan. Lalu mengapa masih kau lakukan? Dasar tak tahu diri

Kau ini apa. Hanya desir angin malam yang terlewat. Yang terasa ketika sunyi senyap dan sendiri

Bahkan kau ditertawakan oleh sang burung malam. Ah, dasar angin yang malang. Lebih baik kau enyah saja

Kalau saja kupunya remote kehidupan. Batin si angin. Tentu sudah kusiar acara yang ramai. Meramai hati yang sepi

Aku ini sudah enyah. Enyah dari mereka yang terpatri disibuk dunia. Atau menyibuk di dunia. Entahlah. Yang jelas ku tiada, kata si angin

Kosong. Seperti menggapai asa yang hampa. Seperti menunggu ramai di pekat hutan.

No comments :

Post a Comment