Friday, 21 September 2012

Let Me (not) Be The One

Jika ku bukan orangnya jangan beri aku harapan itu
Yang ku mau, jika ku bukan orangnya jangan pernah katakan sayang dan cinta...
Lemme be the one.. let me be the one..
Lagu itu mengalun sendu dari speaker Wita. Entah mengapa playlistnya hari ini seakan mengerti betul isi hatinya. Valdy. Pria yang selama dua tahun terakhir ini selalu menghiasi pikiran Wita. Selalu ada di dalam hati Wita walaupun entah bagaimana Valdy. Wita ingat bagaimana malam takbiran kala itu, saat dimana semua orang merayakan hari kemenangan yang tinggal beberapa jam saja. Berubah menjadi sebuah malam yang membuatnya pertama kali merasakan arti sesungguhnya galau. Waktu itu ia sedang berkirim pesan dengan Winda. Menanyakan bagaimana dengan reuni SMP yang diadakan siangnya. Wita tak bisa datang karena ia sedang berada di rumah eyangnya.
“Win, gimana reunian tadi? Seru?”
“seru jeng, lebih seru yang kedua ini loh daripada yang kemarin, elu sih ngga dateng”
“yah gimana dong yaaa eyang gue yang kece kangen sama cucunya yang cantik ini hahaha”
“najong lo Ta! , oh iya, tadi Valdy juga dateng”
“oh ya? Gimana dia? Tambah ganteng pasti “
“lagi pada heboh ta, soalnya”
“tell me jeng”
Wita sudah merasa ada sesuatu yang terjadi di reuni itu. entah mengapa saat itu dadanya sesak. Padahal ia sama sekali belum mengetahui apa yang hendak Winda katakan.
“lagi pada heboh ternyata Valdy sama Nia udah jadian since 2y ago jeng”
“haahhaha iya ya jeng? Gue udah curiga sih emang”
Wita tak membalas pesan Winda selanjutnya. Apa yang ia takutkan terjadi sudah. Kenapa ia harus repot2 memikirkan Valdy sedemikian lamanya sedangkan Valdy sama sekali tak pernah memikirkannya. Wita merasa beruntung tak Tuhan ijinkan untuk datang ke reuni itu. sekarang saja dadanya sesak. Ingin ia berteriak ditengah hingar bingar merdu suara takbir. Tangisnya pecah di sudut kamar. Belum pernah ia merasa serapuh ini. wita menangis sesenggukan ketika akhirnya handphonenya berdering. Telepon dari Winda. Winda tau pasti Wita sedih dan terpukul atas kejadian ini. biar bagaimanapun ia tau bahwa cinta Wita kepada Valdy begitu tulus.
“halo jeng”
“Ta, log gapapa kan? Sorry ya gue ga ber..”
“iya win, gue gapapa, udah bisa gue tebak sih jeng emang”
“jeng gue jadi ga enak, buat mastiin lo telpon deh si Valdy”
“iya jeng nanti, gue mau sendiri jeng”
“oke Ta, gue turut sedih ya , call me if you need me”
Setelah menutup percakapan dengan Winda, tak lama kemudian ada satu sms masuk  dari Valdy ternyata.
“Selamat idul fitri Wita J
Wita sungguh ingin membanting handphonenya saat itu juga. Tapi ia lantas membalas pesan Valdy.
“ Iya sama-sama”
“Lagi apa Wit”
“Sana sih sama pacar kamu aja Val, ntar dia nyariin”
Wita ingin memastikan apakah benar Valdy sudah jadian dengan Nia. 5menit kemudian handponenya kembali bergetar.
“dia lagi sibuk bantuin ortunya masak”
Ya. Berakhirlah penantian Wita selama ini. berakhirlah segala penantian bodoh Wita , yang selalu menganggap istimewa segala bentuk pesan Valdy, segala haal tentang Valdy.
Segala cerita tentang Valdy harus ia kubur dalam-dalam di tengah hingarbingar suara takbir, di tengah kegalauan yang melanda , ia harus terus melanjutkan hidupnya.

No comments :

Post a Comment