Wednesday, 8 February 2017

Skripsiku Sayang

I do not know what i am going to write.

        Saya sedang berjibaku dengan halaman-halaman course grid ketika tiba-tiba saja saya merasa muak dengan apa yang ada di hadapan saya. Padahal belum satu jam saya membuka folder dengan sebelumnya mengumpulkan niat selama hampir 12 jam hanya untuk menyentuh tombol power pada my sexy white. 
      Kalau saja berteriak tidak akan membuat saya menjadi tontonan atau perhatian di rumah ini, tentu sudah saya lakukan jauh-jauh hari, atau setiap kali saya merasa muak dengan apa yang sedang saya kerjakan.
     Ya, menjadi seorang mahasiswa tingkat akhir memang tidak mudah. well, setidaknya untuk saya. i am not gonna judge ya. Tapi saya yakin hampir semua mahasiswa seperti saya akan mengaminkan hal ini. Bahwa kami sebagai mahasiswa tingkat akhir, tentu ingin sekali  dapat dengan mudah melalui revisi demi revisi dan lalu ujian tanpa hambatan, serta di wisuda tepat waktu. Siapa yang tidak ingin? Namun, lagi-lagi manusia hanyalah bisa berencana. 
   Setiap perjalanan skripsi pasti mengalami masa-masa suram. Seperti ketika tidak terbersit sedikitpun di benak anda untuk menyentuh folder skripsi, dan malah membuka folder lainnya seperti film, atau malah larut dalam browsing berita tak tentu. guilty pleasure. Ada kalanya folder itu teronggok berminggu-minggu, bahkan berbulan, bukan, bukan karena hasrat ingin lulus itu memudar, tapi hasrat mengerjakan nya yang memudar. Ada ketakutan-ketakutan seperti tak ingin mendapat banyak coretan, malas bertemu dosen pembimbing, mual membayangkan ujian sendiri setelah melihat ujian sejawat, atau sedangkal anda yang tak ingin mengakhiri masa kuliah, untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Ada juga yang tiba-tiba alergi mendengar kata"skripsi". Seakan seluruh dunia berputar dan ia turut di dalamnya sehingga ia lupa kembali untuk menunaikan kewajibannya nyekripsi. Ada pula yang depresi mendengar kata skripsi, atau mendengar beberapa teman telah ujian, seketika mengamuk dan hilang arah (plis deh), atau sesepele anda yang tak ingin kehilangan momen bersama teman-teman anda yang tentu akan sangat sulit didapat setelah anda lulus dan memiliki jalan masing-masing. Terlalu takut untuk melangkah. Once more, i am not judging ya. 
     Anda mungkin pernah mendengar istilah rock bottom  yang dalam bahasa Indonesia berarti titik terendah. Kalau boleh saya katakan, mungkin inilah yang terjadi pada kebanyakan mahasiswa tingkat akhir. terutama yang imannya sering goyah untuk nyekripsi haha. Padahal, yang mereka butuhkan hanyalah semangat, dari orang-orang terdekat terutama. Kenapa orang-orang terdekat? Karena kalau mereka mampu menyemangati dirinya sendiri, tentu sudah jauh-jauh hari ia selesaikan itu skripsi. Saya akui terkadang saya merasa sekitar saya banyak menuntut saya untuk segera menyelesaikan dan blabla ceramah sepanjang jalan Solo-Jogja, tanpa pernah mencoba mendukung atau sekedar menyemangati. atau sekedar bertanya "apa yang bisa saya lakukan untuk membantu kamu semangat mengerjakannya?" atau kalau yang punya pacar, sekedar menemani atau membawakan terang bulan red velvet rasa nutella ketika si pacar sedang bergelut dengan skripsinya. Atau tiba-tiba anda hadir di depan pintunya dengan sebuket bunga kesukaannya, atau membawakan ia barang seperti bingkai foto berisikan foto anda berdua, sembari berkata "kalau kamu sedang lelah, ingat aku yang akan selalu ada buat kamu blabla " atau sekedar quote-quote penyemangat lainnya. gak mau kan, jadi amukan pacarnya yang udah badmood, jadi tambah badmood karena menurut dia anda tidak mengerti keadaanya. wkwkkw ini kok saya jadi kayak konsultan percintaan. skip skip. 
        Terdengar manja ya, tapi kalau tidak manja tidak akan pernah ada niatan untuk selesai. Mereka hanya butuh dukungan, semangat, perhatian, dan satu lagi, mereka perlu berada di lingkungan yang postitif, lingkungan yang mana mendukung ia untuk terus melakukan sesuatu dengan skripsinya. entah itu berkumpul dengan sesama teman yang memiliki dosen pembimbing sama, atau sekedar sharing perkembangan skripsi masing-masing. Tapi tidak untuk didepresikan ya, hasil sharing nya (you know what i mean). 
     Namun yang lebih penting dari segala bentuk dukungan di atas adalah, kesadaran diri. kesadaran untuk segera menyelesaikan, kesadaran untuk tidak menunda-nundanya dengan melakukan hal lain yang tidak penting seperti nonton film, video musik, jalan-jalan, dll (well, untuk saat ini dua hal itu saya ganti statusnya menjadi tidak penting). Muak dan lelah itu pasti ada, hanya tinggal kamu saja yang harus pintar-pintar menyiasatinya. Kalau saya, saat saya lelah skirpsian, saya akan masak.  iya masak, hahaha seorang saya masak! Kenapa? well, beberapa waktu lalu saya memilih untuk menonton film atau sekedar browsing internet, baca seselambe di instagram, dll. Bagi saya, hal tersebut memang menghilangkan penat, namun sulit bagi saya untuk menghentikan kegiatan-kegiatan ini. dan saya sadar ini tidak boleh terjadi terus menerus. jadi, saya memutuskan untuk mengalihkan perhatian saya dari hal-hal tersebut, kepada memasak. wkwk yaaa memasak ala-ala mbuh enak ora. yang penting saya tidak ingat dengan film dll itu.  Lagian, dengan masak kan kita jadi bisa sekalian melatih skill keistriablean hahaha. Itu kalau muaknya siang-siang ya. Kalau malam gimana? ya tidur. Kamu ingin cepat selesai itu bagus, namun bukan berarti kamu harus mengabaikan diri kamu. dengarkan diri kamu. ketika ia lelah, beristirahatlah. ya boleh baca seselambe sebentar sebelum tidur, tapi maksimal satu jam saja (kalau saya). 
     Hahahahaha sudah dulu deh, saya makin ngelantur nanti. tuh kan, nulis beginian mah ga kerasa udah banyak banget. giliran nulis skripsi baru semenit rasa setaun hiks. 


Good night all.
      
   

No comments :

Post a Comment