Jika ku bukan orangnya jangan beri aku harapan itu
Yang ku mau, jika ku bukan orangnya jangan pernah katakan
sayang dan cinta...
Lemme be the one.. let me be the one..
Lagu itu mengalun sendu dari speaker Wita. Entah mengapa
playlistnya hari ini seakan mengerti betul isi hatinya. Valdy. Pria yang selama
dua tahun terakhir ini selalu menghiasi pikiran Wita. Selalu ada di dalam hati
Wita walaupun entah bagaimana Valdy. Wita ingat bagaimana malam takbiran kala
itu, saat dimana semua orang merayakan hari kemenangan yang tinggal beberapa
jam saja. Berubah menjadi sebuah malam yang membuatnya pertama kali merasakan
arti sesungguhnya galau. Waktu itu ia sedang berkirim pesan dengan Winda. Menanyakan
bagaimana dengan reuni SMP yang diadakan siangnya. Wita tak bisa datang karena
ia sedang berada di rumah eyangnya.
“Win, gimana reunian tadi? Seru?”
“seru jeng, lebih seru yang kedua ini loh daripada yang
kemarin, elu sih ngga dateng”
“yah gimana dong yaaa eyang gue yang kece kangen sama
cucunya yang cantik ini hahaha”
“najong lo Ta! , oh iya, tadi Valdy juga dateng”
“oh ya? Gimana dia? Tambah ganteng pasti “
“lagi pada heboh ta, soalnya”
“tell me jeng”
Wita sudah merasa ada sesuatu yang terjadi di reuni itu.
entah mengapa saat itu dadanya sesak. Padahal ia sama sekali belum mengetahui
apa yang hendak Winda katakan.
“lagi pada heboh ternyata Valdy sama Nia udah jadian since
2y ago jeng”
“haahhaha iya ya jeng? Gue udah curiga sih emang”
Wita tak membalas pesan Winda selanjutnya. Apa yang ia
takutkan terjadi sudah. Kenapa ia harus repot2 memikirkan Valdy sedemikian
lamanya sedangkan Valdy sama sekali tak pernah memikirkannya. Wita merasa
beruntung tak Tuhan ijinkan untuk datang ke reuni itu. sekarang saja dadanya
sesak. Ingin ia berteriak ditengah hingar bingar merdu suara takbir. Tangisnya pecah
di sudut kamar. Belum pernah ia merasa serapuh ini. wita menangis sesenggukan
ketika akhirnya handphonenya berdering. Telepon dari Winda. Winda tau pasti
Wita sedih dan terpukul atas kejadian ini. biar bagaimanapun ia tau bahwa cinta
Wita kepada Valdy begitu tulus.
“halo jeng”
“Ta, log gapapa kan? Sorry ya gue ga ber..”
“iya win, gue gapapa, udah bisa gue tebak sih jeng emang”
“jeng gue jadi ga enak, buat mastiin lo telpon deh si Valdy”
“iya jeng nanti, gue mau sendiri jeng”
“oke Ta, gue turut sedih ya , call me if you need me”
Setelah menutup percakapan dengan Winda, tak lama kemudian ada
satu sms masuk dari Valdy ternyata.
“Selamat idul fitri Wita J
“
Wita sungguh ingin membanting handphonenya saat itu juga. Tapi
ia lantas membalas pesan Valdy.
“ Iya sama-sama”
“Lagi apa Wit”
“Sana sih sama pacar kamu aja Val, ntar dia nyariin”
Wita ingin memastikan apakah benar Valdy sudah jadian dengan
Nia. 5menit kemudian handponenya kembali bergetar.
“dia lagi sibuk bantuin ortunya masak”
Ya. Berakhirlah penantian Wita selama ini. berakhirlah
segala penantian bodoh Wita , yang selalu menganggap istimewa segala bentuk
pesan Valdy, segala haal tentang Valdy.
Segala cerita tentang Valdy harus ia kubur dalam-dalam di
tengah hingarbingar suara takbir, di tengah kegalauan yang melanda , ia harus
terus melanjutkan hidupnya.
No comments :
Post a Comment